Gua Manusia

 

 

Bicara pada dinding fana

Antariksa sebelah sana

Pintu langit yang hangat di bentuk sejak lama

Sembilu rasa, perasa pada buku-buku jari kita

Kilau sadar, syukur di sepertiga lidah

1459775_744563095558013_1424485881_n

Berbisiklah,

lewat ujung kaki

lalui zaman kini

gerai tapak yang dinanti

Adakan rasa

Rekahkan peka

Rasakan syukur di hujung sana

how can someone become an atheist after seeing this?

how can someone become an atheist after seeing this?

Inilah hati,

Yang kembali ingat pada jiwa-jiwa yang mati

Sembilu petik zahir yang tak ingin berhenti memahami

Tika langit sediakan

Tatap siap hati yang tutup hitam sanubari

Tika langit bukakan

Lahan angkasa luas yang siap dijejaki

Sekedar lewat, sembari lupa sedih hati

1461197_744570162223973_1476310893_n

Adulah nikmat,

pada rahsia lama

hujung semua decak setiap manusia

Adalah sadar

Pada tak ada yang nyata

Dan nyata yang tak ada

Syukur kita

Lepasnya jiwajiwa kita

Gema pada senila rongga

Gua-gua manusia

1464723_744570075557315_726273849_n

PS: Ditulis di tengah Ha Long Bay setelah terinspirasi oleh Hang Sung Sot

 

 

Di ujung eyeliner pudar matanya

Kerut nampakkan serum anti-muda

Dalam balutan tiga warna di atas tubuhnya

Ia terlihat gelisah

Ikat rambutnya

Tampakkan “Aku ingin cepat-cepat keluar kereta”

Senyum simpulnya

Terbentuk dari resonansi getar suara

Suara di belahan lain dunia

di ujung  genggam teleponnya

Dikepitnya kotak hijau

Ujung jari  pun diremasnya

Bisikkan : “Aku tak sabar sampai rumah..”

PS: Ditulis saat lagi bengong di komuter menuju Serdang

Pendulum

Sebuah pendulum masih bergerak tak tentu

Ritmenya kacau digoyahkan para debu

July, 2013

tumblr_mdus5oMGgH1r93oh0o1_500

Pendulum yang sama

Berhimpun, menumpu pada pendulum lainnya

Bersama menata diri, pada sebuah gantungan besi

Teratur ritmenya kini

Tak ada debu yang meracau

Desir debu justru menata nada-nada

Pendulum yang sama

Melayang dalam ritme

Indah, nada nada kehidupan

Bersama pendulum lainnya

Di sebuah gantungan besi tak berkarat

November, 2013

Belajar dari Ho Chi Minh

#MenjejakASEANdiVietnam #part2

ini danau samping hotel saya yooo

ini danau samping hotel saya yooo

Agenda hari  ketiga ASEAN Youth Day Meeting 2013 adalah jalan-jalan di pusat kota yang ternyata, bukan cuma lihat pemandangan alam atau pergi ke pasar buat belanja. Panitia justru mengajak kami untuk wisata sejarah dan budaya. Perjalanan di mulai dengan melawat “manusia terbaik” Vietnam, Presiden Ho Chi Minh. Well, kesana sih bukan untuk berdiskusi atau mendengar pidato beliau, secara beliau sudah meninggal sejak tahun 1969. :O

beberapa detik setelah foto ini, kuya tobit dimarahi oleh bapak penjaga dibelakangnya \m/

beberapa detik setelah foto ini, kuya tobit dimarahi oleh bapak penjaga dibelakangnya \m/

Ranjang Terakhir sang Presiden

Di pusat kota Hanoi, mengantrilah kami berbaris dua di tengah tengah Ba Dinh Square untuk masuk ke Mausoleum President Ho Chi Minh. Saat masuk kesana penjagaan cukup ketat, tidak boleh ada kamera, bahkan yang memakai bawahan pendek juga dilarang masuk. Sayangnya penjagaan yang cukup ketat ini tidak dibarengi, informasi yang memadai di internet. Jadilah salah satu teman saya tidak bisa memasuki Mausoleum dan harus menunggu di luar. Di depan barisan kami, penjaga berbaju putih khas seragam polisi membimbing kami untuk memasuki Mausoleum yang bentuknya sangat simetris itu. Sesampai di depan gerbang, ada upacara pemberian bunga yang dilakukan penjaga rombongan kami kepada penjaga penjaga pintu gerbang. Setelah itu, barulah rombongan kami yang berjumlah kurang dari 100 orang itu bisa masuk ke dalam memorial Presiden  Ho Chi Minh itu.

