curhat dari sebuah bola mata hitam

Moslem?
Tanya seorang makcik dengan ketus dan sedikit berteriak dalam jalannya melintasi kami. Dan saya cuma bisa senyum.

Ya Rasulullah,yang wajahnya selalu berseri
Aku yakin wajah itu pasti karna senyum yang tak pernah henti
Aku ingin curhat ya Rasulullah…
Disini senyum susah dicari

Bukan untukku, karena dengan jilbab ini senyum itu mudah dibeli
Tapi untuk dia, umatmu yang bermata biru dan berambut coklat

Seragam kaus dan jinsnya memang jauh dari tampang turis
Tapi disini, tetap saja mereka memandang dia adalah outsider
Dia beda, lalu kenapa tak ada senyum manis?
Dia kann juga umatmu, percaya pada Allah dan padamu ya Rasul

Huh, jangankan senyum manis
Adanya malah dia sering disuguhi tatapan tajam
Dari kepala sampai kaki
Bukan Cuma satu detik,
Tatapan itu berlanjut sampai langkahnya kelima

Ya Rasulullah, dalam hela nafasku
Aku mencoba membangkitkan dirimu
Yang gagah tegap tapi tetap membumi
Aku coba menghayatimu jejakmu yang santun
Dan tatapan syahdu penuh arti itu
Ah, sepertinya aku terlalu rindu
Bagaimana tidak rindu?
Kalau mendengar cerita saudaraku….

Uhm…
Saudaraku yang samasama berkulit tan sepertiku dan juga yang agak putih sedikit
Bisakah kita belajar, samasama
Bahwa, Islam itu mendunia
Plis, siapkan diri kamu untuk menyambut Islam secara internasional itu

#agak sedikit kesal, karena sering diburu sama mata-mata tajam yang sedikit kelewatan
#sudah menemukan formulanya, daripada menggeretu dan membalas dengan ‘What?’ lebih baik senyum yang paling manis untuk mereka

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s