Cerpen Pertama

Cerpen ini sejarahnya dibuat karna tugas.. Baru saja, menyadari bahwa saya sangat sedikit menulis.. di notes pun tidak sampai banyak kali.. saya jarangg sekali menulis.. padahal katanya Om Tere Liye saja kalau mau belajar menulis, ga usah repot repot minta saran, minta komen, dan hal-hal ga penting lainnya.. cukup kamu dan tulisan kamu selama 6 bulan pertama, bisa tidak kamu menulis seribu kata satu hari tak berhenti dalam 6 bulan itu!!!!

*wah sekarang jadi saya bukan gua lagi heheheh itu tandanya ami jadi sedikit lebih manis dari sebelumnya..

Kembali ke sejarah cerpen ini, cerpen ini dibuat atas dasar penokohan yang sangat melekat, hmmm bahkan dulu sampai sampai saat menulisnya pun nama tokoh mencuat.. ckckckckckc parah.. Dan sekarang, kembali lagi ami mengepost-nya karna setelah membaca tulisan ini ami belajar akan kesederhanaan tema, tapi dengan bumbu yang pas, dan hati yang ikhlas akan jadi sebuah tulisan yang *kata orang loh ya* menggetarkan hati. Sekarang ami makin percaya, “Tak hanya ucapan, tulisan pun jika ditulis melalui hati Insha Allah akan tersampaikan ke hati pula”

Dan inilah cerpen pertama saya..

“ Zi bangun sayang ada tamu !” kata Mama sambil menyentuh lembut dahinya.

Sentuhan lembut Mama membangunkan Zi dari tidur lelapnya. Semenjak tiga hari ini ia sakit. Demamnya tak kunujg sembuh setelah dia menghabiskan dua minggu penuh, untuk mempersiapkan aksi perdana organisasi barunya. Minggu malam setelah pulang dari aksi “ Ukhuwah Pelajar Muslim Samarinda”, suhu badan Zi naik drastis.

“ Siapa ma yang jengukin Zi? “ Tanya Zi keheranan. Seingatnya, semua teman – temannya mlai dari teman sekolah sampai teman dari berbagai organisasinya udah “nyetor muka” buat jenguk Zi.

“Bukan orang sini, akhwat*, sendirian lagi “ kata Mama dengan sok misterius

“ Hah ?? Masa’ sich ma? Siapa? Orang luar Kalimantan?? Masa’ temen Facebook Zu kesini ? Akhwat lagi? Siapa yach ? “

“ Namanya Ain katanya, liat aja sendiri !” kata Mama sambil tersenyum senyum lalu ngeloyor pergi.

“ Gag mungkin ah, Mama ni … “

Karena penasaran Zi lalu mempercepat langkahnya yang masih agak lemas, untuk mengenakan seragam lengkapnya, jilbab, baju, rok, dan kaus kaki. Yap, lengkap sudah. Tak lupa, HP NOKIA kesayangan dibawa serta. Kini, tinggal menemui seseorang misterius di luar sana.

***

“ Astaghfirullah !!!!!!!! “ anehnya hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Zi, ketika melihat sosok ikhwan itu.

“ Dek Azmi ??? “ ucap akhwat yang duduk di sebelah Eza, adik Zi

Zi tak bisa menahan air matanya, di depannya ada seseorang yang telah banyak mempengaruhi hidupnya beberapa bulan terakhir ini. Ainul Mardiyah, seorang yang sering memberikan taujihnya, yang sering bercerita tentang pengalamnnya, juga seorang teman Facebook dari Jakarta, yang kini sudah seperti kakak Zi sendiri, datang ke rumahnya!!

“ Kakak, kok bisa ? “ lagi lagi kata yang tak sewajarya terucap dari bibir Zi.

“ Bisa dong, kok nangis dek ? Kakak udah banyak plan yang mau di lakukan hari ini ! Tadi udah banyak cerita ama ibunya Zi, waktu Zi tidur. Jadi, kakak bakalan ngajak Zi sama Eza jalan hari ini. Kakak juga udah nyewa mobil buat jalan. Bisa kan dek? “ kata Kak Kusnan tanpa ragu.

