Menghadapi Kesalahan dalam Akta Islam dan Kebebasan

Terimakasih untuk fianceé saya yang udah bersedia menyediakan waktunya ditengah nyamuknyamuk yang ada. Terimakasih untuk KITA yang bisa nyambung, yang sepertinya punya glimpse of same vision.

Pikiran soal ini menyeruak (LAGI dan bertambah rumit) setelah membaca tumblr seorang teman, seorang remaji (anak muda remaja :P) juga umur 17 tahun. Pikirannya akan kebebasan, lepas sekali, statementnya soal keadilan, tarian katanya soal negeri dan kehidupan. Ah, betapa menginspirasi. Sampaisampai ka Iman Usman aja bilang he wants to be like her in that age. Aaaaah, mana bentar lagi melepas masa 18tahun, rasanya di umur ke 17 ini g ada apaapanya. 

Jadilah saya mulai memikirkan lagi soal kebebasan, soal hak, soal kemerdekaan. Dan Alhamdulillah mendapatkan teman ngobrol yang pas, fiancée saya yang seorang Westernian dan seorang Muslim yang baik (insha Allah) mampu menyeimbangkan semuanya. Kan pemikiran Barat sangat open sekali soal freedom dkk secara teoritis, tapi kan kita masih butuh Islam untuk melihat kebenaran dari yang mereka fikir benar.

Diskusi kami dimulai dengan membicarakan pasal transeksual dan homoseksual yang lagi panaspanasnya (entah di Amerika ataupun di Indonesia –eh jadi ingat Irshad Manji). Pendapat saya sebelum diskusi adalah bingung, karena saya merasa tidak membenci tapi juga merasa (sedikit) salah karena ada beberapa orang yang menganggap ‘ketika kamu tidak menolaknya bukankah kamu berarti mendukungnya, karena dalam diam kamu, kamu membiarkan hal itu terjadi dan terus terjadi ’. Nah kan gimana ga binggung coba saya. I don’t want to be a person who support this thing, because this thing is totally wrong in Islam. Dimulai dari hal ini lah, saya berfikir what should I do? And what can I do? Lalu, kami samasama melihat fenomena batalnya Konser Lady Gaga di Indonesia menjadi sebuah contoh besar akan sikap kepada sebuah kebebasan (setidaknya di Indonesia).

‘If you live in Germany, will you people doing something like that?’
‘No, maybe not’
‘Hmmmm.. its definitely not, even you are a moslem, u cant just doing something like that in Germany, u cant force somebody to live in your way. They have their right.’

Yah, sepertinya sedikit cultural, budaya pemaksaan kehendak dari bangsa kita tetapi mengatasnamakan penjunjungan agama. Islam. Sedihnya, agama paling benar dan paling DAMAI sedunia harus dinodai dengan budaya sebuah bangsa. Sedih mengingat kesantunan Rasulullah, harus diejahwantahkan dengan ketidakramahan mata dan kata manusia dunia.
Sangat benar adanya ketika kita merindukan kebenaran, fastabiqul khairat dalam mewujudkannya, berusaha keras dalam penyebarannya. Tapi, bukankah berusaha keras tidak berarti dengan kekerasan. Penyampaian cara dalam ketidaksukaan kita, sepertinya perlu koreksi. Lainnya yang Nampak perlu koreksi adalah ketulusan hati, kebersihan ego, kesatuan niat, hanya berpacu pada Lillahi Ta’alaa yang berujung kita harus menaati Qur’an dan sunnahnya.

Ehem saya pause dulu berbicara soal cara, karena sebelum berbicara soal penyampaian aksi, sepertinya pengambilan sikap juga ada yang sedikit tidak pas. Kita berada ditengah-temgah masyarakat yang sudah dewasa (atau setidaknya) menganggap dirinya dewasa. Dan naluriah para orang dewasa itu adalah merasa mampu berpikir lalu membedakan yang benar dan yang salah, dan juga merasa punya hak sendiri akan dirinya yang dewasa itu. Karena itu, berprasangka buruk (bahkan) membenci seseorang dewasa adalah sebuah ketidakbenaran. Dalam kerendahan ilmu dan tarian pikiran saya, berprasangka buruk dan membenci adalah hal yang tidak ada dalam Islam, saya mengingat sebuah hadist soal berprasangka (generally) disitu disebutkan bahwa ketika ingin berprasangka buruk terhadap seseorang kita harus memikirkan seribu kebaikannya terlebih dahulu sebelum boleh berprasangka, Kenapa begitu? Menurut saya, karena melakukan pencegahan hati dari prasangka adalah tindakan paling preventif untuk mencegah kebencian yang berujung kesalahan dalam aksi yang bias berakibat buruk (padahal hal itu seharusnya tidak terjadi kalau tidak ada prasangka dalam diri).

