Tsunami dan Tikus

 

Dear kamu,

Bisakah sekali ini kamu
Dengarkan arus peradaban
Kalau perlu lompat saja
Ikut arus
Toh kamu juga
Bagian dari situ

Rasakan pahitnya debu permukaan
Juga muaknya air kecoklatan
Ah, kamu
Tenggelamkan dirimu lebih dalam
Hirup sana bau lelah di belantara deras

Sudah, tak sanggup?
Aku baru saja ingin menarikmu lebih dasar.
Memandikanmu dalam lumpur duka
Kalau bisa menenggelamkan kamu disana.
Biar seluruh indra kau dengar
Semua gejolak dari dasar

Tapi kau kan gendut pengecut
Yang tersenyum ketakutan
Di pinggir tebing
Bersama Tikus-tikus gendut

Dear kamu,

Peradaban ini menunggu
Peradaban ini berusaha menghasilkan
Tsunami besar
Yang akan kacaukan kerajaanmu
Kerajaan para tikus

PS: ini lagi kesel soal BBM –.–

Be Fierce,

Azmi

Advertisements

Hanya Orang Spesial

Aku baru ingat, malam itu kamu bilang..

“Yaudah gapapa (punya orang special lain selain pacar kamu) kan hubungannya ga kemana-mana”

Entah itu kode atau bukan –kamu sepertinya manusia yang terlalu sederhana untuk menyiapkan kode jitu seperti itu- aku senang. Kalimat itu seperti approval untuk perasaan berbeda ini ke kamu. Ah, ini konteks kalimatnya seolah si orang spesial itu baca ya. -_-

*uhukuhuk*

Jadi gini, ini cerita tentang saya dan seseorang yang terlalu spesial untuk dijadikan mantan, pacar kedua, atau calon suami cadangan. Nah, kalau kalian pernah mengalami perasaan seperti ini juga, pasti deh akan banyak pertanyaan yang muncul.

  1. Apakah ini perasaan cinta?
  2. Apakah perasaan ini salah?
  3. Haruskah dia tau kalau dia itu orang special bagi saya?
  4. Trus kalau dia udah tau, trus mau apa?
  5. Apakah perasaan ini akan hilang?
  6. Etc

Itu pertanyaan-pertanyaan saya. Tapi saya jugalah yang akan menjawabnya.

Dulu, cinta dalam definisi saya adalah seseorang yang bersedia menjadi suami saya. Tapi saat ada orang yang udah bersedia jadi suami eh saya nya nyantol ke yang lain, saya kembali mempertanyakan makna cinta.

Ternyata dalam pencarian definisi cinta, kita terlebih dahulu perlu menemukan akar dari cinta. Akar cinta adalah ketertarikan. Dan ketika ketertarikan itu menjalar tumbuh, maka batangnya adalah perasaan nyaman, nah barulah setelah itu tumbuh ranting-ranting suka yang membuahkan rasa cinta yang rimbun oleh rasa sayang. Di dalam case saya ini, saya membiarkan ketertarikan saya tumbuh. Walaupun saya tidak bisa memastikan apakah pohon ini sudah berdaun ataupun berbunga.

***

Salah saya memang, iya , saya salah. Banyak mungkin perempuan-perempuan diluar sana yang tidak suka (iri :P) karna begitu mudahnya saya jatuh suka. Sementara yang lain sedang berdarah-darah mencoba melupakan cintanya. Kalau ada yang bête, please talk to my hand. Karna bakalan useless buat ngomong ke saya kalau saya harus berhenti menyukai dia.

Menjawab pertanyaan ke tiga, iya harus, itu menurut saya. Kalau ada yang ga setuju lagi. Terserah deh. 😛

Saya itu menyetujui benar liriknya Imagine Dragons yang On Top of The World ituh…

If you love somebody
Better tell them while they’re here ’cause
They just may run away from you

You’ll never know quite when, well
Then again it just depends on
How long of time is left for you

Trus juga kalau menurut Goo Goo Dolls pas di Iris kan

….

If everythings made to be broken

I just want u to know who I am

See?

Saya percaya bahwa, ada semangat tersendiri yang terhadirkan ketika kamu tau kalau kamu itu special untuk seseorang. Semacam semangat untuk hidup, semangat bahwa kita itu berarti, walau cuma untuk satu orang.

