Yah, I do really think I can dance, and everybody also can ;)

WELCOME

WELCOME

What a title, haha, ini karena saya sudah menulis tiga bagian untuk satu topik yang sama. Ini karena saya jatuh hati sama tari. Semoga kalian juga bakalan bisa punya kesempatan yang sama dan yang lebih dari pada saya yahh. Karena, oh my, the perks of being  a dancer itu sangat menyenangkan. In my case, penari dadakan yang gabung ama anak anak dari berbagai belahan dunia lain. Sebelum saya menjelaskan kelebihan kelebihan itu marilah saya ajak anda untuk mengunjungi dua performance tari saya yang tidak kalah spekatanya.

Makan Malam dengan Menteri Pendidikan

sinaran.. jeng jeng

Tidak sampai satu minggu setelah performance kami di Nilai University, Hal Ehwal Pelajar (bagian administrasi gitu dehh) UPM menginformasikan kepada kami melalui UPM ISA untuk bersiap siap perform lagi di dalam acara Dinner Reception with Ministry of Higher Education. Acara yang dihadiri oleh Mentri Pendidikan Malaysia, YAB Tan Sri Dato’ Hj. Muhyiddin bin Yassin ini diselenggarakan sebagai acara simbolisasi pemberian beasiswa di tingkat universitas dari negara Malaysia bagi mahasiswa nasional maupun internasional. Acaranya wah. At least, walaupun ga dibayar tapi perasaan puas bisa dapat tepukan meriah dari penonoton yang ramai sangat sudah cukup lah. Dan yang paling penting sih kita dapat fine dining. Lucunya beberapa teman teman dancer lebih memilih makan di backstage karna bisa ngambil lebih banyak porsi plus jenisnya lebih banyak. Tapi saya sih cerdas, pengen fine dining dan dapat makanan lebih, jadinya lah kami minta temen dari belakang buat ngebawain sate kambing dan sate ayam yang enaak dari back stage.

Pemenang juara satu kompetisi kemaren di undang juga, what was in my tought at that time is people not enjoy their performance so much. Pas waktu mereka nari beberapa asik aja makan dan bercengkrama dengan yang lain. Musik nya tidak greget sih. Faktor penontonnya lagi kelaparan mungkin salah satunya juga yaa. Huhuhu, masih aja ga terima ya saya.

Setelah berlari-lari malas ke backstage karena kekenyangan kami semua ngecek perlengkapan dan make-up. Oh ya, saya lupa cerita kalau di event kali ini persiapan nya sangat tidak terencana. Bayangkan yah, satu hari sebelum tampil, temen kami yang aneh itu membatalkan diri karena kaki dia sakit habis ikut marathon satu bulan lalu!! (cerita selanjutnya soal ini di post lain yah!!). Another thing is tidak ada yang provide make-up artist dan kostum buat kita. Walaupun setelah di desak akhirnya pihak UPM mau memberikan sejumlah dana dan memberikan surat pengantar untuk peminajaman kostum dari Astaka Seni. Kenapa harus tunggu di desak dulu coba kan yah?? Jadi kostum kali ini biasa saja, cuma kain yang dipakai sampai dada, dan kebaya panjang selutut dan yang lelaki masih sama. Less accessories sih , dan buat saya itu lebih oke. Tidak ada bustier yang dipake diluar, yang membuat saya telihat aneh terutama. Tapi untuk soal make-up karna ini malam, jadilah ka Lili our beloved make-up artist temannya bang Arif, mendandani kita dengan suasana malam yang lebih gemerlap, lipstick lebih merah dan bulu matanya itu lohhh, ampun deh panjangnyaaaaaaa. Gila banget deh, sampai penglihatan saya setengah nya jelas, setengahnya bergaris garis gara gara ketutupan bulu mata. Aha!!

