So I Think I Can Dance

Ini adalah experiment menyenangkan yang saya lakukan saat berumur 18 tahun. MENARI. Sebelumnya, saat saya menonton So You Think You Can Dance di TV, saya fikir saya tidak akan pernah bisa perform menari di depan umum. Alasannya banyak, baju yang terlalu ketat saat menari, takut kena sentuhan yang berlebihan dengan lawan jenis, dan yang pasti saya yakin ga akan ada yang mau mengajak saya menari karena badan saya kaku begini. Padahal, saat mereka menayangkan National Dance Day (flash mob di beberapa Negara bagian di US) bulu roma saya naik, karena mereka bisa sangat happy dengan dance. Saya juga pengen nge-dance, teriak hati saya saat itu. Karena tujuan ngedance sendiri adalah, move yourself till you are healthy and happy. Saya pengen nari, saya teriak lagi.
Dulu pikiran saya masih terlalu sempit, menganggap dance adalah sarana mempertontonkan lekuk badan dengan melakukan gerakan seksi luar biasa. Totally wrong, bahkan saya menangis saat menonton beberapa performance di So You Think You Can Dance. Travis Wall adalah penyebab utamanya. Diiring lagu Fix You nya Coldplay, Om Travis membuat koreografi berdasarkan cintanya pada ibunya, niat tulusnya membantu sang ibu untuk sembuh dari kanker payudara. Sang ibu menangis, tahu betapa besar cinta anaknya. Juri memberikan standing ovation. Dua penari menahan sesak. Para ibu dari mereka pun mengelap air mata. Penonton terdiam. Saya memendam muka saya dalam bantal. Tariannya dan beberapa koreografer lainnya begitu nyata untuk menjadi rangkuman satu momen kehidupan. Jadilah bertambah lagi manfaat menari sebagai seni, tarian bisa bercerita dan mengajari.

Akhirnya Saya Menari Juga
Ajang Unjuk Budaya adalah alasan saya menari di depan panggung untuk pertama kalinya saat usia remaja, dan saat itu masih terpaksa. Karena mengikuti Olimpiade Ilmu Sosial yang diselenggarakan Universiti Indonesia, salah satu kompetisi didalamnya yah unjuk budaya. Kami memilih untuk menari Dayak. Karena menari bukan fokus kami, jadi yah latihan dua minggu doang, bajunya pinjam dari guru kesenian, dan hasilnya saya salah arah waktu menari, dan kami tidak dapat hasil yang memuaskan.
Pengalaman menari yang kedua juga masih setengah terpaksa, tapi kali ini dicampur dengan setengah PD yang luar biasa. Cultural show yang diselenggarakan oleh AIESEC UPM adalah alasannya. Atas nama PPI(Persatuan Pelajar Indonesia) UPM, kita diundang untuk tampil di opening acara tersebut. Acara utamanya sendiri adalah lomba peragaan busana internasional gitu. Tim Indonesia sendiri mengirimkan 3 pasangan. Hebat kan? Tarian kami sukses, lumayan, saya sendiri sih ga ada gerakan yang salah. Saat itu, kami juga menarikan tarian Dayak di awal dan ditutup dengan Sajojo bersama 20 puluh orang kawan kawan Indonesia lainnya. Menyenangkan. 

Kompetisi Tari
Tadaa, momen menari saya yang paling spektakuler (yang ketiga) datang ketika saya cuma mau menemani teman untuk ikut rapat acara tersebut. Tapi saat rapat, otak saya yang agak nyeleneh ini malah bilang “I’m in”. Tidak terencana, saya memarahi mulut saya dengan bahagia karena dia membiarkan saya memasuki satu zona berbeda di kehidupan saya. Rasional kok, tarian ini tari melayu, bajunya pasti ga aneh aneh, gerakannya lembut dan tidak berlebihan, dan saya bisa belajar untuk tidak menjadi kaku.