nampak belakang Mausoleum

nampak belakang Mausoleum

Di dalam, tidak boleh ada suara berisik sedikit pun dan tidak boleh ada langkah kaki yang nyaring.  Kenapa harus seketat itu ya? Padahal, tau nggak di dalam Mausoleum itu ada apa? Cuma jasad palsu presiden Ho Chi Minh boww! Jadi setelah naik tangga dan belok kanan dalam Mausoleum yang sepertinya di buat dari batu itu. Kita akan sampai di dalam ruang  yang cukup besar. Tapi, untuk masuk kesana hanya di sediakan lorong yang bisa di lewati satu orang dalam satu barisan. Di tengah nya ada ranjang besar, yang diatasnya terbaring jasad palsu Ho Chi Minh. Dua orang penjaga, yang tidak bergerak sedikitpun saat kita masuk, berdiri gagah di depan ranjang yang terletak tinggi di atas mereka. Saya fikir disana akan ada penjelasan atau barang-barang bersejarah apalah soal Ho Chi Minh. Ternyata saya salah, kita cuma boleh jalan pelan-pelan disana. Berdiri diam barang sebentar pun tidak di perbolehkan. Jadilah kita hanya menyaksikan wajah tenang Ho Chi Minh yang berbaring di bawah sinar lampu yang menambah efek sendu dalam ruangan remang-remang itu. Setelah keluar dari Mausoleum semuanya sibuk mengeluarkan suara yang kurang lebih bernada sama.. “Oh ternyata Cuma begitu!!” :3

Bukan Istana Kepresidenan

Untungnya, pengelola Mausoleum sadar betapa tidak puasnya para turis yang cuma disuguhi jasad palsu di dalam Mausoleum itu. Dalam area yang sama, ternyata ada istana kepresidenan dan  rumah Ho Chi Minh lainnya. Nah untuk pergi kesana, penjagaannya tidak seketat untuk ke Mauseleum. Kamera kami dikembalikan, dan teman saya yang memakai rok pendek tadi diperbolehkan kembali ke rombongan. Yang lebih kece lagi, karna rombongan kami official kenegaraan, jadilah kami ditemani guide tour resmi yang bahasa Inggrisnya oke punya. Secara di Vietnam susah nyari orang yang bahasa Inggrisnya bagus. :O

kuninggggggggggg... :O

kuninggggggggggg… :O

Cuaca Vietnam akhir tahun pasti menjadi favorit turis manapun, anginnya berhembus sejuk sejuk kencang. Tidak terlalu panas tapi ga dingin juga, adem deh. Setelah berjalan sekitar lima menit sampailah kita ke bangunan mentereng warna kuning, yang ternyata adalah istana kepresidanan. Saya sampai kaget karna warna kuningnya sangat mencolok, bukan Cuma di istana ini, tapi sesaat sebelum landing juga, saya melihat dominasi warna kuning dari rumah-rumah penduduk. Setelah bertanya kepada tour guide, ternyata warga Vietnam percaya bahwa warna kuning itu membawa keberuntungan. Termasuk kenapa warna gedung mewah ini kuning juga karna kuning adalah simbol dari royal dan loyal.

Awalnya istana ini dibangun oleh pemerintah kolonial Prancis saat menjajah Vietnam dulu sebagai rumah Gubernur Indochina (Vietnam, Laos dan Kamboja). Tercatat ada 29 Gubernur yang tinggal di istana kuning ini. Nah setelah Ho Chi Minh mengambil alih dan membabat habis Prancis, kawan-kawan seperjuangannya menyarankan Ho Chi Minh untuk mengambil alih istana kuning ini sebagai rumah pribadinya sebagai Presiden. Tapi, Ho Chi Minh menolaknya, sebagai pribadi yang sangat rendah hati, beliau malah memilih istana kuning itu sebagai basecamp Partai Komunis Vietnam yang saat itu memimpin negara.

“Our people finally get their freedom, this house is theirs, with this house we have to served them” Ho Chi Minh for his presidential palace.

Rumah Tiga Jendela

Nah, dimanakah Ho Chi Minh tinggal setelah itu? Di rumah kecil di belakang istana, yang dulunya adalah pusat listrik. Hanya ada tiga ruangan di rumah itu. Dan kita bisa melihat ruangan itu dari luar melalui jendela besar. Dari rumah itu, kesederhanaan seorang Ho Chi Minh akan lebih kita rasakan. Bagaimana tidak, dari ruang tidurnya kita hanya bisa menemukan dipan kecil yang tidak berkasur dan lemari yang hanya terisi beberapa lembar baju. Di pojok kamar tidur itu, kita bisa melihat satu saja pajangan indah, kenang-kenangan dari Fidel Castro. Selanjutnya, ada ruang makan yang hanya dihiasi sebuah radio, yang merupakan pemberian dari seorang mahasiswa Vietnam yang bersekolah di Hungaria. Radio ini seolah menjadi saksi, perjuangan Ho Chi Minh yang sangat mementingkan pendidikan bagi pemuda Vietnam saat zaman perang. Dan di ruangan ketiga, foto Karl Marx dan  Lenin cukup besar mendominasi ruh ruang tamu sekaligus ruang baca itu. Dari ruang itu juga pemandangan kolam ikan favorit Ho Chi Minh terlihat sempurna. FYI, kolam ikan favorit Ho Chi Minh ini dari dulu sampai sekarang juga menjadi pusat perhatian bagi warga Vietnam, bagaimana tidak setiap 19 May, yang merupakan hari ulang tahun Ho Chi Minh. Para pekerja pemerintah ramai ramai menangkap ikan di kolam itu dan membagi-bagikannya kepada khalayak ramai.