Image

banyak yang minta poto looh

Guess how did we perform? muchmore better infact. Dan bahkan saya tidak melalakukan kesalahan, relationship saya dengan para kipas sudah terjalin dengan baik, mereka mekar dengan cantik saat kami berusaha membentuk bunga dengan kipas dan tangan tangan kami. Selendangnya peter udah saya ga injak lagi. Senyum saya selalu mengembang saat itu, dan menjadi lebih mengembang lagi saat melihat ke depan penonoton pada tepuk tangan, berhuhuhaaa, maju kedepan untuk foto kami. 😀 Bahagianyaaaa.

Image

ini Mas Jansen Karim Zebua, dari HELP University Suaranya keren kayak Glenn Fredly. Kenalan deehhh.

Image

Ka Huda, funny girl from Malaysia

International Food Festival

Nah selanjutnya, performance kami yang ketiga adalah pada International Food Festival yang diselenggarakan di UPM. Kali ini tanpa persiapan sama sekali, karna waktu itu benar benar sibuk. Kostum yang kemarin masih sama. Kali ini tanpa make-up artist, dan parahnya kipas untuk bagian Cina cuma ada 5 which is kita harus koreografi  ulang karna tarian bunga yang terakhir pasti ga akan cantik kalau satu orang pakai kipasnya satu. Parahnya lagi, kita ga bisa ketemu sama sekali hari sebelumnya, jadilah kami merubah koregrafi 30 menit sebelum acara.

Image

our third stage

Again I (kind of) ask you guess how was our performance? Jawabannya lumayan awesome, maish dapat tepukan yang luar biasa, penontonnya sendiri sih ga banyak banyak amat. Karena ini udah hari penutupan. Ada kesalahan kecil yang menegangkan (lebay saya mah, )saat awal saya harus pindah posisi ke tempat ka senia, ka senia tidak pindah, lalu saya refeleks teriak Move !!. But nothing we can do, soalnya music udah berganti jadilah saya improvisasi. Cukup bangga dengan diri sendiri sih. Hehehe still ujungnujungnya everything going so smooth. Ah jadi rindu masa masa gemerlap itu 😀

Epitrilogi Menari bagi Saya

Akhirnya benar-benar saya buktikan, dengan menari, kita bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Menari adalah alternative hobby bagi diri saya. Setelah saya cukup bosan membaca buku, malas menulis, tidak mood untuk belajar, dan tidak bagus bagus amat untuk menyanyi di ruang tamu. Menari bagi saya itu me.. apa yah loosing up my self kalau istilah yang saya dengar dari Chris Colfer. Badan saya jadi tidak kaku, jadi pikiran saya tidak kotak kotak, otak saya bisa jadi lebih fleksibel dan nyeni. Kreatif dan tidak stress sih intinya. Daaan selain itu saya bisa jadi lebih sehat! Bayangkan yah dalam satu bulan setiap hari pasti latihan 3 jam, uh keringatan, badan bergerak, jantung sehat, kurusan juga sih dikit. Dengan menari juga, saya bisa menghormati, menghargai, dan mempelajari budaya lain. Bayangkan yah temen temen Malaysia saya, merasa kagum dan bahagia karena ga nyangka kami mau menari tarian mereka.

Image

Happy, Actually

Ayo dong, kalian juga merasakan menari. Menari dengan hati. Pikirkan tujuan apa kalian menari, saran sih, kalau tujuannya eksploitasi diri mendingan berhenti. Hehe. Karena menari adalah menyelaraskan akal, jiwa dan hati. Beidewei, saya masih ingin menari lagi. Dan tidak hanya itu, harapan tahun depan ada rencana kami untuk membuat flash mob di UPM. Menyebarkan pesan, bahwa menari tidak Cuma tentang pakaian ketat dan lenggokan tajam. Tapi juga tentang kesehatan, ketenangan, dan kebudayaan. Selain itu kami juga sangat ingin membuat operet. Menggabungkan musik dan tari. Menyampaikan pesan dan perasaan tersembunyi. Terinspirasi dari glee, broadway, Tony awards, dan neil Patrick Harris. Ah, itu saya. Bagaimana kalian. Kalau soal tari bagaiman kalau kalian memilih satu tari yang rasional untuk dipelajari. Setelah itu jadikan sebagai bucket list. Atau juga boleh, menjadikan flash mob dan perform di depan umum sebagai bucket list kalian yang alin.Percaya deh, aderenalin yang melunjak lunjak, rasa nervous dan bahagia yang dirasakan worth it untuk dilakukan dalam hidup. At least, satu kali.

