Belajar dari Ho Chi Minh

#MenjejakASEANdiVietnam #part2

ini danau samping hotel saya yooo

ini danau samping hotel saya yooo

Agenda hari  ketiga ASEAN Youth Day Meeting 2013 adalah jalan-jalan di pusat kota yang ternyata, bukan cuma lihat pemandangan alam atau pergi ke pasar buat belanja. Panitia justru mengajak kami untuk wisata sejarah dan budaya. Perjalanan di mulai dengan melawat “manusia terbaik” Vietnam, Presiden Ho Chi Minh. Well, kesana sih bukan untuk berdiskusi atau mendengar pidato beliau, secara beliau sudah meninggal sejak tahun 1969. :O

beberapa detik setelah foto ini, kuya tobit dimarahi oleh bapak penjaga dibelakangnya \m/

beberapa detik setelah foto ini, kuya tobit dimarahi oleh bapak penjaga dibelakangnya \m/

Ranjang Terakhir sang Presiden

Di pusat kota Hanoi, mengantrilah kami berbaris dua di tengah tengah Ba Dinh Square untuk masuk ke Mausoleum President Ho Chi Minh. Saat masuk kesana penjagaan cukup ketat, tidak boleh ada kamera, bahkan yang memakai bawahan pendek juga dilarang masuk. Sayangnya penjagaan yang cukup ketat ini tidak dibarengi, informasi yang memadai di internet. Jadilah salah satu teman saya tidak bisa memasuki Mausoleum dan harus menunggu di luar. Di depan barisan kami, penjaga berbaju putih khas seragam polisi membimbing kami untuk memasuki Mausoleum yang bentuknya sangat simetris itu. Sesampai di depan gerbang, ada upacara pemberian bunga yang dilakukan penjaga rombongan kami kepada penjaga penjaga pintu gerbang. Setelah itu, barulah rombongan kami yang berjumlah kurang dari 100 orang itu bisa masuk ke dalam memorial Presiden  Ho Chi Minh itu.

nampak belakang Mausoleum

nampak belakang Mausoleum

Di dalam, tidak boleh ada suara berisik sedikit pun dan tidak boleh ada langkah kaki yang nyaring.  Kenapa harus seketat itu ya? Padahal, tau nggak di dalam Mausoleum itu ada apa? Cuma jasad palsu presiden Ho Chi Minh boww! Jadi setelah naik tangga dan belok kanan dalam Mausoleum yang sepertinya di buat dari batu itu. Kita akan sampai di dalam ruang  yang cukup besar. Tapi, untuk masuk kesana hanya di sediakan lorong yang bisa di lewati satu orang dalam satu barisan. Di tengah nya ada ranjang besar, yang diatasnya terbaring jasad palsu Ho Chi Minh. Dua orang penjaga, yang tidak bergerak sedikitpun saat kita masuk, berdiri gagah di depan ranjang yang terletak tinggi di atas mereka. Saya fikir disana akan ada penjelasan atau barang-barang bersejarah apalah soal Ho Chi Minh. Ternyata saya salah, kita cuma boleh jalan pelan-pelan disana. Berdiri diam barang sebentar pun tidak di perbolehkan. Jadilah kita hanya menyaksikan wajah tenang Ho Chi Minh yang berbaring di bawah sinar lampu yang menambah efek sendu dalam ruangan remang-remang itu. Setelah keluar dari Mausoleum semuanya sibuk mengeluarkan suara yang kurang lebih bernada sama.. “Oh ternyata Cuma begitu!!” :3

Bukan Istana Kepresidenan

Untungnya, pengelola Mausoleum sadar betapa tidak puasnya para turis yang cuma disuguhi jasad palsu di dalam Mausoleum itu. Dalam area yang sama, ternyata ada istana kepresidenan dan  rumah Ho Chi Minh lainnya. Nah untuk pergi kesana, penjagaannya tidak seketat untuk ke Mauseleum. Kamera kami dikembalikan, dan teman saya yang memakai rok pendek tadi diperbolehkan kembali ke rombongan. Yang lebih kece lagi, karna rombongan kami official kenegaraan, jadilah kami ditemani guide tour resmi yang bahasa Inggrisnya oke punya. Secara di Vietnam susah nyari orang yang bahasa Inggrisnya bagus. :O

kuninggggggggggg... :O

kuninggggggggggg… :O

Cuaca Vietnam akhir tahun pasti menjadi favorit turis manapun, anginnya berhembus sejuk sejuk kencang. Tidak terlalu panas tapi ga dingin juga, adem deh. Setelah berjalan sekitar lima menit sampailah kita ke bangunan mentereng warna kuning, yang ternyata adalah istana kepresidanan. Saya sampai kaget karna warna kuningnya sangat mencolok, bukan Cuma di istana ini, tapi sesaat sebelum landing juga, saya melihat dominasi warna kuning dari rumah-rumah penduduk. Setelah bertanya kepada tour guide, ternyata warga Vietnam percaya bahwa warna kuning itu membawa keberuntungan. Termasuk kenapa warna gedung mewah ini kuning juga karna kuning adalah simbol dari royal dan loyal.

Awalnya istana ini dibangun oleh pemerintah kolonial Prancis saat menjajah Vietnam dulu sebagai rumah Gubernur Indochina (Vietnam, Laos dan Kamboja). Tercatat ada 29 Gubernur yang tinggal di istana kuning ini. Nah setelah Ho Chi Minh mengambil alih dan membabat habis Prancis, kawan-kawan seperjuangannya menyarankan Ho Chi Minh untuk mengambil alih istana kuning ini sebagai rumah pribadinya sebagai Presiden. Tapi, Ho Chi Minh menolaknya, sebagai pribadi yang sangat rendah hati, beliau malah memilih istana kuning itu sebagai basecamp Partai Komunis Vietnam yang saat itu memimpin negara.