“There are lots of difficulties out there; poverty, hunger and war. I can’t add anything for myself. And I really want other leader to share everything they have as well. “ Ho Chi Minh and his humbleness.

Pondok di Hujung Mudanya

maafkan banyaknya khalak ramai disana

maafkan banyaknya khalak ramai disana

Tapi, Ho Chi Minh hanya hidup di rumah itu selama empat tahun saja, dari tahun 1954-1958. Karna rumah itu terlalu sempit dan sirkulasi udara yang tidak cukup baik. Maka, rakyat Ho Chi Minh membuat sebuah rumah baru di sisi lain kolam, yang bergaya seperti rumah-rumah di daerah Pegunungan di Vietnam. Rumah ini di bangun dua lantai. Lantai bawah adalah ruang tamu yang tidak berdinding, ditengahnya ada meja besar dan beberapa kursi, di sekililingnya masih ada tempat untuk duduk lesehan. Setiap harinya, banyak anak- anak yang datang bermain kesana, karna memang tempat itu menyenangkan, persis seperti oase di tengah kerontang jaman perang. Ya, Ho Chi Minh sangat suka dengan anak-anak. Meski begitu, Ho Chi Minh tidak pernah berkeluarga.

 

“Two things that you should not learn from me: 1. Smoking 2. Not Getting Married” he smile, smoke burst out of his lips. He cough and smile again to those children around him.

Ho Chi Minh terlalu mencintai Vietnam, sehingga dia sangat ingin fokus membangun Vietnam, dan takut akan melalaikan keluarganya jika ia menikah.

“All Vietnam people is my family member. So all of their children are my children.” Ho Chi Minh about his family.

Kecintaan Ho Chi Minh pada anak-anak ini membuat rakyat Vietnam bertambah cintanya padanya, sampai-sampai salah satu lagu nasional Vietnam memuat lirik seperti ini:

“No one love children like Ho Chi Minh” “No one love Ho Chi Minh like children”

Dirumah ini jugalah, kita bisa melihat pohon star apple (sawo duren) buah yang jarang di temukan di Hanoi apalagi di Indonesia. Ternyata pohon ini khusus diberikan oleh rakyat Vietnam Selatan, sebagai bukti rindu mereka ingin bertemu Ho Chi Minh, tapi karena padatnya tugas beliau di utara, menjadikan kesempatan itu tidak pernah datang hingga akhir hayatnya. Bisa dibayangkan bukan, jiwa kepemimpinan Ho Chi Minh yang menembus jarak. Pastinya kecintaan rakyat ujung Vietnam itu bukan hasil pencitraan yaa. 😉

Bunker Baja, Saksi Menutup Usia

George Washington of Vietnam

George Washington of Vietnam

Sebelas tahun tinggal di rumah sejuk nan sederhana itu, pecahnya perang antara Amerika dan Vietnam pada tahun 1964, membuat khawatir rekan-rekan Ho Chi Minh. Mereka lalu meminta izin untuk membuat rumah baru untuk sang Presiden. Tapi ide itu mentah-mentah di tolak Ho Chi Minh, dengan alasan yang sama, dia tidak ingin boros hanya demi dirinya sendiri. Perang semakin berkecamuk, tentara Amerika sudah dikalahkan di Vietnam Selatan, mereka lalu menyerbu Hanoi untuk mencari basis tentara baru. Pemboman terjadi dimana-mana. Dalam radius satu kilometer dari rumah Ho Chi Minh, sekolah, rumah, bahkan perusahaan-perusahaan di hancurkan.

Ketika Presiden Ho Chi Minh pergi ke China, untuk membangun kerjasama politik disana, para kawan-kawan beliau melihat ini sebagai kesempatan untuk membuat rumah baru bagi Ho Chi Minh, meski tanpa izin beliau. Rumah ini pun didesain anti peluru dan bom, ditambah dengan akses terowongan yang langsung terhubung dengan bunker bawah tanah. Rumah yang didesain langsung oleh tentara ahli Vietnam pada tahun 1967 ini, punya ketebalan dinding 0.6 m loh!

Setelah selesai di bangun pada tahun 1969, Ho Chi Minh pindah ke bunker sederhana itu. Namun, hanya dua minggu beliau menggunakan rumah itu sebagai tempat rapat dan istirahat, Ho Chi Minh di temukan meninggal karna serangan jantung pada tanggal  2 September 1969. Tepat 24 tahun setelah ia berdiri di Ba Dinh Square untuk meneriakkan kemerdekaan bagi rakyat Vietnam.

