“Press but not Pressure”

Anak-anak…

Hehhe 17 tahun ngomongin anak, ketahuan deh tua sebelum waktunya-that’s what general person think- but im totally proud to be mature in my sweet seventeen year old live. Tapi gue ga ngerasa mature-mature banget kok. Soalnyah, gue masih belum menghasilkan apa-apa, karena definisi kedewasaan acc to my dictionary is …… *eh kok jadi ngomongin kedewasaan sih, kan ini bahasan tentang anak-anak πŸ˜›

Jujur kalau liat balita seringnya gue manggil mereka “Nak,,,” bukan “Dek..” mungkin itu karena naluri keibuan yang menadir :P. Dan gue bangga akan itu, jujur gue bangga pada hatiku yang menjunjung tinggi semangat keibuan-semangat menjadi ibu dalam kasusku- karena seperti -yang tercinta- Rasulullah SAW isyaratkan dalam kesehariannya bahwasanya ibu adalah greatest human being that ever live kan.

Pernah baca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” karya Ustadz Salim A. Fillah ga?? Kalau udah pernah baca pasti tau deh kenapa gue mupeng banget jadi ibu, yap that’s because the only way to make angel jealous to us -woman – is being good and sholehah mother. So, dari titik itulah gua concern sekali sama yang namanya hal-hal keibuan, seperti ngurusin pekerjaan rumah, mencari suami yang tepat *:P , dan belajar tentang anak πŸ˜›

Anak-anak, kalian tau kan betapa spesialnya anak-anak,awal masa mereka tumbuh dan berkembang aja disebut “Golden Age”. Mungkin beberapa dari fellas semua baru saja atau masih terkenang sama masa kanak-kanak. Simple thing about them maybe is they r just like clays.This thing isnt just a thing, its totally crusial if we understand it. Pernah kan yah, fellas berfikir, kalau udah dewasa -a.k.a sebentar lagi- gua akan didik anak gua g sama seperti ortu gua didik gua, atau malah sebaliknya.

Cara mendidik anak, gua baru menyadari betapa susahnya menetukan pilihan cara dan bahkan menjalaninya jauh lebih susah. Kemaren gua sempat ngobrol ama housemate gua, seorang Phd muda berumur middle 30, yang punya dua anak cewek cowok, yang cewek 9 tahun-an yang cowok 3 tahun. Disitu gua menggali, bahwa learning by doing itu adalah such the best learning, baca teori aja g bakal cukup, teori terlalu general untuk kehidupan yang amat indah dengan segala kerumitan dalam setiap detailnya.

Ada dua pemikiran yang came up dari diskusi kami, mendidik anak dengan cara ditekan atau tidak. Berawal dari kehidupan kami sebagai sang sulung, yang have to be the best so that the lil brothers and sister can take example from us. Bagi kami pada saat itu, kami merasa ditekan, yap there were so much pressure on us. But look at the result, we achieve a lot of things. Jadi kami ga bisa melupakan bahwa tekananlah yang buat kami seperti ini, membuat kami mempunyai mimpi, menjadikan kami tangguh, membuat kami semangat untuk melakukan lompatan lompatan dalam hidup kami *Jazakumullahu to our parents*

Dan bukan cuma kami, banyak anak-anak yang karena disiplin, dan kerasnya pendidikan orang tua membuat mereka survive to do lots of great thing,, dan kalaupun pressure datang bukan dari sistem orang tua, banyak pressure lain seperti masalah ekonomi, masalah kepribadian, etc tapi tetap sang pressure membuat orang-orang yang biasa menjadi luar biasa. Hukumnya seperti pegas, kalau di tekan akan meregang lebih jauh lebih banyak dari ukuran semula. Walaupun kita tidak bisa memungkiri peregangan itu bisa menjurus ke hal yang baik dan yang buruk juga.