Be fierce,

 

 

Azmi

Yap, I am Sure I can Dance

Image

so cheesy

Setelah saya sudah banyak mencerca penuh tentang kenapa saya nge-dance dan persiapan dance saya cerita saya lanjutkan soal performance saya. Ada tiga loooh, mari kita bahas yang pertama.

Barely To the Stage

Image

preparation with abang arif, two abjii from iran 🙂

Make-up sudah selesai dipakaikan, baju beserta aksesorisnya yang banyak itu sudah selesai di kaitkan juga. Pergilah kami menuju auditorium tempat kompetisi berada, ternyata masih ada 3 peserta lagi sebelum kita. Sempat lah saya untuk nonton 2 peserta lain. Saat menonton dua grup dari tiga, saya masih optimis okay kami bisa lebih bagus dari yang dua ini. Di backstage, sekelompok laki-laki bersarung dan berkaus putih sudah menunggu lebih dulu, mereka tampil satu nomor tepat sebelum kami. Chit chat dikit, oalah ternyata mereka mau menampilkan tarian Kazakhsatan.

Oh iya, lupa deh, sedikit penjelasan soal 1World Culture dari Nilai Univeristy. Tahun ini adalah tahun ketiga untuk acara serupa dari Nilai university, dengan tema In Celebration Of Songs and Dance. Selain kompetisi menari ada juga kompetisi menyanyi yang dibagi menjadi dua kategori. Satu untuk kategori internasional (dengan peserta yang berasal dari negara yang tidak menggunakan bahasa melayu) dan satu lagi kategori nusantara (kompetisi untuk Negara Negara yang menggunakan bahasa melayu seperti Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam). Menariknya untuk kategori Nusantara, semua peserta berasal dari Indonesia!!!! (Oh ya, we are totally so talented). Dalam singing competition ini one basic rule nya adalah peserta harus menyanyikan lagu yang dinyanyikan atau digubah oleh Malaysian artist. Dan untuk peraturan dasar pada dancing competition adalah bebas tapi mendapat 5% nilai tambahan kalau kita menari tarian Malaysia.

Image

menyempatkan diri

Kembali ke backstage, setelah tim bersarung maju ke panggung. Kami terdiam sejenak berpeluk pelukan, lalu berfoto foto karena terlalu stress, sampai Abang Arif yang menenangkan kami dan mengingatkan untuk berdoa bersama. Ternyata doa kami kurang panjang, jadi setelah amin pun kami belum di panggil untuk ke panggung. Jadilah saya, bercengkrama dengan kipas saya, berharap dia bisa terbuka lebar saat saya perform diatas pentas. Sebelumnya saya tidak punya hubungan baik dengan kipas kiri. Baru kemaren dan hari ini saya bisa membuka kipas itu dengan sempurna. Kucluk kucluk, tempat yang ditinggalkan lelaki bersarung tadi sudah diisi sama rombongan lain. Setelah menangkap beberapa kata, yakinlah saya mereka semua orang Indonesia. Dan ujungujungnya saya tau kalau mereka adalah kawan-kawan dari Malaya University yang akan menampilkan Tari Saman, mereka pemenang tahun lalu di kompetisi ini dengan tarian yang sama, jleb. Kami dipanggil menuju panggung.

MENARI!!! ADA JURI!!