“I haven’t finished my duty to the country” Ho Chi Minh last words.

Ho Chi Minh mati saat dia memperjuangkan visinya, visi membangun Vietnam. Dalam kesendirian, kesederhanaan dan dengan teguh hatinya. Cintanya, wujud ramah pribadinya melekat di rakyat. Hingga namanya diabadikan di sebuah kota, yang dia perjuangkan tapi tak pernah dikunjunginya.

Di Bunker yang sebenarnya tertutup untuk khalayak ramai itu, tersimpan abunya. Namun pada hati-hati manusia Vietnam hingga kini Ho Chi Minh lebih dari sekedar bakaran sisa tubuh. Ada gelora yang bersemayam, seolah setiap gerik buruk laku masa kini, Ho Chi Minh selalu mengawasi. Sebagian lain masih menggenggam visi sang Pecinta negri, Sebagian lain lupa. Sederhana yang di telan kekinian.

lanjut kemana lagi ya?

lanjut kemana lagi ya?

Menjejak ASEAN di Vietnam part1

Setelah berhasil mendapatkan piala Sugondo Joyopuspito pada  28 Oktober 2013 untuk kategori organisasi kepemudaan terbaik nasional di Samarinda. YouthCare Indonesia membuktikan mampu melebarkan sayapnya ke tingkat regional ASEAN. Kamis, 7 November 2013 Kemenpora mengirimkan undangan untuk Youthcare mewakili Indonesia di ajang Asean Youth Day Meeting 2013 pada 11-15 Januari 2013 di Ha Noi, Vietnam. Sejalan dengan lomba Organisasi Kepemudaan Terbaik Nasional, maka Ridho Ulul Azmi lah yang terpilih untuk mewakili Indonesia sekaligus mempresentasikan Youthcare di ajang Ten Accomplished Youth Organization ke-10 yang juga merupakan bagian dari acara Asean Youth Day Meeting.

itu saya sama ka Andra di tengah :0 piala dan 30 juta Alhamdulillah

itu saya sama ka Andra di tengah :0 piala dan 30 juta Alhamdulillah

Para Muda Indonesia

Terik hangat Jakarta rush hour memaksa saya untuk tidak datang ke gedung Kemenpora di Senayan. Alih-alih berkumpul di sana, saya malah memutuskan mengulur waktu lalu membuat janji dengan taksi, dua jam sebelum pesawat berangkat. Setelah di taksi, saya baru sadar keputusan itu sangat salah. Mengingat saya tidak tahu kondisi airlines yang akan saya tumpangi dan saya tidak tahu dengan pasti orang-orang yang akan pergi dengan saya ke Vietnam nanti. Dan lagi, tiket saya  belum dicetak. Sementara, Vietnam Airlines adalah maskapai penerbangan terbaik Vietnam, who knows karna penerbangan terbaik menjadikan maskapai ini sangat disiplin, sampai-sampai mereka ngga mau nerima saya yang telat check-in. Untungnya saya salah, maskapai ini memang salah satu yang terbaik. Pelayanan di check-in counter sangat helpful dan ramah, meski saya datang kurang dari satu jam sebelum keberangkatan.

Di depan check-in counter tiba-tiba saya didatangi oleh seorang pemuda dengan ransel berselempangkan songket khas Pontianak. Ternyata, dialah salah seorang teman delegasi Indonesia yang akan bersama-sama berangkat ke Vietnam. Romzi namanya, perwakilan dari PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) pusat. Tidak seperti saya dan Youthcare yang datang karna memenangkan lomba, PMII khusus di undang karna telah menjadi salah satu organisasi pemuda Indonesia yang bersiap untuk go international dengan menyelenggarakan acara Asean Youth Assembly yang di adakan di Jakarta, Agustus lalu.

Selain Romzi, di counter check-in juga lah saya bertemu delegasi Indonesia satu lagi. Bayu Kuntani, Pemuda Pelopor Indonesia 2013. Lelaki asal Bantul ini sepak terjangnya untuk menjadi salah satu pemuda terbaik di Indonesia, sudah diawali sejak umurnya masih 19 tahun. Ia mendirikan modeling agency  yang dinamakan Starlight Production, yang sudah menghasilkan model-model setaraf Miss Indonesia. Tidak hanya itu, Bayu dan Starlight Production-nya juga memberikan perhatian yang cukup besar untuk kebudayaan Indonesia terutama kebudayaan Jawa.