“ Kok kakak nggak ada cerita sih ? “

“ Sudah cepetan siap – siap mau jalan yach dek… “ jawab Kak Kusnan dengan dengan senyuman

“ Na’am kakak !” kat Zi manyun, masih banyak pertanyyan dalam hatinya. Seolah tak mungkin, rasanya baru tadi malam dia mngirim SMS ke Kak ‘Ain yang ada di Jakarta, dan paginya … Masya Allah

***

Dengan memakai mobil sewaan yang disewa Kak ‘Ain, mereka bertiga berangkat. Di dalam mobil, Zi mencecar Kak ‘Ain dengan berbagai pertanyaan. Tetapi, Kak ‘Ain lebih banyak menjawab dengan senyuman. Hingga, Kak ‘Ain menanyakan arah untuk ke salah satu pasar besar di Samarinda. Zi memilih Pasar Pagi sebagai tempat untuk didatangi. Setelah itu, Kak ‘Ain lebih memilih berbicara dengan Eza.

Di Pasar Pagi, berbagai macam alat tulis, buku dan tas – tas sekolah di beli oleh Kak ‘Ain banyak makanan dipesannya, air mineral, dan kue – kue kering pun tak ketinggalan.

“ Kak, Zi tau kakak mau ngapain ?” kata Zi tiba-tiba saat mereka sedang memilih tas

“Oh y ? Bagus deh kalau gitu.. Berarti Zi pinter…. “ hanya itu Kak ‘Ain menjawabnya

Lalu, lagi – lagi senyuman teruntai di bibirnya, dan setelah itu Kak ‘Ain melanjutkan ceritanya bersama Eza. Sedikit rasa kesal di hati Zi, kenapa Kak ‘Ain bersikap seperti itu? Tapi, karena teralihkan oleh atmosfer sibuknya Pasar Pagi siang itu, Zi lupa tentang masalahnya.

***

Adzan Dzuhur berkumandang di tepan Sungai Mahakam, berbisik lembut di setiap telinga penduduk Samarinda untuk mengajak kepada satu pertemuaan indah bersama Rabb-Nya. Tak terkecuali bagi Zi dan yang lain. Beruntung barang – barang yang ada di AIN’s have to buy ( begitu Kak ‘Ain menyebut daftar belanjaannya) teah dibeli semua. Mereka bertiga lalu berjalan bersama ke Masjid Raya Darussalam yang terletak tak jauh dari Pasar Pagi.

Sisa – sisa cahaya barokah setelah sholat masih menempel di wajah lelah Kak ‘Ain yang datang menghampiri Zi. Lagi, tiba – tiba air mata mengalir di pipi Zi, meihat wajah Kak ‘Ain, seperti melihat seluruh hidup beliau yang lelah dan menyedihkan ditengah kekayaan. Kehilangan bundanya sejak masih kecil, beliau juga mengidap penyakit turunan yang kini sudah dalam tahap komplikasi menggerogoti tubuhnya. Tapi, melihat wajah Kak ‘Ain, juga mengingatkan Zi tentang kesabaran, kedermawanan, dan ketegaran. Senyuman tulusnya saat ia berbincang dengan Eza, persisi sperti senyuman di foto yang Zi lihat di Facebooknya; foto – foto Kak ‘Ain bersama anak anak asuhnya. Kak ‘Ain, kegigihan bisnisnya untuk amal dakwah, keuh kesahnya pada Zi akan sakitnya dan lelahnya ia. Astaghfirullahaladzhim….Tak henti istighfar di ucap Zi, semoga kekaguman ini tak berlebihan.

***
Kak ‘Ain mengajak Zi pergi ke lantai 2 Masjid Raya Darussalam. Subhanallah, disana sudah berbaris rapi kurang lebih 30 anak – anak kurang mampu, mungkin para anak jalanan. Entah bagaimana Kak ‘Ain bisa mengumpulkan mereka. Ketika melihat ke barisan depan adik Zi tersayang yang memimpin barisan. Dibantu 5 anggota IRMA Darussaam, acara sederahana itu berlangsung menyenangkan.

Acara diawali dengan makan bersama, games indoor, dan belajar bersama. Dalam hati Zi berdo’a, dia akan melakukan hal ini bersama teman –temannya lagi. Ada kebahagiaan tersembunyi yang anak – anak itu ajarkan. Entah mungkin tentang syukur ataupun qona’ah. Satu hal yang Zi tahu, sejak hari ini ia ingin terus menerus merasaakn kebahagiaan seperti itu lagi.
Hingga pada akhirnya azan Ashar berkumandang, seraya mengingatkan acara hari ini harus berakhir jua. Kak ‘Ain tersenyum dan menangis. Di sela isaknya satu kalmat yang paling Zi ingat adalah “… Terakhir, kk minta do’anya kepada adik – adik semua, besok umur kakak akan berkurang, kakak ulang tahun besok, jadi mohon do’a nya yang terbaik untuk kakak di hadapan Allah dan semoga kita berkumpul kembai surgaNYa. yah” lalu terdengar anak – anak memekik tulus penuh ikhlas

“ Amiiiieeen, Allahu Akbar !!!”