Wuuuuh, rasanya menari untuk kompetisi sebesar ini dengan penonton sebanyak ini, dengan membawa nama universitas ituuuu… Spekta, Spekta!! Intro music tarian kita berdendang sudah, saya yang berada paling depan di barisan perempuan harus berlari ke ujung panggung untuk sampai ke posisi saya. WOOOF, WOOOF, semuanya smooth, senyum saya terus melebar dari awal hingga akhir. Tiba tiba saya mensyukuri kerabunan mata saya, karena itu saya jadi ga nervous karena ga bisa ngeliat jurinya. Semuanya oke, sampai saya ngerasa menginjak selendang Peter yang ada di belakang saya. Dan sampai musik bagian cina di mulai, sebagian penari lain beranjak ke belakang panggung. Saya, Ka Senia dan Ka gita, uga daddy and Peter tinggal untuk melanjutkan bagian cina. Tibalah momen untuk melihat hubungan saya dan kipas saya. Yah, ternyata si kipas kiri masih ngambek jadi dia tidak mau terbuka lebar. But show must go on, dan konsentrasi saya pecah sedikit. Gerakan 1 X 8 saya jadikan 2 X 4 untunglah saya di tengah jadi komposisinya tidak terlihat rusak. Tapi tetap saja itu mengahntui saya. Di otak saya selalu bergema “Oh, My god gue salaaahhh”. Tapi untungnya sampai akhir tarian tidak ada lagi kesalahan yang saya lakukan.

Image

the best picture from our stage taken by photographer from Nilai University. unfortunately i am in the other end of the line.

Tarian Kami

Tarian kami berkonsep satu Malaysia. Which is ada unsur Melayu, India, dan CIna di dalamnya. Untuk memeriahkan suasana Michael Jackson Modern Dance juga ditambahkan disana dan Iranian Dance. Konsep tarian satu Malaysia ini dianggap si abang bisa memenangkan lomba, semua pihak setuju dengan mengaminkan bahwa tujuan lomba adalah memperkenalkan budaya Malaysia. Dari awal, kami sudah berfikir untuk memenangkan kompetisi ini dan untung 3000RM. Jadilah kita menyewa Abang Arif Nazrey, koreografer sekaligus pelatih handal, yang digaji 150RM perjam, gajinya sama professional dengan statusnya sebagai asisten dosen di Aswara, salah satu universitas seni terkemuka di Malaysia. Belum lagi CV nya si abang Arif yang dahsyat, koreografer di acara tv ini lah itu lah , menang lomba inilah itulah. Brrrr, sedaaap. Ah, nanti videonya saya aplot dah. Bahkan kerennya lagi temen satu kelas bang Arif adalah juri di acara ini. But nothing to do with that, ga ada KKN disini mah.

Hasilnya

Image

Yeah.. terbayarkan 75 RM satu orang 😛

We win!! The Best choreography!! Daapat 1000RM atau sekitar 3,2 juta rupiah gitu dehh!! Walaupun ngerasanya kita bisa dapat juara lebih secara juara satunya gerakan nya sangat membosankan. Emang sih mereka menang di keserasian, tapi dengan gerakan tidak challenging itu yang gampang lah buat serasi. Sampai bang arif bilang “Okay, next time, kita buat gerakan mudah jer tak payah susah susah” Oke sampai disini merutuki nya yah. Another happy feeling juga dirasakan oleh kaka saya Marsenia Trinanda Haris alias ka Senia yang menang juara dua mengalahkan wanita Indonesia lainya di lomba vocal nusantara. Yaayyy.

Oh saya terlalu banyak bicara lagi, mari saya lanjutkan tentang kisah azmi menari ini di part 3 yah. Disitu saya akan bahas dua performance lain.