Tidak sulit bagi kami bertiga untuk mengenal satu sama lain karna kami punya perhatian yang sama di bidang pendidikan. Saya bercita-bercita menjadi pakar di Pendidikan Anak Usia Dini, Kang Romzi sudah punya pesantren di Melawi, Kalimantan Barat dan Bayu yang aktif berkontribusi di PAUD sekitar lingkungan desanya. Kami bertiga sama-sama percaya, Indonesia mampu bangkit jika pendidikannya terlebih dahulu bangkit. Kami bertiga yakin, harus adanya perhatian yang lebih besar lagi pada anak-anak Indonesia, pada pendidikan mereka, karna merekalah nantinya yang akan bersama-sama mengangkat berat masalah negri kita tercinta. Sayangnya pembicaraan penuh semangat di sela-sela antrian imigrasi dan scanning barang itu harus terhenti, karna pesawat sudah boarding dan sayangnya kami ada di tempat duduk yang berbeda-beda.

Berangkat waktu dzuhur dan tiba di Ho Chi Minh saat matahari sudah terbenam, keadaan lapar sedikit menyiksa kami, karena makanan di pesawat yang tidak tasty. Bahkan ada beberapa kawan yang tidak makan karena pilihan menu ikan sudah habis, dan hanya pork saja yang tersedia. Keadaan lebih menyiksa, ketika tidak ada satu pun dari kami yang punya uang Dong ataupun uang Dollar. Meski begitu, tidak ada yang mau pergi ke money changer untuk menukar uang, dengan asumsi menukar uang di pasar Hanoi akan lebih murah. Untungnya tidak membutuhkan waktu lama, untuk boarding ke pesawat selanjutnya. Apalagi saat menunggu, kami diselingi dengan candaan beberapa nini-nini Sanggar Senam Osteoporosis dari Bogor, yang sibuk minta foto dan minta tolong untuk menonaktifkan smartphone mereka supaya ngga kena roaming.

Meski menggunakan maskapai yang sama, ternyata connecting flight saya menggunakan pesawat yang berbeda, dan kali ini lebih besar.  Tidak tahu pasti apa modelnya, tapi dalam satu baris saja ada 10 tempat duduk. Dan setiap kursinya dilengkapi dengan lcd tv 5 inchi yang menempel di bagian belakang setiap tempat duduk. TV itu menyediakan pantauan jarak penerbangan sampai tujuan, film film blockbuster, lagu top 40 dan klasik billboard, sampai games sederhana seperti Pacman dan Mario Bros. Yeah! Dua jam perjalanan betul betul tidak berasa.

inilah kami 5 delegasi Indonesia untuk AYDM 2013

inilah kami 5 delegasi Indonesia untuk AYDM 2013

Keluarga ASEAN

Sesampainya di Hanoi angin berhembus cukup dingin, padahal jam tidak menunjukkan perbedaan waktu dengan waktu Jakarta. Sesuai sih dengan yang saya baca di majalah pesawat, akhir tahun memang waktu musim dingin bagi Hanoi yang mempunyai empat musim.

Di bandara kami dijemput oleh Liasion Officer yang ramah, perempuan Vietnam ini mengenalkan dirinya sebagai Fish, karna memang agak susah nama aslinya untuk disebutkan. Selain itu kami juga bertemu mas Secretary of ASEAN Youth dari Jakarta. Perjalanan untuk sampai ke hotel cukup lama, tapi tidak terasa karna kami menghabiskan waktu untuk belajar bahasa Vietnam. Fish lalu menjelaskan cara berkenalan dan cara menawar di pasar dengan bahasa Vietnam.

akang, fish, dan azmi; all in blue; no we r not chelsea fans :3

akang, fish, dan azmi; all in blue; no we r not chelsea fans :3

Ini dia saya list beberapa kata yang mudah, bukan dalam tulisan vietnam, tapi saya tulis menggunakan cara bacanya ya…

  • sin cau = hello
  • kam eun = terimakasih
  • ca boi sang = selamat pagi
  • ca boi toi = selamat malam
  • ten toi la azmi = my name is azmi
  • zet voi dung gap ba = nice to meet you
  • dat kwa = too expensive

 

 

Pada pukul 10 malam baru lah kami sampai di Daewoo Hotel, hotel bintang lima ini menjadi pilihan pihak penyelenggara acara untuk menyambut para pemuda  seantero ASEAN. Sayangnya, kami tidak sempat mengikuti delegations briefing yang diadakan pukul 8.30pm malam itu. Setelah check-in, kami langsung menuju restoran terdekat untuk makan malam. Tidak ada yang khas, hanya nasi goreng dan pizza yang punya rasa yang sama, rasa seafood, sehingga agak sulit untuk membedakan mana pizza dan mana yang nasi goreng. :3

Saat makan malam, obrolan yang paling saya suka adalah cerita mas Jendra soal kiprahnya di dunia ASEAN. Setelah menjabat sebagai Secretary of ASEAN di bidang kepemudaan, mas yang merupakan lulusan UGM jogja ini menjelaskan soal posisinya yang “bukan” warga Indonesia lagi, tapi warga ASEAN. Sehingga ia harus terus bersikap netral saat membahas apapun soal Negara-negara ASEAN. Kami pun juga lanjut membahas soal kemungkinan asosiasi ASEAN untuk menjadi seperti European Union. Well, kesimpulannya ada pesimisme disana, kemungkinan perkembangan ASEAN yang tidak akan menjadi sebesar EU, dikarenakan perbedaan kondisi geografi dan latar belakang sosial budaya.  Overall, hari pertama pun di akhiri dengan pengetahuan saya yang bertambah soal ASEAN sekaligus meningkatnya kesadaran saya terhadap pentingnya Komunitas ASEAN 2015.

