How to Save a Life

 

 

Where did I go wrong, I lost a friend

Somewhere along in the bitterness

And I would have stayed up with you all night

Had I known how to save a life

 

Ini lagunya the Script bikin saya tambah gatel untuk nulis. Karna saya sedang berusaha menyelamatkan seseorang akhir-akhir ini. Bodoh sih. Karna nyatanya diri saya sendirilah, orang yang paling harus saya selamatkan. Bodohnya. Consciously, saya dengan sendirinya membiarkan saya melakukan banyak kesalahan, lalu saya menolak untuk menolong diri saya. Rasanya sekarang ini, saya mau melakukan kesalahan yang banyak secara sengaja, hingga akhirnya saya sadar, kalau berbuat salah itu tidak baik. Bodoh kan. Saya fikir, toh saya masih 18. Saya yakin, orang yang bertipikal seperti saya ini, adalah orang yang bisanya belajar dari perbuatan, bukan dari teori yang ada.

Ah, harusnya post ini kan bukan buat saya. Post ini adalah buat seseorang, post ini saya dedikasikan untuk meminta maaf karna ikut campur urusan hidupnya. Sebut saja dia, si Mas. Si Mas ini orangnya manis, eh bukan deh baik banget. That’s why rasanya setelah mengetahui dia punya ‘masalah’ itu, ada ketidak realaan yang muncul di diri saya. Orang sebaik dia, dan masalah itu. Sial. Setelah mengutuk panjang, dan mencoba untuk menyangkal adanya si masalah, saya beranikan diri mencoba untuk menolongnya.

Di post ini, saya tidak ingin menceritakan masalahnya si Mas, karna pasti itu akan memperburuk keadaan, kalo dia tau ada satu post di blog saya tentang dia. Ah bahkan, mungkin akan banyak post-post selanjutnya tentang dia. Bukan mungkin, pasti. Karna sekarang ini, mikirin dia lebih banyak dari pada mikirin pacar. Segitu care nya saya sama si Mas. Bukan cinta kok, Cuma sayang. Si Mas itu seperti abang yang tidak pernah saya punya.

Step one you say we need to talk

He walks you say sit down it’s just a talk

He smiles politely back at you

You stare politely right on through

Some sort of window to your right

As he goes left and you stay right

Between the lines of fear and blame

And you begin to wonder why you came

 

Jadi, malam itu saya beranikan diri untuk bilang ke si Mas, saya tau masalah dia. Dia shock, dia sedih. Aneh. Saya juga beranikan diri menawarkan bantuan. Apa saja. Di fikiran saya, selama ini tidak ada yang mau membantunya. Analisa saya, si Mas adalah orang yang terlalu konservatif jadi susah membuka diri untuk mencari ide baru. Makanya, saya fikir saya adalah orang yang tepat untuk membantunya. Saya, anak 18 tahun yang sangat open minded dengan apa saja. Harusnya kan dia nyaman dengan saya, saya menerima dia apa adanya. Plus, saya sedikit interested dengan masalah dia ini. Sangat sassy.

Nyatanya dia menolak waktu saya bilang, “Mas mau berubah kan? Aku bantuin deh.”

PS: Banyak bulan yang lepas, saat ini saya dan si Mas tidak pernah bercerita masalah itu lagi. Sepertinya dia akan berubah. Entah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s