Never Erase Your Dream

akhir akhir ini gua sering menelaah kembali, soal mimpi-mimpi yang terus gua korelasikan dengan kemampuan diri. πŸ™‚ karna pikiran-pikiran itu, tak jarang nyali menjadi ciut, mimpi menjadi kabut, hati menjadi kalut. πŸ˜›

gua dan sangmimpi. Jujur gua adalah seorang pemimpi kelas ulung. Sejak gua menemukan fakta bahwa mimpi adalah cita-cita yang bertanggal, gua jadi semangat bermimpi. Apalagi sejak tahu ada seorang manusia bernama Andrea Hirata, mampu mewujudkan mimpinya -mimpi luar biasanya-. Gua jadi semakin berfikir bahwa gua harus punya mimpi!!! Semangat bermimpi juga semakin berapi-api gua rasakan ketika mendegar sebuah hadist -tapi lupa siapa yang meriwayatkan- hadist nya kirakira gini : “Jika kamu ingin bermimpi, bermimpilah surga Firdaus yang tertinggi”. πŸ˜€

If you were me, what will you do with all those things u have read?? Gua yang masih labil saat itu-14 y.o girl in Junior High School- menjadi sangat berapi-api untuk bermimpi, untuk menjadi sesuatu yang besar, untuk menjadi extraordinary girl, untuk shining.

Satu dari sekian banyak mimpi yang aku punya adalah jalan-jalan keluar negri dengan cara apapun :), waktu itu sih udah pernah ke Sabah, but that is Sabah in North Borneo.. even its one of Malaysian territory, but its not quite looked like luar negri you know πŸ˜› so, jadinyalah untuk mewujudkan mimpi yang sebelumnya maka gua bermimpi lagi, mimpinya adalah dapat beasiswa keluar negri.

Saat itu gua masih kelas 3SMP, rasanya mungkin agak mustahil yaa.. gua yang bersekolah di SMP kecil yang pada waktu itu masih belum berstandar nasional, gua yang hidup dari keluarga yang berkecukupan nanmun tidak berlebihan, gua yang cukup manis tapi tidak cantik gimana bisa ke luar negeri,.

Sang mimpi besar, membuat gua membuat mimpi mimpi lain, membuat gua pengen ini itu. Pengen masuk SMA favoritlah, pengen nulis bukulah, pengen ikut macam macam lomba. Eh, the miracle, not the miracle i think but sebuah kebaikan atas ketangguhan mimpi dan perbuatan baik dan usaha yang kita lakukan. Gua masuk SMA favorit, whew kalau diceritain detailnya panjang deh, ntar deh gua ceritain. πŸ˜‰

Setelah itu gimana gua ga tambah pede coba buat bermimpi, entahlah what did i do? Sehingga Allah memberikan nikmat yang luar biasa mewujudkan setiap mimpi yang ada, walaupun memang mustahil jalan ada yang lurus πŸ™‚ tapi rasanya kesyukuran begitu membahana disetiap jalan hidup. Rasanya mimpi-mimpi itu memang diciptakan untuk diwujudkan, aku ikut sebuah lomba bergengsi, aku ke luar pulau untuk pertama kalinya, walaupun tidak menang, tapi bayangin coba aku ke jakarta karna ikut lomba. Subhanallah,.. huhuuhuu subhanallah

Eh, kok setelah mengenang sedikit mimpi itu gua kok jadi semangat bermimpi kembali yah?? Wah, ini nih yang namanya The Power of Kenangan *emang ada yah??

Mungkin memang bermimpi adalah sebuah interpretasi-apaan sih- sebuah cara untuk menghadirkan kesyukuran atas segala potensi yang pernah Allah berikan. Mimpi menjadikan ketika sebagai pejuang. Sehingga, mungkin wajar beberapa jam yang lalu nyali gua sempat ciut, karena memandang orang-orang yang sudah sukses menggapai mimpinya sebelum gua. Tapi, sedari sekarang, gua harus bangkit, karna gua tau gua punya potensi, dan potensi ga bakalan bisa berkembang kecuali gua sendiri yang ngembangin.

Stop befikir tentang orang lain, pun itu adalah orang yang sudah mewujudkan mimpinya -gua juga bisa kok- *eh kok jadinya PD banget 😦 πŸ˜› 😦 ini bukan sombong tapi menyemangati diri ;)* . Stop memberi perhatian pada orang yang ga punya mimpi- atau orang yang mimpinya kecil- sehingga mereka memandang sebelah mata atas mimpi mimpi besar yang sudah ada. Ini sekarang cuma ada kamu dan mimpimu.