Pertemuan Serumpun

Hanoi pagi menggantungkan mataharinya di luar jendela kamar hotel saya, indah dipadu dengan danau besar yang melingkar tepat di luar jendela. Setelah bergegas memesan setrika dan alasnya, saya mengecek ulang presentasi saya. Berusaha tampil maksimal untuk memastikan saya bersama Youthcare Indonesia tidak hanya mampu menginspirasi di Indonesia, tapi juga mampu menginspirasi pemuda-pemuda terbaik ASEAN yang akan saya temui hari ini. Blazer hitam kesayangan sejak SMA saya pakai dengan harapan semangat, ketulusan, dan kesadaran yang sama akan di sebarkan hari ini, sama seperti semangat yang dulu saya berikan kepada adik-adik di SMA N 1 Samarinda. 😮

Para Muda 9 Negara ASEAN

Para Muda 9 Negara ASEAN

***

“Hardship is my most dedicated teacher”

Begitulah ungkapan penerima award Pemuda Terbaik ASEAN dari Malaysia saat menyampaikan presentasinya. Meski usianya sudah di akhir masa muda, namun beliau datang dengan segudang prestasi yang sudah di dapatkan sejak di bangku kuliah. Manndzri bin H. Nasib namanya, meski beliau berkerja sebagai pegawai pemerintah namun hal itu tidak mengurangi aktivitasnya berkontribusi bersama pemuda-pemuda Johor untuk mengoptimalisasi desa-desa disana.

“Never be afraid of doing anything good and never look past the small things” begitu kata Quinn menutup presentasinya dengan bersemangat.

“Never be afraid of doing anything good and never look past the small things” begitu kata Quinn menutup presentasinya dengan bersemangat.

Selain encik Manndzri ada 8 orang perwakilan negara-negara lain termasuk Bayu Kuntani, yang akan menerima award Pemuda Terbaik ASEAN. Jika encik Manndzri adalah penerima award yang paling tua, maka Thailand mengutus delegasi termudanya, Queenie Mavichak.  Meski umurnya masih 17 tahun, tapi seorang diri, ia mampu menggerakkan sekolah dan pemuda lainnya melalui Facebook untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap penjaga perbatasan Thailand, yang ternyata kondisinya sangat mengkhawatirkan. Queen bersama teman-temannya dan juga dengan dukung penuh olehsekolahnya, Ruamrudee International School, mereka memberikan sepatu boots, kaus kaki gratis, uang serta peralatan medis kepada polisi perbatasan di Thailand dan Kamboja.

Dari Filipina, ada Chris Tiu, atlet bola basket muda  sekaligus pengusaha sukses, idola semua anak muda disana. Juga ada Abang Ridwan, penggiat musik Melayu dari Singapura hingga kancah dunia. Dan masih banyak lagi, pemuda pemuda ASEAN yang berprestasi dan menginspirasi disana. Namun, sangat disayangkan pada kegiatan ASEAN Youth Day Meeting yang ke-9 kali ini Kamboja tidak bisa mengirimkan delegasinya tanpa alasan.

Sementara untuk kategori Ten Accomplished Youth Organization atau 10 Organisasi Terbaik ASEAN, hadir 9 organisasi dari banyak genre yang berbeda.  Ada organisasi yang bertujuan untuk memberantas buta mengaji di Brunei, ada persatuan pemadam kebakaran dari Myanmar, bahkan masuk nominasi juga Politeknik Singapura yang produksinya sudah membantu masyarakat di beberapa negara ASEAN.

me and kuya tobit :)

me and kuya tobit 🙂

Angat Kabataan lah yang menarik perhatian saya, sebagai organisasi yang benar-benar dari pemuda dan memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitar dengan cara-cara inovativ. Meski memiliki anggota yang tidak banyak, Angat Kabataan mampu menggerakkan pemuda lain untuk turut serta dalam program-program mereka. Salah satu hal besar yang mereka lakukan adalah mengubah sungai kecil Maningning yang penuh limbah, menjadi sungai yang terus di jaga kebersihannya. Selain itu, saya juga terpesona (?) dengan salah satu pendiri Angat Kabataan, John Tobit Cruz. Bagaimana tidak, di usia mudanya, dia juga maju sebagai perwakilan House of Representatives atau DPRD di kota kecilnya. Dalam ucapan terimakasihnya di Facebook setelah memenangkan  pemilu, saya mengutip kalimat inspiratif ini:

“We proved that one need not to cheat, pay, produce thousands of tarps and epal materials, bribe or ding and dance stupidly just to win. We proved that prayers, platforms, sincerity and hard work can do the job”

 

 

Saat melihat para pemuda itu, hati saya berdesir kencang. Inilah impian Youthcare Indonesia, mencetak generasi terbaik dunia. Menghadirkan ratusan Quinn dan menempatkan ribuan Tobit di berbagai penjuru tanah air dan dunia. Membuat para muda, bisa menjadi yang terbaik bagi dirinya, terbaik untuk semua, dan terbaik bersama. Meningkatkan kepedulian para muda terhadap sekitarnya, dan ambil andil dalam pemerintahan negaranya. Untuk sebuah dunia yang seimbang dan sejahtera.

Lalau bagaimana dengan presentasi dari Indonesia? Well, saya dan Bayu mendapatkan giliran terakhir untuk presentasi. Dan kami berniat untuk mengakhiri presentasi di tengah hari itu dengan bermakna. Presentasi-presentasi sebelumnya dihadirkan dengan suasana yang sangat formal. So, saat coffee break saya dan Tobit saling memastikan untuk tidak memberikan presentasi yang formal dan tidak berdiri di balik mimbar.

meh!

meh!

bayu, vest, blankon, batik, and dance!

bayu, vest, blankon, batik, and dance!

Presentasi delegasi Indonesia di buka oleh Bayu yang memberikan pemaparan bersama banyak dokumentasi tentang Starlight Production, anak-anak didiknya, hasil produksi UKM-UKM kecil desanya dan kebudayaan Jogjasecara keseluruhan. Diakhir presentasinya, Bayu memakai blangkon dan jarik khas Jogja, lalu menari tari Gambyong dengan sederhana. Tarian Bayu pun mampu memukau seluruh peserta delegasi. Saya melanjutkan presentasi delegasi Indonesia, dengan tujuan memaparkan Youthcare sebagai salah satu organisasi terbaik Indonesia versi Kemenpora. Namun sebelumnya, saya mengajak semua delegasi berdiri dan meneriakkan slogan “ASEAN Youth, We Care” untuk mengembalikan lagi semangat yang sudah ditelan perut yang lapar dan siang yang pengap. Setelah itu, saya juga memaparkan ide, soal aksi nyata yang baik dilakukan saat Asean Youth Day Meeting untuk saudara-saudara di Filipina yang terkena Thypoon Haynan. Namun sayang, karna padatnya jadwal dan kurang seriusnya saya membicarakan ide ini bersama panitia, ide ini jadi terabaikan.

Ha! Noi!!!!! Teeet Teeeet!!!

liatkan betapa gilanya... g ada arah nya booow!!!!!!!!!!!

liatkan betapa gilanya… g ada arah nya booow!!!!!!!!!!!

Setelah presentasi, waktu break beberapa jam sebelum Gala Dinner (sekaligus penyerahan Award untuk Pemuda dan Organisasi Berprestasi ASEAN) kami manfaatkan untuk pergi ke Royal City, underground mall terkenal di Hanoi. Di Mall yang dari luar nampak kecil tapi sebenarnya luas dan dalam sekali itu, saya hanya ingin membeli Crocs baru atau sandal jepit, karna Crocs pink kesayangan saya hilang di Samarinda sehari sebelum berangkat. Sementara akang, bayu dan bapak bapak Kemenpora berniat untuk mencari money changer, untuk menukarkan rupiah mereka kedalam mata uang Dong. Sayangnya, tidak ada satu pun bank dan money changer yang menerima penukaran mata uang rupiah. So, Vietnam 101: Tukerin dulu Rupiah lo ke Dollar, baru lo boleh pergi ke Vietnam. Akhirnya kami menyerah mencari money changer, dan hanya menarik uang di ATM, service charge nya ga banyak sih cuma 30ribu Dong atau sekitar 15ribu Rupiah.

Keliling mall dengan wedges ternyata cukup tidak menyenangkan bagi saya yang masih amatir dalam berpenampilan sebagai cewek ini. Jadilah saya bersama dua bodyguards menyerah untuk kembali ke Kappa store, toko yang pertama dimasuki, untuk akhirnya membeli sendal jepit disana. Menyerah karna ternyata Royal City itu mall yang tarafnya sama seperti Pavillion nya Bukit Bintang. Jadilah saya hampir membeli sendal cantik dari butik Prancis seharga 5juta Dong yang saya fikir cuma 500ribu Dong doang. Maklum, di Malaysia ga biasa liat angka 0 banyak. T,T. Karna, pencarian sendal saya yang terlalu lama itulah, akhirnya kami bertiga ga sempat makan es krim. Maaf ya Kuya, Akang. :3

itu air mancur dibawah tanah lohhhh!! #bodyguard1

itu air mancur dibawah tanah lohhhh!! #bodyguard1

dari belakang gw tamoak absurd... billabong+hijaab alila+hugoboss+batik jogja+carlo rino

dari belakang gw tamoak absurd… billabong+hijaab alila+hugoboss+batik jogja+carlo rino