*psssst, saya ga tahan baca puisi dia -yang bagus banget soal saya, dan itu puisi pas banget dengan diri saya, pengandaiannya manis,membaca puisi itu seperti teh melati buat saya, menenangkan, menyemangatkan- jadi malam setelah masing masing balik rumah, saya bilang deh “ummmm, actually ur presence is the thing I really really looking for, for my birthday #awkward ” :OOOOOOOOOOO

*pssstttt, di blognya dia nge-post puisi itu di bagian paling bawah tertulis –> P.S : yes, this one is especially made for one of my best person :D , lagi-lagi saya bingung apakah itu kode atau bukan –karna dia bukan tukang kode sepertinya- kenapa dia ga bilang friend, karna dia ga mau friendzone-in guweh?

*ke-PD-an*

*clear throat*

Sekarang, kami berada di posisi nyaman –bagi saya, sangat nyaman- dia hadir dengan banyak arti yang bisa saya resapi. Semacam dia tau dan saya paham, ada sesuatu di antara kita. sesuatu yang ga ada namanya. ini pas banget ama lagunya maliq d’essentials yang inihh..

Katanya ketika kamu jatuh cinta dengan orang yang mirip dengan kamu –disini saya dan dia mirip karna kita sama passionate soal kata, buku, dan tulisan- pelajaran yang bisa diambil adalah kamu lebih bisa menghargai dan mencintai dirimu sendiri, juga mengenal kembali mimpi-mimpimu yang redup.

Dia itu seperti sebatang korek api yang bisa menyalakan api unggun besar di diri saya. Saya hanya ingin terus di posisi ini bersamanya. Tidak ingin berubah, tidak ingin menyakiti dia, tidak ingin jauh dari dia. Huhhh, kalau saya memang cinta sama dia. Saya tetap tidak akan memilikinya, saya terlanjur janji dengan malaikat saya dari luar negri. Kalau memang saya mencintai dia. Terkadang, hidup tidak merelakan untuk menikahi orang yang dicintai. Tapi mencintai orang yang dinikahi, bukan?

Saat saya menikah dengan malaikat itu nanti, tidak aka nada lagi cinta saya untuk dia. Tapi, saat saya menikah dengan malaikat itu nanti, saya usahakan dia hadir disana, sebagai abang terbaik saya yang pernah ada. Sekarang saya mengusahakan agar tidak menyakitinya, dengan menjadikannya sebagai abang.

One does not simply, bro-zone is coming. 😀

PS: saya menyukai dia sudah sangat lama, 2 tahun yang lalu mungkin.

PSS: aku bahagia tentang kita

PSSS: boleh dicoba baca ini sambil dengerin Ternyata Cinta-Padi 😉

Be Fierce,

Azmi

Brace Yourself, Ramadhan is coming.

 

Halawatul Iman-Manisnya iman; Saya lupa tentang penjelasan materi dan ayat ayat yang ada dalam bahasan ini. Tapi, bahasan ini membekas. Hati saya faham saja apa itu manisnya iman. Hati saya merasakan, nikmatnya manisnya iman. Walaupun otak saya tidak. Saya bersyukur dengan girang, meski di dalam titik terendah dalam hidup saya. Iman masih tetap ada. Kepercayaan pada yang enam masih terjaga. Kokoh dan kuat. Menancap dalam lubuk hati saya. Tertanam pada cerebrum paling dalam otak.

*Azan shubuh berkumandang, pas saat saya nulis post ini, manis bukan? Seperti detail tidak penting dalam rancangan takdir Allah bagi saya untuk merasakan manisnya iman*

Saya baru menyadari manisnya iman dengan pasti saat menyambut Ramadhan ini. Ada perasaan yang meluap, menggetarkan, menggugupkan. Perasaan jatuh cinta lagi. Kepada Rabb, Rasul, dan Ramadhan-Nya. Perasaan ingin bertemu yang sangat dalam, perasaan takut jika tidak dipertemukan. Perasaan deg-deg-an karna persiapan belum maksimal. Perasaan sedih, karna tidak mempersiapkannya sebelas bulan belakangan.

*banyak Ustadz-Ustadzah yang ceramah beginian tapi saat kamu merasakannya, uhhhhh, indah menenangkan yang akan kamu dapat*

Saya lupa dan tidak pasti juga kenapa saya bisa merasakan manisnya kerinduan keimanan ini. Tapi, rasa-rasanya untuk mendapatkan rasa ini yang kamu perlukan hanya jatuh cinta pada Islam. Caranya? Kalau saya sih, dengan memahami makna diri, bahwa tugas di bumi hanya pada Illahi Rabbi. Saat itu, saya merasa terpaksa jatuh hati. Karnanya yang kedua yang harus dilakukan adalah mengenali Islam itu sendiri. Qur’an yang menjembatani di tambah dengan kisah para nabi. Niscaya, saat itu pasti akan langsung jatuh hati. Karna, jatuh cinta pada Islam adalah jatuh dan cinta yang paling aman. Tidak akan ada sakit. Yang ada hanya ketenangan hati. Saat mencintai.

