Yah, I do really think I can dance, and everybody also can ;)

WELCOME

WELCOME

What a title, haha, ini karena saya sudah menulis tiga bagian untuk satu topik yang sama. Ini karena saya jatuh hati sama tari. Semoga kalian juga bakalan bisa punya kesempatan yang sama dan yang lebih dari pada saya yahh. Karena, oh my, the perks of being  a dancer itu sangat menyenangkan. In my case, penari dadakan yang gabung ama anak anak dari berbagai belahan dunia lain. Sebelum saya menjelaskan kelebihan kelebihan itu marilah saya ajak anda untuk mengunjungi dua performance tari saya yang tidak kalah spekatanya.

Makan Malam dengan Menteri Pendidikan

sinaran.. jeng jeng

Tidak sampai satu minggu setelah performance kami di Nilai University, Hal Ehwal Pelajar (bagian administrasi gitu dehh) UPM menginformasikan kepada kami melalui UPM ISA untuk bersiap siap perform lagi di dalam acara Dinner Reception with Ministry of Higher Education. Acara yang dihadiri oleh Mentri Pendidikan Malaysia, YAB Tan Sri Dato’ Hj. Muhyiddin bin Yassin ini diselenggarakan sebagai acara simbolisasi pemberian beasiswa di tingkat universitas dari negara Malaysia bagi mahasiswa nasional maupun internasional. Acaranya wah. At least, walaupun ga dibayar tapi perasaan puas bisa dapat tepukan meriah dari penonoton yang ramai sangat sudah cukup lah. Dan yang paling penting sih kita dapat fine dining. Lucunya beberapa teman teman dancer lebih memilih makan di backstage karna bisa ngambil lebih banyak porsi plus jenisnya lebih banyak. Tapi saya sih cerdas, pengen fine dining dan dapat makanan lebih, jadinya lah kami minta temen dari belakang buat ngebawain sate kambing dan sate ayam yang enaak dari back stage.

Pemenang juara satu kompetisi kemaren di undang juga, what was in my tought at that time is people not enjoy their performance so much. Pas waktu mereka nari beberapa asik aja makan dan bercengkrama dengan yang lain. Musik nya tidak greget sih. Faktor penontonnya lagi kelaparan mungkin salah satunya juga yaa. Huhuhu, masih aja ga terima ya saya.

Setelah berlari-lari malas ke backstage karena kekenyangan kami semua ngecek perlengkapan dan make-up. Oh ya, saya lupa cerita kalau di event kali ini persiapan nya sangat tidak terencana. Bayangkan yah, satu hari sebelum tampil, temen kami yang aneh itu membatalkan diri karena kaki dia sakit habis ikut marathon satu bulan lalu!! (cerita selanjutnya soal ini di post lain yah!!). Another thing is tidak ada yang provide make-up artist dan kostum buat kita. Walaupun setelah di desak akhirnya pihak UPM mau memberikan sejumlah dana dan memberikan surat pengantar untuk peminajaman kostum dari Astaka Seni. Kenapa harus tunggu di desak dulu coba kan yah?? Jadi kostum kali ini biasa saja, cuma kain yang dipakai sampai dada, dan kebaya panjang selutut dan yang lelaki masih sama. Less accessories sih , dan buat saya itu lebih oke. Tidak ada bustier yang dipake diluar, yang membuat saya telihat aneh terutama. Tapi untuk soal make-up karna ini malam, jadilah ka Lili our beloved make-up artist temannya bang Arif, mendandani kita dengan suasana malam yang lebih gemerlap, lipstick lebih merah dan bulu matanya itu lohhh, ampun deh panjangnyaaaaaaa. Gila banget deh, sampai penglihatan saya setengah nya jelas, setengahnya bergaris garis gara gara ketutupan bulu mata. Aha!!

Image

banyak yang minta poto looh

Guess how did we perform? muchmore better infact. Dan bahkan saya tidak melalakukan kesalahan, relationship saya dengan para kipas sudah terjalin dengan baik, mereka mekar dengan cantik saat kami berusaha membentuk bunga dengan kipas dan tangan tangan kami. Selendangnya peter udah saya ga injak lagi. Senyum saya selalu mengembang saat itu, dan menjadi lebih mengembang lagi saat melihat ke depan penonoton pada tepuk tangan, berhuhuhaaa, maju kedepan untuk foto kami. 😀 Bahagianyaaaa.