***
Sebeum tiba di rumah, Kak ‘Ain memberhentikan mobilnya di tepi Masjid Daarunni’mah. Angin tepian sungai menembus dinding masjid, di bawah jembatan layang kami bertiga menyantap es Dawet kami.

“ Kak, kakak kok ulang taunnya besok? Bukannya tanggal 24 ya baru ulang tahun ? IIih kakak bo’ong nih sama adek – adek tadi ! “ kata Zi bermaksud memecah suasana.

“ Liat aja besok, udah yuk pulang!”

Sesampainya di rumah, Mama bersikeras menahan Kak ‘Ain untuk tetap tinggal, sampai besok pagi. Entah kenapa? Tapi, Kak ‘Ain memilih sholat Maghrib di Islamic Centre Samarinda sendirian, seraya berjanji akan datang untuk sholat Isya berjamaah di rumah Zi.

***

“ Bhin, kenapa sich Kak ‘Ain jutek baged ama mb ?” kata Zi kepada adiknya Eza, yang kalau di rumah dipanggil Bindonk.

“ Mana Eza tahu, tapi mb’ Kak ‘Ain aneh, sering nangis. “ kata Eza yang masih duduk di kelas 4 SD itu degan polosnya.

“ Iya kah Za ?” kata Mama tiba – tiba datng menimpali.

“ KAk ‘Ain itu Bhin, punya banyak penyakit, udah parah semua, udah komplikasi. beliau itu gag bisa capek, bisa langsung lemes. Lagipula, ibu beliau udah meninggal sejak beliau masih kecil, di tambah lagi, meskipun usia beliau baru 23 tahun, Kak ‘Ain punya beberapa yayasan yang cukup besar di Jakarta Selatan, Kak ‘Ain juga businesswoman, makanya beliau punya banyak amanah yang dipertanggung jwabkan sama Allah.” jelas Zi panjang lebar

“ Subhanallah “ ucap Mama

“ Yuk, kita masak makan malam yang paling enak malam ini “

***
Sholat Isya ini, tak henti air mata Zi mengalir. Setiap takbir yang diucapkan Kak Pintari, terdengar begitu khusyuk, syahdu, dan memiliki kekuatan dahsyat. Do’a setelah sholat pun terasa begiru indah. Setelah menunggu Bapak dan Eza pulang dari masjid, kami tilawah* bersama.

Saat saling bermaafan, mbak ‘Ain memeluk Zi erat.

“Zi, adikku sayang karena Allah. Maafkan atas segala khilaf yah adikku , hari ini ku ingin membuatmu belajar tak kan ada ‘Ain lagi di inbox HPmu, facebookmu, tak kan ada ‘Ain lagi di duniamu, kini saatnya ‘Ain bertemu RabbMu,.Tapi, ‘Ain ingin mengajarkanmu tentang kebahagiaaan yang ‘Ain rasakan di dunia ini. Kebahagiaan yang akan melawan segala keburukan –keburukan dari syaithan. Zi, saudariku, semoga banyak pelajaran untukmu hari ini. Uhibbuki Fillah. Wassaamualikum Warohmatulah Wabarokatuh. Sampai bertemu di jannahNya, Insya Allah”

***

Belum sempat Zi berkata, bahkan belum sempat ia mengangkat kepalanya dari pundak Kak ‘Ain. Pelukan itu hilang, kini tak lagi ia di ruang tamu rumahnya, tapi walupun begitu Zi masih memakai mukena berenda yang sama, dia mendadak terbangaun dalam kamar pink-nya pukul 02.47 WITA.

“ Alhamdulillah, Cuma mimpi “ gumamnya dalam hati
“ Mimpi yang begitu nyata “

Dum, dum, dum, dum
“ Masya Alah, HP, HP dimana Hp ?”

Ada SMS,,,,,,

Assalamuaikum Warohmatullah,

Innalillahi wa innailaihi raji’un telah meninggal saudari kita tercinta Ainul Mardiyahi pukul 01.00 WIB pagi ini

Moga amal ibadahnya diterima di sisiNya,

From : Mb Puspa
Time : 02.55

“ KAK ‘Ain, I LOVE YOU TOO COZ ALLAH ”

#20 Februari 2010 sekitaran pukul 01.00 WITA#

Semoga manfaatImage 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s