Its like, no matter how low u fall, how wrong u become, how lost u are, u still have your God. And you know, Allah will help you no matter what, all u have to do just surrender and ask.

Bagi yang sudah jatuh cinta, tapi cintanya masih belum terbuktikan. Maka Ramadhan adalah pengingatnya. Ramadhan adalah pelatuk. Ramadhan adalah hadiah. Oleh yang dicinta untuk yang mencinta. Ramadhan adalah pelukan. Pelukan kepada hatimu dariNya.

Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban.

😉

 

Be Fierce,

Azmi

Berkata Tidak

 

 

Pernah nonton Yes Man yang salah satu aktornya adalah yang main Ace Ventura –oh- Jim Carrey!! Saya sih ga nonton sampai habis. Tapi, yang saya ingat film itu bercerita tentang, seorang pria yang tidak bisa menolak.

Ternyata menolak itu susah!

Dan sekarang saya sedang belajar menolak, belajar bilang tidak. Saat proses pembelajaran ini, saya menemukan tidak sedikit teman-teman saya yang juga kesulitan untuk bilang tidak, saat dirinya sebenarnya tidak nyaman untuk bilang iya. Boleh ga saya bilang, tidak bisa menolak itu tipikal orang Indonesia banget. Hm, lebih tepatnya orang Indonesia itu cenderung ga enakan, yang ujung ujungnya ga enak nolak.

Contoh paling nyata, yang saya ingat banget dari kecil adalah …

***

Nenek  : Mba, makan donat itu di atas meja dapur.

Azmi      : Ga ah, sudah kenyang

Mama   : Lain kali kalau ditawari makan, biar sudah kenyang bilang aja Makasih

***

See?

Padahal lebih oke lagi kan kalau bilang, “Ga Nek, sudah kenyang makasih ya”. Sikap ga enakan itu cenderung seperti white lie yang ga penting bukan sih?

Contoh lain yang baru-baru ini saya temukan dari teman saya:

***

Abang   : Proposal buat Cultural Show belum ada yang bikin. Bikin yah, jadi kita bisa dapat duit dari KBRI

Kaka      : Oh iya, Surat juga ya, Azmi kamu bikin suratnya bantuin aku ya.

Azmi      : *berfikir kan azmi dan kaka bukan sekertaris kenapa kita yang repot bikin surat, itu kan bukan kewajiban kita* hemmm iya *masih berfikir*

Saat dirumah,

Azmi      : Ka, aku ga mau bikin surat, itu bukan kewajiban aku

Kaka      : Yaudah lah kerjain aja ini kan demi PPI

Azmi      : Ga, ngantuk, bukan kewajiban aku. *ngomel ke kaka pentingnya bilang tidak, sama sesuatu yang bukan kewajiban kita*

***

Ahahahaha, jujur saat itu tuh baru ngerasa enaknya berkata tidak. Enaknya kalau tidak mengerjakan sesuatu yang bukan kewajiban saat kita lagi tidak ingin. Karna malam itu agak seperti saling marah. Siang besoknya kami saling minta maaf.

Ada lagi nih contoh parah dari temen yang lain lagi…

***

Azmi      : Halo kak, udah makan siang belum

Kaka      : Halooooohh, ga laper

Nyonya                : Loh kok kaka ngomong gitu ke Azmi

Kaka      : Emang napa?

Nyonya                : Kalau Azmi nanti tersinggung gimana

*gubrak*

***

Lagi-lagi ga enak-an. Takut kalau teman tersinggung. Kalau gitu kapan mau jujurnya.

Nah, kalau boleh saya menyimpulkan, kita harus berani berkata tidak, ketika:

  • Itu bukan kewajiban atau tanggung jawab kita
  • Kita merasa tidak nyaman atau tidak ingin melakukan hal itu
  • Hal itu adalah hal negative

It’s Okay to Say No

Mari belajar berkata jujur dan ada apanya dengan cerdas. Memahami apa yang kita inginkan dan menyampaikannya dengan tepat. Berkata tidak dengan mengolah bahasa yang sopan, sehingga tidak menyinggung siapapun, dan pesan kita tersampaikan dengan jelas. Jangan lupa berkata maaf atau terimakasih sebagai penyeimbang perkataan tidak kita.