Image

dari seluruh belahan duni 🙂

 

Be Fierce,

Azmi

So I Think I Can Dance

Ini adalah experiment menyenangkan yang saya lakukan saat berumur 18 tahun. MENARI. Sebelumnya, saat saya menonton So You Think You Can Dance di TV, saya fikir saya tidak akan pernah bisa perform menari di depan umum. Alasannya banyak, baju yang terlalu ketat saat menari, takut kena sentuhan yang berlebihan dengan lawan jenis, dan yang pasti saya yakin ga akan ada yang mau mengajak saya menari karena badan saya kaku begini. Padahal, saat mereka menayangkan National Dance Day (flash mob di beberapa Negara bagian di US) bulu roma saya naik, karena mereka bisa sangat happy dengan dance. Saya juga pengen nge-dance, teriak hati saya saat itu. Karena tujuan ngedance sendiri adalah, move yourself till you are healthy and happy. Saya pengen nari, saya teriak lagi.
Dulu pikiran saya masih terlalu sempit, menganggap dance adalah sarana mempertontonkan lekuk badan dengan melakukan gerakan seksi luar biasa. Totally wrong, bahkan saya menangis saat menonton beberapa performance di So You Think You Can Dance. Travis Wall adalah penyebab utamanya. Diiring lagu Fix You nya Coldplay, Om Travis membuat koreografi berdasarkan cintanya pada ibunya, niat tulusnya membantu sang ibu untuk sembuh dari kanker payudara. Sang ibu menangis, tahu betapa besar cinta anaknya. Juri memberikan standing ovation. Dua penari menahan sesak. Para ibu dari mereka pun mengelap air mata. Penonton terdiam. Saya memendam muka saya dalam bantal. Tariannya dan beberapa koreografer lainnya begitu nyata untuk menjadi rangkuman satu momen kehidupan. Jadilah bertambah lagi manfaat menari sebagai seni, tarian bisa bercerita dan mengajari.

Akhirnya Saya Menari Juga
Ajang Unjuk Budaya adalah alasan saya menari di depan panggung untuk pertama kalinya saat usia remaja, dan saat itu masih terpaksa. Karena mengikuti Olimpiade Ilmu Sosial yang diselenggarakan Universiti Indonesia, salah satu kompetisi didalamnya yah unjuk budaya. Kami memilih untuk menari Dayak. Karena menari bukan fokus kami, jadi yah latihan dua minggu doang, bajunya pinjam dari guru kesenian, dan hasilnya saya salah arah waktu menari, dan kami tidak dapat hasil yang memuaskan.
Pengalaman menari yang kedua juga masih setengah terpaksa, tapi kali ini dicampur dengan setengah PD yang luar biasa. Cultural show yang diselenggarakan oleh AIESEC UPM adalah alasannya. Atas nama PPI(Persatuan Pelajar Indonesia) UPM, kita diundang untuk tampil di opening acara tersebut. Acara utamanya sendiri adalah lomba peragaan busana internasional gitu. Tim Indonesia sendiri mengirimkan 3 pasangan. Hebat kan? Tarian kami sukses, lumayan, saya sendiri sih ga ada gerakan yang salah. Saat itu, kami juga menarikan tarian Dayak di awal dan ditutup dengan Sajojo bersama 20 puluh orang kawan kawan Indonesia lainnya. Menyenangkan. 

Kompetisi Tari
Tadaa, momen menari saya yang paling spektakuler (yang ketiga) datang ketika saya cuma mau menemani teman untuk ikut rapat acara tersebut. Tapi saat rapat, otak saya yang agak nyeleneh ini malah bilang “I’m in”. Tidak terencana, saya memarahi mulut saya dengan bahagia karena dia membiarkan saya memasuki satu zona berbeda di kehidupan saya. Rasional kok, tarian ini tari melayu, bajunya pasti ga aneh aneh, gerakannya lembut dan tidak berlebihan, dan saya bisa belajar untuk tidak menjadi kaku.