Never erase you dreams!! Karna kamu tau meskipun kamu sudah jatuh -karna tingginya mimpimu dan hampir ga bisa bangkit lagi, kamu masih punya satu kekuatan . Satu kekuatan tapi dengan unlimited power. Kekuatan Tuhan.

Never erase your dreams!! Karna mimpi itu kamu buat untuk diri kamu sendiri. Dan dia juga menciptakan mimpi itu eksklusif untuk kamu… untuk kamu wujudkan

Never erase your dreams just focus to make it real!!!! πŸ™‚

Advertisements

“Press but not Pressure”

Anak-anak…

Hehhe 17 tahun ngomongin anak, ketahuan deh tua sebelum waktunya-that’s what general person think- but im totally proud to be mature in my sweet seventeen year old live. Tapi gue ga ngerasa mature-mature banget kok. Soalnyah, gue masih belum menghasilkan apa-apa, karena definisi kedewasaan acc to my dictionary is …… *eh kok jadi ngomongin kedewasaan sih, kan ini bahasan tentang anak-anak πŸ˜›

Jujur kalau liat balita seringnya gue manggil mereka “Nak,,,” bukan “Dek..” mungkin itu karena naluri keibuan yang menadir :P. Dan gue bangga akan itu, jujur gue bangga pada hatiku yang menjunjung tinggi semangat keibuan-semangat menjadi ibu dalam kasusku- karena seperti -yang tercinta- Rasulullah SAW isyaratkan dalam kesehariannya bahwasanya ibu adalah greatest human being that ever live kan.

Pernah baca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” karya Ustadz Salim A. Fillah ga?? Kalau udah pernah baca pasti tau deh kenapa gue mupeng banget jadi ibu, yap that’s because the only way to make angel jealous to us -woman – is being good and sholehah mother. So, dari titik itulah gua concern sekali sama yang namanya hal-hal keibuan, seperti ngurusin pekerjaan rumah, mencari suami yang tepat *:P , dan belajar tentang anak πŸ˜›

Anak-anak, kalian tau kan betapa spesialnya anak-anak,awal masa mereka tumbuh dan berkembang aja disebut “Golden Age”. Mungkin beberapa dari fellas semua baru saja atau masih terkenang sama masa kanak-kanak. Simple thing about them maybe is they r just like clays.This thing isnt just a thing, its totally crusial if we understand it. Pernah kan yah, fellas berfikir, kalau udah dewasa -a.k.a sebentar lagi- gua akan didik anak gua g sama seperti ortu gua didik gua, atau malah sebaliknya.

Cara mendidik anak, gua baru menyadari betapa susahnya menetukan pilihan cara dan bahkan menjalaninya jauh lebih susah. Kemaren gua sempat ngobrol ama housemate gua, seorang Phd muda berumur middle 30, yang punya dua anak cewek cowok, yang cewek 9 tahun-an yang cowok 3 tahun. Disitu gua menggali, bahwa learning by doing itu adalah such the best learning, baca teori aja g bakal cukup, teori terlalu general untuk kehidupan yang amat indah dengan segala kerumitan dalam setiap detailnya.

Ada dua pemikiran yang came up dari diskusi kami, mendidik anak dengan cara ditekan atau tidak. Berawal dari kehidupan kami sebagai sang sulung, yang have to be the best so that the lil brothers and sister can take example from us. Bagi kami pada saat itu, kami merasa ditekan, yap there were so much pressure on us. But look at the result, we achieve a lot of things. Jadi kami ga bisa melupakan bahwa tekananlah yang buat kami seperti ini, membuat kami mempunyai mimpi, menjadikan kami tangguh, membuat kami semangat untuk melakukan lompatan lompatan dalam hidup kami *Jazakumullahu to our parents*

Dan bukan cuma kami, banyak anak-anak yang karena disiplin, dan kerasnya pendidikan orang tua membuat mereka survive to do lots of great thing,, dan kalaupun pressure datang bukan dari sistem orang tua, banyak pressure lain seperti masalah ekonomi, masalah kepribadian, etc tapi tetap sang pressure membuat orang-orang yang biasa menjadi luar biasa. Hukumnya seperti pegas, kalau di tekan akan meregang lebih jauh lebih banyak dari ukuran semula. Walaupun kita tidak bisa memungkiri peregangan itu bisa menjurus ke hal yang baik dan yang buruk juga.