Dan mungkin karena adanya hasil peregangan yang buruk juga, makanya banyak yang tidak setuju dengan pendidikan yang menerapkan tekanan yang keras. In my opinion sih, kurangnya dari sistem ini adalah sedikitnya keikhlasan pada anak dalam mengerjakan sesuatu hal, karna anak kurang memahami, tujuan dan pentingnya suatu tindakan. apalagi yang berhubungan dengan kebiasaan, ketika sistem “keras” yang diberikan pada anak, maka kebiasaan akan menjadi hal yang anak benci, atau paling tidak anak akan merasa terpaksa, menggerutu dalam setiap sikap, dan kebiasaan pun tidak bisa dilakukan maksimal. Dan ketika orang tua tidak ada, maka kebiasaan yang sudah diajarkan cenderung tidak dilakukan karna anak tidak memahami esensinya. *sedih kan yah

Beda halnya dengan sistem tanpa tekanan yang diterapkan. Sistem ini, menurut gua adalah sebuah sistem yang awalnya menunjukkan rasa cinta kepada sang anak, sehingga anak tumbuh cintanya kepada orang tua. Rasa cinta bisa ditunjukkan dalam kelembutan memberi perintah, dalam ketegasan tanpa marah, dalam perlahan saat memberi pengertian, juga dalam keindahan saat memberika reward dan punishment. Sehingga hasil yang diharapkan akan didapatkan adalah anak melakukan setiap tindakan
dengan sikap sadar akan pentingnya tindakan tersebut dan akan ikhlas menjalani semuanya didasarkan cintanya pada dirinya, orang tua, dan Tuhannya.

Namun, terkadang timbul kekhawatiran ketika menggunakan sistem, anak takutnya dianggap terlalu lemah, tidak imun terhadap serangan, manja deh intinya. Tapi, gua sendiri merasa, kemanjaan itu tidak akan terjadi ketika porsi cinta yang diberikan sudah pas, tidak berlebihan. Karna sistem tanpa tekanan yang gua maksudkan diatas menitikberatkan kepada pemberian cinta dalam setiap tindakan orang tua kepada anak bukan mencintai setiap tindakan anak.

Cinta yang diberikan harus ditunjukkan namun tidak dalam porsi yang kurang atau pun berlebih. Everything have to be tawazun *a.k.a seimbang. Ketika cinta yang ditunjukkan kurang, maka anak cenderung melihat orang tua menetapkan sistem keras, sehinnga mereka takut untuk bercerita dan bercengkrama, seolah semua ada batasan yang tingggiiiii atas anak dan orang tua. Begitu juga sebaliknya ketika cinta orang tua pada anak ditunjukkan dalam porsi yang berlebih maka, mereka akan berfikir tidak ada batasan dirinya dan orang tua. Padahal salah satu fitrah diri orang tua adalah merasa dihormati, bukan??

Keseimbangan, ah disegala aspek hidup mana pun ketika keseimbangan diterapkan akan menjadi kesinambungan yang mengindahkan kann πŸ˜‰ Sehingga tertariklah sebuah kesimpulan, akan diskusi kami *karena hari mau hujan dan harus angkat cucian cepat cepat πŸ˜›

Kesimpulan itu adalah, menerapkan sebuah sistem seimbang, sebuah win-win solution yang kami sebut “Press but not Pressure”. Dimana PRESS bagi kami berarti menekan dengan perlahan-seperti mendorng- dan pressure adalah tekanan keras yang bersifat memaksa. Teori ini kami pikirkan untuk digunakan, karena kembali seperti tanah liat, tanah liat jika diberikan “pressure” atas nya akan rusak jikapun berbentuk maka ada yang cacat akan ada yang retak, namun jika tanah liat kita berikan “press” yang pas maka hasilnya akan indah mendekati kesempurnaan walaupun memang dibutuhkan kesabaran, ketelitian, dan teknik yang mendetail.

:)Thanks to Uni atas ajakan tema diskusi yang luar biasa,. ini pemikiranku,, menurut kalian gimana fellas??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s