ini foto untuk website UPM ISA maksa, padahal anggota belum ada semua :)

ini foto untuk website UPM ISA maksa, padahal anggota belum ada semua 🙂

Tim kami beranggotakan 19 orang, 15 orang penari, 1 penanri cadangan, 1 pelatih, 2 penonton setia. Jika dijabarkan sesuai dengan negaranya maka tim kami berasal dari 7 negara. Dari Indonesia ada saya, Ka Senia, Ka Gita dan Ka Teguh. Dari Singapura ada Ka Ziha, dari Pakistan ada Kaisar, dan dari Iraq ada Daddy Zaid. Dari China ada Peter dan Dr. Huang. Yang paling banyak adalah dari Iran (secara mahasiswa international di kampus saya kan paling banyak dari Iran ) ada Dadash Sina, Dadash Yashar, Ali, Elisa, Abjii Laleh, Abjii Roya dan Shadi. Dan tidak lupa, ada kak Huda sebagai penari handal tim kita, Mommy yang selalu setia dan abang Arif  Nazrey pelatih dari Aswara; mereka ketiganya berkewarganegaraan Malaysia.
Tim ini dibentuk oleh UPM ISA (International Student Association) dalam rangka undangan kompetisi 1 World Culture dari Nilai University. Saat itu Peter sebagai Head of Art and Cultural Committee mencari mahasiswa internasional UPM yang berminat untuk ikut kompetisi ini hanya via facebook. Hebatlah dapat 15 orang yang mau menari itu dalam waktu singkat, secara UPM ISA adalah organisasi yang didominasi para Master dan Phd student yang notabene mau ke universitas untuk belajar. Oh iya, saya lupa untuk menyebutkan dengan bangga, di tim kami ada tiga orang Phd student yaitu Daddy, Ali dan Dr. Huang. Saluut banget buat mereka yang over 30 years old tapi masih mau bergerak, dan tidak malu untuk belajar budaya lain, serta masih fokus untuk belajar. Sementara selain saya dan Kak Ziha, yang lainnya adalah master student ada yang masih lagi nulis tesis, ngambil kelas bejibun, lagi ada labwork tapi tetap semangat buat nari dan membawa nama universitas.

fitting baju, tapi bukan baju ini yang dipake

fitting baju, tapi bukan baju ini yang dipake

snack berat 2 hari sebelum lomba.. Double cheese burger!! free!!

snack berat 2 hari sebelum lomba.. Double cheese burger!! free!!

Drama international banyak dijumpai saat saya belajar ngedance ini. Mulai dari drama mencari tambahan satu Malaysian citizen untuk ikut nari bareng kami (karena itu requirement kompetisinya) sampai drama teriak teriakan karena tidak adanya kepemimpinan dalam grup ini. Peter sih yang harusnya memimpin, tapi karena background dia sebagai guru jadi dia lebih kalem dan mendengarkan saran semua orang yang hasilnya kita jadi bingung penuh dengan ketidakpastian karena dia bilang yes sama semua orang. Should I put this dance drama to another post? Hell yes!!

try to figure out how to play with this skirt

try to figure out how to play with this skirt

Lanjut yah, setelah melewati drama dan latihan yang membuat paha kram. Tibalah kami di hari kompetisi. Nomor urut 12 dari 15 peserta. Sesampainya di Nilai University, kami langsung registrasi dan sarapan. Setelah itu abang Arif meminta kita, tidak melihat competitor lain, secara kita yang newbie jadinya gampang rendah diri yang menjadikan kita galau yang selanjutnya membuat kita nervous lalu ga sanggup mengingat gerakan gerakan yang ada. Jadilah kita membajak satu ruangan di daerah agak terpisah dari tempat acara untuk di make-up. MAKE-UP!!!!

 

sayah dan kak liliiii dan perlengkapan make-up.. oh yaa

sayah dan kak liliiii dan perlengkapan make-up.. oh yaa

Make-up adalah hal yang sangat baru bagi saya yang sebelumnya malas untuk belajar menjadi wanita. Jadilah saat itu, saya yang merengek rengek untuk di make-up yang pertama. Satu orang membutuhkan 30 menit untuk dapat full make-up. Saya sampai sekarang masih kurang aware apa saja yang dipakaikan ke wajah saya, intinya lengkap dah. Di 30 menit yang menegangkan itu, saya was was akan jadi apa muka saya. Yah setelah melihat cermin, kalimat pertama yang saya bilang adalah “Wah, ternyata kalau di make-up saya bisa cantik juga” saya terharu. Setidaknya saya sudah bisa membayangkan kalau wedding saya tidak jelek jelek amat. Lega.