Kita sama-sama dewasa, sama-sama tahu bahwa kedewasaan membawa salah satu kawan yang sangat besar. Ego. Bukan Cuma kita harus waspada kepada ego pada orang yang berbuat kesalahan tapi juga kita harus memberi perhatian penuh kepada ego diri kita. Menutup hati dari prasangka dan kebencian adalah salah satu cara menurunkan ego. Kenapa kita harus menurunkan ego? (padahal sepertinya) kita pantas memiliki ego, karena kita muslim, karna kita memiliki agama yang paling benar di dunia ini. Jawaban dari saya adalah karena pemurnian ego itu susah (bukan hanya tidak gampang, tapi susah) ego itu beda tipis dengan passion dan tidak jauh dengan nafsu (sepertinya ego itu disebabkan nafsu dan menghasilkan passion). Bukankah kita tidak mau, niat luhur kita tidak dicatat Allah karena ego sebelanga. Lagipula, tidak akan menang kita melawan orang dewasa bermodalkan (mayoritas) ego belaka. Dia (orang dewasa yang melakukan kesalahan) yang melihat diri kita dengan penuh ego, akan membentuk benteng pertahanan diri seperti kita pula. Akhirnya batu vs batu menghasilkan kerikil kecil berantakan. Dan bukankah kita tidak mau ego mengaburkan visi kita, luhur, dan cinta kita pada Islam.

Semoga, alasan diatas mampu dipahami dan diresapi untuk mencegah kita berprasangka dan membenci.
Lalu, muncul statement seperti ini ‘kalau kita lemah terus kita bakal diinjak injak! Kesalahan jadi bias!’
Saya rasa kelembutan hati bukan sebuah kelemahan, ini adalah ciri Islam yang paling indah dan membahagiakan terutama bagi mereka yang tidak tahu sama sekali tentang islam. Cara ini (cara yang tanpa prasangka dan kebencian) akan menunjukkan betapa murni, betapa rasionalnya Islam, betapa santunnya. Karena bersuara kebenaran dengan alasan yang jelas. Dasar penentuan kesalahan tidak akan jadi bias selama masih berpegang Al-Qur’an dan Hadist. Dan tidak akan kita diinjak injak kita (insha Allah) dalam kesantunan kita, karena manusia-manusia lain masih punya jiwa manusia, otak serta hati.

Setelah memahami adanya dasar penentuan kesalahan, tentu itu juga berarti kita sadar akan adanya kesalahan. Tapi itu juga tidak berarti boleh membenci dan berprasangka. Sepertinya, selamanya kita semestinya berusaha untuk tidak berprasangka dan membenci lalu men-judge yang aneh aneh kepada orang lain. Setelah tau adanya kesalahan, kami sepakat kami tidak berbuat apa-apa unless orang itu mengganggu ketentraman, mengganggu kenyamanan, dan memberikan contoh buruk kepada lingkungan sekitar apalagi sampai menyakiti. Kenapa begitu? Alasan kami adalah, kami tidak punya hak atas diri orang lain, atas prilakunya, dan atas perasaannya selama itu tidak menganggu kami. Kami menghormati orang yang punya pikiran `Ini kann badan gue, lu ga punya hak untuk ikut campur´ because they are right. Tapi, hak itu sudah tidak ada ketika dia merugikan kami.

Nah, sampai adanya gangguan inilah tiba saatnya untuk action! Batas toleransi sudah luntur, dan waktunya menyeranggggggggggg!! Ups bukan!! Sekarang waktunya menolong!! Yaps menolong, iya kawan waktunya menolong sekarang…. Dan mengecam, memandang jijik, sampai mengkafirkan manusia lain adalah bukan dalam konteks menolong. Kenapa menolong? Simple, because judging isn’t a way to reduce the bad things around you judging just make the bad become worst thing around you. Bayanginnya gini yah…. Band rock kaya metallica kan lebih enak didengar kalau kita tau lirik lagu atau minimal chord gitarnya kan? Ga enak banget metallica ditonton dengan teriak teriak sembarangan, si grup Band metallica pun akan kesel dengan yang nonton karna katanya suka ama metallica tapi kok liriknya aja ga tau (Masha Allah maaf contohnya jadi aneh gini,, udah jam 3 pagi soalnya  ) Ehem, (bismillah) maksud saya menolong berarti mengingatkannya dan berusaha dengan keras (tapi bukan dengan keKERASan) untuk supaya kembali ke jalan yang benar. Menolonglah pertama dengan lembut, mengingatkannya dalam santun, lalu jika tidak cukup (karna fatalnya sang kesalah dan besarnya luas daerah yang terkena dampak buruk) bertindaklah dengan melaporkannya kepada pihak yang berwajib, sang landlord, orangtua, polisi, government dan hubungannya. Lalu, setelah itu dilakukan, baik hasilnya memuaskan atau tidak, paling tidak kita sudah berusaha . Tidak ada lagi yang dapat dilakukan setelahnya kecuali doa, memohon ampunan Allah atas kekhilafan usaha, dan mendoakan seorang manusia lain disana semoga diampuni juga dosanya dan dibawa ia kejalan yang terang.
Wallahu ‘alam

    Disebalik mata tajam penuh sangka
    Aku hanya mengharapkan keteduhan
    Pun dalam memandang salah
    Karena hujatan, kutukan, dan serangan pun samasama sampah
    Orang banyak akan melihat dengan jijik dan menyapunya

    Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s