Dan mungkin karena adanya hasil peregangan yang buruk juga, makanya banyak yang tidak setuju dengan pendidikan yang menerapkan tekanan yang keras. In my opinion sih, kurangnya dari sistem ini adalah sedikitnya keikhlasan pada anak dalam mengerjakan sesuatu hal, karna anak kurang memahami, tujuan dan pentingnya suatu tindakan. apalagi yang berhubungan dengan kebiasaan, ketika sistem “keras” yang diberikan pada anak, maka kebiasaan akan menjadi hal yang anak benci, atau paling tidak anak akan merasa terpaksa, menggerutu dalam setiap sikap, dan kebiasaan pun tidak bisa dilakukan maksimal. Dan ketika orang tua tidak ada, maka kebiasaan yang sudah diajarkan cenderung tidak dilakukan karna anak tidak memahami esensinya. *sedih kan yah

Beda halnya dengan sistem tanpa tekanan yang diterapkan. Sistem ini, menurut gua adalah sebuah sistem yang awalnya menunjukkan rasa cinta kepada sang anak, sehingga anak tumbuh cintanya kepada orang tua. Rasa cinta bisa ditunjukkan dalam kelembutan memberi perintah, dalam ketegasan tanpa marah, dalam perlahan saat memberi pengertian, juga dalam keindahan saat memberika reward dan punishment. Sehingga hasil yang diharapkan akan didapatkan adalah anak melakukan setiap tindakan
dengan sikap sadar akan pentingnya tindakan tersebut dan akan ikhlas menjalani semuanya didasarkan cintanya pada dirinya, orang tua, dan Tuhannya.

Namun, terkadang timbul kekhawatiran ketika menggunakan sistem, anak takutnya dianggap terlalu lemah, tidak imun terhadap serangan, manja deh intinya. Tapi, gua sendiri merasa, kemanjaan itu tidak akan terjadi ketika porsi cinta yang diberikan sudah pas, tidak berlebihan. Karna sistem tanpa tekanan yang gua maksudkan diatas menitikberatkan kepada pemberian cinta dalam setiap tindakan orang tua kepada anak bukan mencintai setiap tindakan anak.

Cinta yang diberikan harus ditunjukkan namun tidak dalam porsi yang kurang atau pun berlebih. Everything have to be tawazun *a.k.a seimbang. Ketika cinta yang ditunjukkan kurang, maka anak cenderung melihat orang tua menetapkan sistem keras, sehinnga mereka takut untuk bercerita dan bercengkrama, seolah semua ada batasan yang tingggiiiii atas anak dan orang tua. Begitu juga sebaliknya ketika cinta orang tua pada anak ditunjukkan dalam porsi yang berlebih maka, mereka akan berfikir tidak ada batasan dirinya dan orang tua. Padahal salah satu fitrah diri orang tua adalah merasa dihormati, bukan??

Keseimbangan, ah disegala aspek hidup mana pun ketika keseimbangan diterapkan akan menjadi kesinambungan yang mengindahkan kann πŸ˜‰ Sehingga tertariklah sebuah kesimpulan, akan diskusi kami *karena hari mau hujan dan harus angkat cucian cepat cepat πŸ˜›

Kesimpulan itu adalah, menerapkan sebuah sistem seimbang, sebuah win-win solution yang kami sebut “Press but not Pressure”. Dimana PRESS bagi kami berarti menekan dengan perlahan-seperti mendorng- dan pressure adalah tekanan keras yang bersifat memaksa. Teori ini kami pikirkan untuk digunakan, karena kembali seperti tanah liat, tanah liat jika diberikan “pressure” atas nya akan rusak jikapun berbentuk maka ada yang cacat akan ada yang retak, namun jika tanah liat kita berikan “press” yang pas maka hasilnya akan indah mendekati kesempurnaan walaupun memang dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan teknik yang mendetail.

:)Thanks to Uni atas ajakan tema diskusi yang luar biasa,. ini pemikiranku,, menurut kalian gimana fellas??

Biarkan semua berakhir lewat pena

Ungkap dalam jelma
Batas yang kerap membelenggu
Visual yang terkadang bisu
Lidah yang cenderung kelu

Singkap lewat jiwa
Karna detik tak mungkin tertangkap
Sebab ruas sering terlewat
Dan deru nafas kerap menyimpang

Lewat pena
Semua berjaya lepas
Tanpa ada batasan
Menembus ruang

Menulislah
Karna lewat pena
Sekedar bukanlah kata
Tidak mungkin bukanlah sikap

Menulislah
Biarkan semua menjadi luarbiasa
Entah imajinasi entah fakta
Namun semua luarbiasa
Ketika berakhir dengan pena

*dalam semangat kepenulisanku*