 

 

 

Sepertinya 800 kata sudah saya habiskan untuk post satu ini, jadi supaya kalian tidak kepanjangan membacanya saya lanjutkan di post lainnya yah untuk cerita tiga, TIGA penampilan kami di tiga event berbeda. Akhir kata,

not so bad, kaaan?

not so bad, kaaan?

Be fierce,

Azmi

18 dan Saya juga Perubahan

Image

starting over 18

Hampir 6 bulan sudah saya berumur 18 tahun. Setelah membaca tulisan di blog ini rasanya saya bisa menyimpulkan kalau harapan saya tentang diri saya tidak (belum) terwujud. Dan sepertinya bulan ini adalah saat akhir untuk menyelesaikan masalah dan saat awal untuk kembali membangun semua mimpi yang sudah terinjak-injak selama enam bulan. Insha Allah. Hah, sedih rasanya saat kamu merasa mantap akan segalanya tapi nyatanya kamu gak tau apa apa. Sebelum berumur 18, saat itu semangat masih membara untuk memburu kebaikan, terbang menuju cita-cita, dan berlari ke arah kebenaran. Merasa yakin sekali untuk menikah muda, merasa mantap sekali untuk menjadi penulis bahkan sampai harus pindah jurusan, merasa senang sekali bahwa saya punya kecerdasan di atas yang lain, merasa bahasa inggris saya sudah lumayan bagus, merasa saya sudah cukup mengerti tentang Islam dan dakwah. I was overconfident, I think. Mungkin saat itu, saya berfikir saya sudah cukup banyak membaca sehingga cukup ilmu untuk merangkai ideologi dan visi diri. Tapi nyatanya tidak.

Nyatanya, Saya ga akan bisa merangkai visi diri yang benar sebelum saya melihat dunia dan berbagi pengalaman dengannya. Saya dulu tinggal di ibukota provinsi yang tidak lebih maju dari kotamadya nya, memiliki orangtua yang lumayan konservatif, dan memilih teman yang homogen. Saat itu saya berfikir I’m great enough to do things. Dan memang I was great enough. Untuk zaman muda saya. Tapi saat Allah memilih Malaysia sebagai destinasi perkuliahan saya, kabut imajinasi di kaca hidup saya perlahan menghilang. Kenyataan tampak lebih jelas, merefleksikan nyata dunia beserta indah dan kejamnya. Dengan takdir jalur Malaysia, daftar mimpi-mimpi saya tercoret satu, dan tidak sampai situ jalur ini menjanjikan mimpi-mimpi lain untuk juga terwujud.

Proyeksi saya sampai pada paragraf akhir di halaman 7 buku For One More Day karya Mitch Albom, “All that happens when your dream comes true is a slow, melting realization that it wasn’t what you tought”. Kesannya sih seperti tidak bersyukur ya, mimpi sudah terwujud tapi masih saja merutuk. Karena sebenarnya pahitnya kenyataan setelah mengecap manisnya mimpi adalah karena kita terlalu mabuk berada di manisnya atmosfer mimpi. Saat itu, ada perasaan superior yang mucul, merasa cukup hebat dan cukup kuat hingga mimpi-mimpi lanjutan akan menyusul tanpa perlu bekerja sangat keras. Pahit sangat, itu yang saya rasakan sekarang. Susah memang bangun dari pelukan mimpi untuk memeluk mimpi yang lain.