Image

ini Mas Jansen Karim Zebua, dari HELP University Suaranya keren kayak Glenn Fredly. Kenalan deehhh.

Image

Ka Huda, funny girl from Malaysia

International Food Festival

Nah selanjutnya, performance kami yang ketiga adalah pada International Food Festival yang diselenggarakan di UPM. Kali ini tanpa persiapan sama sekali, karna waktu itu benar benar sibuk. Kostum yang kemarin masih sama. Kali ini tanpa make-up artist, dan parahnya kipas untuk bagian Cina cuma ada 5 which is kita harus koreografi  ulang karna tarian bunga yang terakhir pasti ga akan cantik kalau satu orang pakai kipasnya satu. Parahnya lagi, kita ga bisa ketemu sama sekali hari sebelumnya, jadilah kami merubah koregrafi 30 menit sebelum acara.

Image

our third stage

Again I (kind of) ask you guess how was our performance? Jawabannya lumayan awesome, maish dapat tepukan yang luar biasa, penontonnya sendiri sih ga banyak banyak amat. Karena ini udah hari penutupan. Ada kesalahan kecil yang menegangkan (lebay saya mah, )saat awal saya harus pindah posisi ke tempat ka senia, ka senia tidak pindah, lalu saya refeleks teriak Move !!. But nothing we can do, soalnya music udah berganti jadilah saya improvisasi. Cukup bangga dengan diri sendiri sih. Hehehe still ujungnujungnya everything going so smooth. Ah jadi rindu masa masa gemerlap itu 😀

Epitrilogi Menari bagi Saya

Akhirnya benar-benar saya buktikan, dengan menari, kita bisa membahagiakan diri sendiri dan orang lain. Menari adalah alternative hobby bagi diri saya. Setelah saya cukup bosan membaca buku, malas menulis, tidak mood untuk belajar, dan tidak bagus bagus amat untuk menyanyi di ruang tamu. Menari bagi saya itu me.. apa yah loosing up my self kalau istilah yang saya dengar dari Chris Colfer. Badan saya jadi tidak kaku, jadi pikiran saya tidak kotak kotak, otak saya bisa jadi lebih fleksibel dan nyeni. Kreatif dan tidak stress sih intinya. Daaan selain itu saya bisa jadi lebih sehat! Bayangkan yah dalam satu bulan setiap hari pasti latihan 3 jam, uh keringatan, badan bergerak, jantung sehat, kurusan juga sih dikit. Dengan menari juga, saya bisa menghormati, menghargai, dan mempelajari budaya lain. Bayangkan yah temen temen Malaysia saya, merasa kagum dan bahagia karena ga nyangka kami mau menari tarian mereka.

Image

Happy, Actually

Ayo dong, kalian juga merasakan menari. Menari dengan hati. Pikirkan tujuan apa kalian menari, saran sih, kalau tujuannya eksploitasi diri mendingan berhenti. Hehe. Karena menari adalah menyelaraskan akal, jiwa dan hati. Beidewei, saya masih ingin menari lagi. Dan tidak hanya itu, harapan tahun depan ada rencana kami untuk membuat flash mob di UPM. Menyebarkan pesan, bahwa menari tidak Cuma tentang pakaian ketat dan lenggokan tajam. Tapi juga tentang kesehatan, ketenangan, dan kebudayaan. Selain itu kami juga sangat ingin membuat operet. Menggabungkan musik dan tari. Menyampaikan pesan dan perasaan tersembunyi. Terinspirasi dari glee, broadway, Tony awards, dan neil Patrick Harris. Ah, itu saya. Bagaimana kalian. Kalau soal tari bagaiman kalau kalian memilih satu tari yang rasional untuk dipelajari. Setelah itu jadikan sebagai bucket list. Atau juga boleh, menjadikan flash mob dan perform di depan umum sebagai bucket list kalian yang alin.Percaya deh, aderenalin yang melunjak lunjak, rasa nervous dan bahagia yang dirasakan worth it untuk dilakukan dalam hidup. At least, satu kali.

Be fierce,

 

 

Azmi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s