18 dan Saya juga Perubahan

Image

starting over 18

Hampir 6 bulan sudah saya berumur 18 tahun. Setelah membaca tulisan di blog ini rasanya saya bisa menyimpulkan kalau harapan saya tentang diri saya tidak (belum) terwujud. Dan sepertinya bulan ini adalah saat akhir untuk menyelesaikan masalah dan saat awal untuk kembali membangun semua mimpi yang sudah terinjak-injak selama enam bulan. Insha Allah. Hah, sedih rasanya saat kamu merasa mantap akan segalanya tapi nyatanya kamu gak tau apa apa. Sebelum berumur 18, saat itu semangat masih membara untuk memburu kebaikan, terbang menuju cita-cita, dan berlari ke arah kebenaran. Merasa yakin sekali untuk menikah muda, merasa mantap sekali untuk menjadi penulis bahkan sampai harus pindah jurusan, merasa senang sekali bahwa saya punya kecerdasan di atas yang lain, merasa bahasa inggris saya sudah lumayan bagus, merasa saya sudah cukup mengerti tentang Islam dan dakwah. I was overconfident, I think. Mungkin saat itu, saya berfikir saya sudah cukup banyak membaca sehingga cukup ilmu untuk merangkai ideologi dan visi diri. Tapi nyatanya tidak.

Nyatanya, Saya ga akan bisa merangkai visi diri yang benar sebelum saya melihat dunia dan berbagi pengalaman dengannya. Saya dulu tinggal di ibukota provinsi yang tidak lebih maju dari kotamadya nya, memiliki orangtua yang lumayan konservatif, dan memilih teman yang homogen. Saat itu saya berfikir I’m great enough to do things. Dan memang I was great enough. Untuk zaman muda saya. Tapi saat Allah memilih Malaysia sebagai destinasi perkuliahan saya, kabut imajinasi di kaca hidup saya perlahan menghilang. Kenyataan tampak lebih jelas, merefleksikan nyata dunia beserta indah dan kejamnya. Dengan takdir jalur Malaysia, daftar mimpi-mimpi saya tercoret satu, dan tidak sampai situ jalur ini menjanjikan mimpi-mimpi lain untuk juga terwujud.

Proyeksi saya sampai pada paragraf akhir di halaman 7 buku For One More Day karya Mitch Albom, “All that happens when your dream comes true is a slow, melting realization that it wasn’t what you tought”. Kesannya sih seperti tidak bersyukur ya, mimpi sudah terwujud tapi masih saja merutuk. Karena sebenarnya pahitnya kenyataan setelah mengecap manisnya mimpi adalah karena kita terlalu mabuk berada di manisnya atmosfer mimpi. Saat itu, ada perasaan superior yang mucul, merasa cukup hebat dan cukup kuat hingga mimpi-mimpi lanjutan akan menyusul tanpa perlu bekerja sangat keras. Pahit sangat, itu yang saya rasakan sekarang. Susah memang bangun dari pelukan mimpi untuk memeluk mimpi yang lain.

Lima kali pindah tempat tinggal, empat lelaki yang berbeda, di tiga semester yang tak pernah sama, dengan dua jurusan yang berlainan, cukup bisa menjanjikan tidak akan ada lagi Ami yang sama. Bahkan untuk sebuah nama, Ami yang terdengar manja dan selalu ceria berganti menjadi Azmi. Siapa yang menyangka pertambahan satu huruf diantara nama saya, membuat saya lebih fierce untuk menanggapi kehidupan. Fierce, kata halus untuk ganas di otak saya. Keganasan yang menghidupkan, membuat saya lebih berani melakukan apa saja sebelum umur saya mencapai angka 2 di nominal puluhannya. Dan nantinya huruf Z ini juga yang akan membuat tegar hidup saya, menambah keprofesionalitasan saya, dan memanikan hidup, saya tentunya. Dewasa, dewaza. Masih soal nama yang berubah, another thing happen di nama belakang saya, walaupun belum terjadi dan masih ada kemungkinan tidak akan terjadi. Hoffmann, kata itu yang akan muncul di akhir nama saat saya menikahi lelaki German itu. Menambah semangat bagi diri saya, meyakinkan diri bahwa saya adalah hope-man (manusia yang di harapkan). Dan kembali sepertinya profesionalitas, persepsi, dan paradigm seorang saya di atas kertas akan lebih berubah. Itu perubahan terkecil di umur saya ini.

Penampilan adalah hal kedua dan mungkin terbesar yang terlihat di angka 18 ini. Tidak jauh berbeda sih, tapi tetap saja orang orang yang bersama saya di fase sebelumnya akan bertanya. Kenapa jilbab dan rok saya tidak selebar yang dulu? Kenapa sekarang pakai aksesoris dan ikat pinggang? Kenapa bibirnya terlihat basah dan ada garis dia atas mata, pipinya berwarna pink pulak, kenapa? Kenapa, Azmi? Haruskah saya menjawab. Mungkin tidak exactly menjawab pertanyaan itu, saya akaan menjawab begini. “I did fashion with faith, n now I do fashion with faith too, maybe you think my faith is changing, but for me it is developing, cause I am trying, and nothing wrong with this”.  Ah, mungkin pertanyaa barusan terlalu singkat, random dan tidak jelas, semoga saya bisa menjelaskannya suatu saat di post yang lain yaa.

Saya lebih memilih semua ketidakbiasaan ini sebagai adaptasi. Adaptasi untuk menyeimbangkan fisik, hati dan akal pada diri. Pada angka 18 ini semuanya tumbuh, termasuk circumstances. Dan bukan kah ketika lingkungan berubah, adaptasi adalah cara bertahan paling ampuh yang ada. “Boleh membaur asal jangan melebur” itu quote paling sering saya dengar dari homogenitas di heterogen kehidupan saya yang dulu. Dan tetap saya pertahankan itu. Ami masih ada dalam Azmi. Walaupun, satu mendominasi yang lain. Sebenarnya ada penjelasan lain soal ketidakbiasaan diri saya ini. Perubahan saya. Azmi yang berumur 18 tahun ini terlalu ingin tahu semuanya, rasa ingin coba coba saya juga lah yang membuat saya melakukan berbagai experiment setelah meyakinkan diri saya hal itu cukup rasional untuk dilakukan.

Image

wahai…

Saya hentikan post curhatan berisi 800 kata ini di paragraf ini. Semoga post ini pembuka, untuk post-post lain. Saya tidak bisa menjanjikan kalian akan melihat post yang bermanfaat. Karena saya tidak mau menjadi naïf, berpura pura berusaha untuk menginspirasi tapi sebenarnya tidak sama sekali. Ini azmi yang baru sekarang, kenalin ya. Semoga siih, di post-post selanjutnya kalian akan banyak mendapat cerita, saya pengen banget nulis soal perjalanan saya, music yang baru saya dapat di you tube, drama tv saya, kehidupan cinta saya, buku baru saya, barang baru saya. Ah random lah. Semoga kalian masih disana dan membaca.

Lagu untuk yang masih ingin bermimpi. Saya dan mungkin kamu.

80’s song. Covered by Glee in 2012. Crowded House. Dont Dream It’s Over.

Be fierce,

 

Azmi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s