Lima kali pindah tempat tinggal, empat lelaki yang berbeda, di tiga semester yang tak pernah sama, dengan dua jurusan yang berlainan, cukup bisa menjanjikan tidak akan ada lagi Ami yang sama. Bahkan untuk sebuah nama, Ami yang terdengar manja dan selalu ceria berganti menjadi Azmi. Siapa yang menyangka pertambahan satu huruf diantara nama saya, membuat saya lebih fierce untuk menanggapi kehidupan. Fierce, kata halus untuk ganas di otak saya. Keganasan yang menghidupkan, membuat saya lebih berani melakukan apa saja sebelum umur saya mencapai angka 2 di nominal puluhannya. Dan nantinya huruf Z ini juga yang akan membuat tegar hidup saya, menambah keprofesionalitasan saya, dan memanikan hidup, saya tentunya. Dewasa, dewaza. Masih soal nama yang berubah, another thing happen di nama belakang saya, walaupun belum terjadi dan masih ada kemungkinan tidak akan terjadi. Hoffmann, kata itu yang akan muncul di akhir nama saat saya menikahi lelaki German itu. Menambah semangat bagi diri saya, meyakinkan diri bahwa saya adalah hope-man (manusia yang di harapkan). Dan kembali sepertinya profesionalitas, persepsi, dan paradigm seorang saya di atas kertas akan lebih berubah. Itu perubahan terkecil di umur saya ini.

Penampilan adalah hal kedua dan mungkin terbesar yang terlihat di angka 18 ini. Tidak jauh berbeda sih, tapi tetap saja orang orang yang bersama saya di fase sebelumnya akan bertanya. Kenapa jilbab dan rok saya tidak selebar yang dulu? Kenapa sekarang pakai aksesoris dan ikat pinggang? Kenapa bibirnya terlihat basah dan ada garis dia atas mata, pipinya berwarna pink pulak, kenapa? Kenapa, Azmi? Haruskah saya menjawab. Mungkin tidak exactly menjawab pertanyaan itu, saya akaan menjawab begini. “I did fashion with faith, n now I do fashion with faith too, maybe you think my faith is changing, but for me it is developing, cause I am trying, and nothing wrong with this”.  Ah, mungkin pertanyaa barusan terlalu singkat, random dan tidak jelas, semoga saya bisa menjelaskannya suatu saat di post yang lain yaa.

Saya lebih memilih semua ketidakbiasaan ini sebagai adaptasi. Adaptasi untuk menyeimbangkan fisik, hati dan akal pada diri. Pada angka 18 ini semuanya tumbuh, termasuk circumstances. Dan bukan kah ketika lingkungan berubah, adaptasi adalah cara bertahan paling ampuh yang ada. “Boleh membaur asal jangan melebur” itu quote paling sering saya dengar dari homogenitas di heterogen kehidupan saya yang dulu. Dan tetap saya pertahankan itu. Ami masih ada dalam Azmi. Walaupun, satu mendominasi yang lain. Sebenarnya ada penjelasan lain soal ketidakbiasaan diri saya ini. Perubahan saya. Azmi yang berumur 18 tahun ini terlalu ingin tahu semuanya, rasa ingin coba coba saya juga lah yang membuat saya melakukan berbagai experiment setelah meyakinkan diri saya hal itu cukup rasional untuk dilakukan.

Image

wahai…

Saya hentikan post curhatan berisi 800 kata ini di paragraf ini. Semoga post ini pembuka, untuk post-post lain. Saya tidak bisa menjanjikan kalian akan melihat post yang bermanfaat. Karena saya tidak mau menjadi naïf, berpura pura berusaha untuk menginspirasi tapi sebenarnya tidak sama sekali. Ini azmi yang baru sekarang, kenalin ya. Semoga siih, di post-post selanjutnya kalian akan banyak mendapat cerita, saya pengen banget nulis soal perjalanan saya, music yang baru saya dapat di you tube, drama tv saya, kehidupan cinta saya, buku baru saya, barang baru saya. Ah random lah. Semoga kalian masih disana dan membaca.

Lagu untuk yang masih ingin bermimpi. Saya dan mungkin kamu.

80’s song. Covered by Glee in 2012. Crowded House. Dont Dream It’s Over.

Be fierce,

 

Azmi