Mari kita mengerti teman kita yang sudah berani berkata jujur mengungkapkan ketidaknyaman-an dia. Tidak itu tidak selalu berarti negative kan yaa… ^^Karna Say No itu bukan cuma sama narkoba ^^

Be Fierce,

Azmi

How to Save a Life

 

 

Where did I go wrong, I lost a friend

Somewhere along in the bitterness

And I would have stayed up with you all night

Had I known how to save a life

 

Ini lagunya the Script bikin saya tambah gatel untuk nulis. Karna saya sedang berusaha menyelamatkan seseorang akhir-akhir ini. Bodoh sih. Karna nyatanya diri saya sendirilah, orang yang paling harus saya selamatkan. Bodohnya. Consciously, saya dengan sendirinya membiarkan saya melakukan banyak kesalahan, lalu saya menolak untuk menolong diri saya. Rasanya sekarang ini, saya mau melakukan kesalahan yang banyak secara sengaja, hingga akhirnya saya sadar, kalau berbuat salah itu tidak baik. Bodoh kan. Saya fikir, toh saya masih 18. Saya yakin, orang yang bertipikal seperti saya ini, adalah orang yang bisanya belajar dari perbuatan, bukan dari teori yang ada.

Ah, harusnya post ini kan bukan buat saya. Post ini adalah buat seseorang, post ini saya dedikasikan untuk meminta maaf karna ikut campur urusan hidupnya. Sebut saja dia, si Mas. Si Mas ini orangnya manis, eh bukan deh baik banget. That’s why rasanya setelah mengetahui dia punya ‘masalah’ itu, ada ketidak realaan yang muncul di diri saya. Orang sebaik dia, dan masalah itu. Sial. Setelah mengutuk panjang, dan mencoba untuk menyangkal adanya si masalah, saya beranikan diri mencoba untuk menolongnya.

Di post ini, saya tidak ingin menceritakan masalahnya si Mas, karna pasti itu akan memperburuk keadaan, kalo dia tau ada satu post di blog saya tentang dia. Ah bahkan, mungkin akan banyak post-post selanjutnya tentang dia. Bukan mungkin, pasti. Karna sekarang ini, mikirin dia lebih banyak dari pada mikirin pacar. Segitu care nya saya sama si Mas. Bukan cinta kok, Cuma sayang. Si Mas itu seperti abang yang tidak pernah saya punya.

Step one you say we need to talk

He walks you say sit down it’s just a talk

He smiles politely back at you

You stare politely right on through

Some sort of window to your right

As he goes left and you stay right

Between the lines of fear and blame

And you begin to wonder why you came

 

Jadi, malam itu saya beranikan diri untuk bilang ke si Mas, saya tau masalah dia. Dia shock, dia sedih. Aneh. Saya juga beranikan diri menawarkan bantuan. Apa saja. Di fikiran saya, selama ini tidak ada yang mau membantunya. Analisa saya, si Mas adalah orang yang terlalu konservatif jadi susah membuka diri untuk mencari ide baru. Makanya, saya fikir saya adalah orang yang tepat untuk membantunya. Saya, anak 18 tahun yang sangat open minded dengan apa saja. Harusnya kan dia nyaman dengan saya, saya menerima dia apa adanya. Plus, saya sedikit interested dengan masalah dia ini. Sangat sassy.

Nyatanya dia menolak waktu saya bilang, “Mas mau berubah kan? Aku bantuin deh.”

PS: Banyak bulan yang lepas, saat ini saya dan si Mas tidak pernah bercerita masalah itu lagi. Sepertinya dia akan berubah. Entah.

Kuningan is Never be an Ampang

Blush

There’s a wind sing beside me

Brush Brush Brush

Heavy rain sing along with me

Brum Brum Brum

Ah That’s my motorbike Twinkie

Teet Teet Teet Teet Teet

The road start to scream

Beep Beep

My lamp signal suddenly blinking

Hihihii

Never mind just a lady across the street

60, 80, then 120

My Twinkie still run smoothly

Make it faster baby

Yell a lady in pink

Don’t  you know dude?

I am Rempit

The King of Ampang street

I can drift all the street

Until it become sheet

Red and yellow it mean green

Fly on the street? Um I just can grin

I can fit between two trucks

Cutting, turning and no signaling are my specialities

Dusty air tickles me

Deserted road convince me

I am the king here

Lets show people I own the street

Furious I am

Fast is my Twinkie

The tire cant stop spinning

I show people I own the street

Brak, Brukk

Ahhhhhh, Kretak

I see blood

I cant wake up

I hear a lady cant shut up

Oh I just hit someone….