#bodyguard2 +saya tampak kece

#bodyguard2 +saya tampak kece

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan pulang ke hotel, sangat buru-buru, apalagi kalau bukan karna bapak-bapak plus bayu nungguin kami bertiga yang sedang mencari sendal saya. karna sudah diburu waktu, harapannya sih, jalanan Hanoi akan ramah dan lancar jaya sampai hotel ya. Tapi ternyata tidak! Kita keluar Jakarta, ternyata ketemu Jakarta lagi di Hanoi, Jakarta versi  yang lebih parah sih. Arus lalu lintas padat, jalanan penuh motor dan kendaraan lain yang sangat ugal-ugalan banget! sangat ugal-ugalan banget maksud saya disini adalah, para pengendara yang berani melawan arus di jalanan besar saat rush hour pake motor dan helmet-nya ga SNI pula! Jadilah klakson saat jam pulang kantor itu hal yang biasa didengar. well, setiap lima menit kali ya, atau mungkin lebih sering. Kalau teman saya waktu itu pernah bilang ada orang Denmark yang kaget mendengar klakson di Jakarta, mungkin dia akan lebih kaget lagi kalau tinggal di Vietnam. Bandingkan saja di Denmark dia mendengarkan klakson 2 kali dalam satu bulan, di Vietnam dia mendengarnya hampir setiap saat.

Alhamdulillah banget sih, supir supir di Vietnam pada sabar sabar. Kalau di Jakarta mah, jalanan semacet itu akan dibarengi oleh macetnya kata-kata binatang di udara. Jika supirnya tenang, tidak untuk penumpang yang duduk paling depan di samping supir. Bayangin aja ya, lagi anteng-anteng ini taxi jalan. Tiba-tiba wuuuuuushhh ada motor sepeda (yes, sepeda elektrik) yang motong jalan di depan dari arah yang berbeda. Ih wow banget kan? Dan itu sering terjadi. Naik taksi di Vietnam aja udah kaya naik Kora-Kora di Dufan. Ga kebayang kalau harus mengendarai kendaraan sendiri. Well, apalagi di Vietnam ini mereka pake setir kiri loh!! Oia, jangan ditanya soal gimana caranya nyebrang di traffic gila itu. Saya sih, cuma mau nyebrang kalau ada temannya. :3 Alhamdulillah, hari itu kami sampai hotel dengan selamat dan saya masih bisa pakai kebaya dengan cantiknya. Kerudung saya di sponsori sama Hijaab Alila, trus make-up nya dari Wardah loh. #salahpokus.

itu baju mba MC itu yang kuning saya mau bangettt!!!

itu baju mba MC itu yang kuning saya mau bangettt!!!

Well, Gala Dinner berlangsung rapi dengan diakhiri pembagian cinderamata bagi para delegasi. Cindramatanya berat banget boww, lukisan keramik cantik. Setelah itu kami lalu pindah ke ruangan lain untuk bergabung bersama para volunteer acara dan peserta lain. Acara pemberian award ini berlangsung sangat formal dan disajikan dengan dua bahasa, Bahasa Inggris dan Bahasa Vietnam. Kami juga menerima kata sambutan dari Ketua National Youth Committee Vietnam, sebagai tuan rumah dan Ketua National Youth Committee Brunei Darussalam sebagai tuan rumah ASEAN Youth Day Meeting 2014. Tarian dan lagu-lagu khas Vietnam juga disuguhkan disela-sela pemberian award.

lesehan di panggung! with pinoy and laos girl :)

lesehan di panggung! with pinoy and laos girl 🙂

YouthCare Indonesia di Mata ASEAN

yeah!!!!!!!!!!!!

yeah!!!!!!!!!!!!

Tidak sedikit yang kagum dengan kiprah dan idealisme Youthcare yang baru berdiri dua tahun. Banyak yang menanyakan status independensi Youthcare terutama soal pendanaan mandiri yang Youthcare miliki. Banyak juga yang mengapreasiasi dan memberikan kepercayaan tentang visi YouthCare yang mendunia. Konsep Youth Care atau pemuda peduli juga banyak di amini oleh rekan-rekan di negara lain. Singapura bahkan sudah menjalankan program Youths Care dengan cuci mobil gratis  dengan seluruh uang di donasikan sepenuhnya untuk penderita disabilitas. Hal senada juga ada di Malaysia dan Filipina dengan konsep yang berbeda.

Karna itu, ketika saya meminta kerjasama untuk Youthcare menginspirasi ASEAN 2015, mereka menerimanya dengan tangan terbuka. Bismillah, Komunitas ASEAN 2015 insha Allah, Youthcare siap menginspirasi ASEAN 2015.

:)

🙂