ini foto untuk website UPM ISA maksa, padahal anggota belum ada semua :)

ini foto untuk website UPM ISA maksa, padahal anggota belum ada semua 🙂

Tim kami beranggotakan 19 orang, 15 orang penari, 1 penanri cadangan, 1 pelatih, 2 penonton setia. Jika dijabarkan sesuai dengan negaranya maka tim kami berasal dari 7 negara. Dari Indonesia ada saya, Ka Senia, Ka Gita dan Ka Teguh. Dari Singapura ada Ka Ziha, dari Pakistan ada Kaisar, dan dari Iraq ada Daddy Zaid. Dari China ada Peter dan Dr. Huang. Yang paling banyak adalah dari Iran (secara mahasiswa international di kampus saya kan paling banyak dari Iran ) ada Dadash Sina, Dadash Yashar, Ali, Elisa, Abjii Laleh, Abjii Roya dan Shadi. Dan tidak lupa, ada kak Huda sebagai penari handal tim kita, Mommy yang selalu setia dan abang Arif  Nazrey pelatih dari Aswara; mereka ketiganya berkewarganegaraan Malaysia.
Tim ini dibentuk oleh UPM ISA (International Student Association) dalam rangka undangan kompetisi 1 World Culture dari Nilai University. Saat itu Peter sebagai Head of Art and Cultural Committee mencari mahasiswa internasional UPM yang berminat untuk ikut kompetisi ini hanya via facebook. Hebatlah dapat 15 orang yang mau menari itu dalam waktu singkat, secara UPM ISA adalah organisasi yang didominasi para Master dan Phd student yang notabene mau ke universitas untuk belajar. Oh iya, saya lupa untuk menyebutkan dengan bangga, di tim kami ada tiga orang Phd student yaitu Daddy, Ali dan Dr. Huang. Saluut banget buat mereka yang over 30 years old tapi masih mau bergerak, dan tidak malu untuk belajar budaya lain, serta masih fokus untuk belajar. Sementara selain saya dan Kak Ziha, yang lainnya adalah master student ada yang masih lagi nulis tesis, ngambil kelas bejibun, lagi ada labwork tapi tetap semangat buat nari dan membawa nama universitas.

fitting baju, tapi bukan baju ini yang dipake

fitting baju, tapi bukan baju ini yang dipake

snack berat 2 hari sebelum lomba.. Double cheese burger!! free!!

snack berat 2 hari sebelum lomba.. Double cheese burger!! free!!

Drama international banyak dijumpai saat saya belajar ngedance ini. Mulai dari drama mencari tambahan satu Malaysian citizen untuk ikut nari bareng kami (karena itu requirement kompetisinya) sampai drama teriak teriakan karena tidak adanya kepemimpinan dalam grup ini. Peter sih yang harusnya memimpin, tapi karena background dia sebagai guru jadi dia lebih kalem dan mendengarkan saran semua orang yang hasilnya kita jadi bingung penuh dengan ketidakpastian karena dia bilang yes sama semua orang. Should I put this dance drama to another post? Hell yes!!

try to figure out how to play with this skirt

try to figure out how to play with this skirt

Lanjut yah, setelah melewati drama dan latihan yang membuat paha kram. Tibalah kami di hari kompetisi. Nomor urut 12 dari 15 peserta. Sesampainya di Nilai University, kami langsung registrasi dan sarapan. Setelah itu abang Arif meminta kita, tidak melihat competitor lain, secara kita yang newbie jadinya gampang rendah diri yang menjadikan kita galau yang selanjutnya membuat kita nervous lalu ga sanggup mengingat gerakan gerakan yang ada. Jadilah kita membajak satu ruangan di daerah agak terpisah dari tempat acara untuk di make-up. MAKE-UP!!!!

 

sayah dan kak liliiii dan perlengkapan make-up.. oh yaa

sayah dan kak liliiii dan perlengkapan make-up.. oh yaa

Make-up adalah hal yang sangat baru bagi saya yang sebelumnya malas untuk belajar menjadi wanita. Jadilah saat itu, saya yang merengek rengek untuk di make-up yang pertama. Satu orang membutuhkan 30 menit untuk dapat full make-up. Saya sampai sekarang masih kurang aware apa saja yang dipakaikan ke wajah saya, intinya lengkap dah. Di 30 menit yang menegangkan itu, saya was was akan jadi apa muka saya. Yah setelah melihat cermin, kalimat pertama yang saya bilang adalah “Wah, ternyata kalau di make-up saya bisa cantik juga” saya terharu. Setidaknya saya sudah bisa membayangkan kalau wedding saya tidak jelek jelek amat. Lega.

 

 

 

Sepertinya 800 kata sudah saya habiskan untuk post satu ini, jadi supaya kalian tidak kepanjangan membacanya saya lanjutkan di post lainnya yah untuk cerita tiga, TIGA penampilan kami di tiga event berbeda. Akhir kata,

not so bad, kaaan?

not so bad, kaaan?

Be fierce,

Azmi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s