***

I face a fierce sun, now

Wrestle with stifle air, now

Grapple the unknown street, now

I can’t take it, now

I am without Twinkie, here

On the sweatiest street I’ve ever been

In a wicked city

Oh I cant take it

Cutting, turning and no signaling are my specialities

Uh not here

I hear people scolding

I just can keep honking

I see  beggars asking

Oh I cant take it

My sight freeze

I am not moving

I even cant blocking

I feel like a dumb king street

Oh ya I am not king here

Its not Ampang dear

Kuningan it is

 

PS: ahahhaa, ini puisi buat exam >.<

What this (last) year have taught you?

 

 

Kalimat ini menjadi judul di catatan pemimpin redeaksi Majalah CLEO edisi Desember 2012. Jeder.. ga biasanya sih begitu buka majalah tetiba berhenti di bagian tulisan pemred. Tapi begitu liat judul ini rasanya diri saya langsung membeku. Tiba-tiba ada rasa takut yang datang. Setelah saya cek lagi kenapa ada rasa ini. Ternyata saya takut tidak menjawab pertanyaan di atas dengan baik. Saya terdiam, berusaha menenangkan pikiran. Menahan tangisan, ingin melanjutkan pemikiran saya melalui tulisan saja. Agar saya ingat. Dan akhirnya datanglah saat ini. Di starbucks The Mines dekat kampus saya, di kursi merah yang sama, dengan minuman yang lebih pahit. Saya ingin meneliti kembali hari-hari yang terlangkahi. Melalui wangi.

***

Rencananya saya ingin mencium lagi bau awal Januari sekarang ini. Tapi tidak, saya takut menghirup masa itu. Karna dengan mengingat Januari, tarikan nafas saya berhenti, mencoba untuk berbalik lari. Setidaknya, wangi februari lah membuat saya bertahan, aroma baru yang sangat kuat, aroma yang aneh bagi jiwa saya. Wangi yang tepat sebelum saya menghirup wangi di bulan maret. Kawan,Maret  berbau seperti bau duri bunga mawar merah, menghirupnya seperti menghirup fatamorgana keindahan. Susah untuk membedakan realita dan fana disana. Tapi setidaknya dengan menghirupnya, nikmat pun masih bisa dikecap, meski sekejap.

Ah ternyata saya baru ingat, saya memulai awal tahun ini dengan berat. Dengan ketiadaan, dengan ketidaktepatan, dengan kesalahan tahun sebelumnya. Jika di fikir ulang, SESAL adalah pelajaran pertama dari tahun ini. Caturwulan pertama saya habiskan untuk menyesali sambil meyakinkan diri, kalau seburuk apapun saya, saya akan bisa bangkit lagi. Meski saya sudah sering jatuh, sesal meyakinkan saya untuk tidak jatuh lebih banyak lagi, at least mencoba untuk tidak. Sesal membawa saya jauh lebih dekat dengan Allah. Karna dengan sesal, saya terus saja memohon ampun kepadaNya.

Karna diantara sesal, juga terselip keputusasaan, maka saat itu juga saya semakin gencar untuk menuntut pertolongan.

Saat bertemu bulan April, saya mulai bisa menikmati rasa nyaman. Jika dikomparasikan dengan warna,April adalah Red, Accent 2, Lighter 80%. Dan bulan May lebih jelas dari pada bulan April, dia adalah Red, Accent 2, Lighter 40%. Saya menyukai warna ini seperti saya menyukai bulan May. Jika dibandingkan dengan rasa, April adalah rasa segar saat kamu meminum orange juice di hari yang panas, sementara May adalah rasa nikmat saat kamu memakan redvelvet cupcake dengan chocolate ganache di atasnya. Oh ya dan Juni, uhm jika warna ia adalah Aqua accent 5, lighter 40%. Dan kamu bisa mencicipi Juni saya, saat kamu makan durian.

Pelajaran di catur wulan kedua adalah pelajaran tentang bahagia. Tentang syukur sih. Bagaimana takdir yang sebelumnya adalah benang-benang terpisah, sekarang berkolabarasi menjadi satu sulaman yang indah. Sulaman yang akan dipajang sepanjang nafas saya masih ada. Sulaman yang entah terjaga atau tidak nantinya. Sulaman itu berceritakan tentang perayaan cinta.

PS: Tulisan ini dibuat awal Januari 2013 bercerita tentang Januari 2012 sampai Juni 2012. Kalau mood sudah hinggap. Catatan Caturwulan saya, akan dilanjutkan. ^^

Be Fierce,

Azmi