“Our people finally get their freedom, this house is theirs, with this house we have to served them” Ho Chi Minh for his presidential palace.

Rumah Tiga Jendela

Nah, dimanakah Ho Chi Minh tinggal setelah itu? Di rumah kecil di belakang istana, yang dulunya adalah pusat listrik. Hanya ada tiga ruangan di rumah itu. Dan kita bisa melihat ruangan itu dari luar melalui jendela besar. Dari rumah itu, kesederhanaan seorang Ho Chi Minh akan lebih kita rasakan. Bagaimana tidak, dari ruang tidurnya kita hanya bisa menemukan dipan kecil yang tidak berkasur dan lemari yang hanya terisi beberapa lembar baju. Di pojok kamar tidur itu, kita bisa melihat satu saja pajangan indah, kenang-kenangan dari Fidel Castro. Selanjutnya, ada ruang makan yang hanya dihiasi sebuah radio, yang merupakan pemberian dari seorang mahasiswa Vietnam yang bersekolah di Hungaria. Radio ini seolah menjadi saksi, perjuangan Ho Chi Minh yang sangat mementingkan pendidikan bagi pemuda Vietnam saat zaman perang. Dan di ruangan ketiga, foto Karl Marx dan  Lenin cukup besar mendominasi ruh ruang tamu sekaligus ruang baca itu. Dari ruang itu juga pemandangan kolam ikan favorit Ho Chi Minh terlihat sempurna. FYI, kolam ikan favorit Ho Chi Minh ini dari dulu sampai sekarang juga menjadi pusat perhatian bagi warga Vietnam, bagaimana tidak setiap 19 May, yang merupakan hari ulang tahun Ho Chi Minh. Para pekerja pemerintah ramai ramai menangkap ikan di kolam itu dan membagi-bagikannya kepada khalayak ramai.

“There are lots of difficulties out there; poverty, hunger and war. I can’t add anything for myself. And I really want other leader to share everything they have as well. “ Ho Chi Minh and his humbleness.

Pondok di Hujung Mudanya

maafkan banyaknya khalak ramai disana

maafkan banyaknya khalak ramai disana

Tapi, Ho Chi Minh hanya hidup di rumah itu selama empat tahun saja, dari tahun 1954-1958. Karna rumah itu terlalu sempit dan sirkulasi udara yang tidak cukup baik. Maka, rakyat Ho Chi Minh membuat sebuah rumah baru di sisi lain kolam, yang bergaya seperti rumah-rumah di daerah Pegunungan di Vietnam. Rumah ini di bangun dua lantai. Lantai bawah adalah ruang tamu yang tidak berdinding, ditengahnya ada meja besar dan beberapa kursi, di sekililingnya masih ada tempat untuk duduk lesehan. Setiap harinya, banyak anak- anak yang datang bermain kesana, karna memang tempat itu menyenangkan, persis seperti oase di tengah kerontang jaman perang. Ya, Ho Chi Minh sangat suka dengan anak-anak. Meski begitu, Ho Chi Minh tidak pernah berkeluarga.

 

“Two things that you should not learn from me: 1. Smoking 2. Not Getting Married” he smile, smoke burst out of his lips. He cough and smile again to those children around him.

Ho Chi Minh terlalu mencintai Vietnam, sehingga dia sangat ingin fokus membangun Vietnam, dan takut akan melalaikan keluarganya jika ia menikah.

“All Vietnam people is my family member. So all of their children are my children.” Ho Chi Minh about his family.

Kecintaan Ho Chi Minh pada anak-anak ini membuat rakyat Vietnam bertambah cintanya padanya, sampai-sampai salah satu lagu nasional Vietnam memuat lirik seperti ini:

“No one love children like Ho Chi Minh” “No one love Ho Chi Minh like children”

Dirumah ini jugalah, kita bisa melihat pohon star apple (sawo duren) buah yang jarang di temukan di Hanoi apalagi di Indonesia. Ternyata pohon ini khusus diberikan oleh rakyat Vietnam Selatan, sebagai bukti rindu mereka ingin bertemu Ho Chi Minh, tapi karena padatnya tugas beliau di utara, menjadikan kesempatan itu tidak pernah datang hingga akhir hayatnya. Bisa dibayangkan bukan, jiwa kepemimpinan Ho Chi Minh yang menembus jarak. Pastinya kecintaan rakyat ujung Vietnam itu bukan hasil pencitraan yaa. 😉

Bunker Baja, Saksi Menutup Usia

George Washington of Vietnam

George Washington of Vietnam

Sebelas tahun tinggal di rumah sejuk nan sederhana itu, pecahnya perang antara Amerika dan Vietnam pada tahun 1964, membuat khawatir rekan-rekan Ho Chi Minh. Mereka lalu meminta izin untuk membuat rumah baru untuk sang Presiden. Tapi ide itu mentah-mentah di tolak Ho Chi Minh, dengan alasan yang sama, dia tidak ingin boros hanya demi dirinya sendiri. Perang semakin berkecamuk, tentara Amerika sudah dikalahkan di Vietnam Selatan, mereka lalu menyerbu Hanoi untuk mencari basis tentara baru. Pemboman terjadi dimana-mana. Dalam radius satu kilometer dari rumah Ho Chi Minh, sekolah, rumah, bahkan perusahaan-perusahaan di hancurkan.

Ketika Presiden Ho Chi Minh pergi ke China, untuk membangun kerjasama politik disana, para kawan-kawan beliau melihat ini sebagai kesempatan untuk membuat rumah baru bagi Ho Chi Minh, meski tanpa izin beliau. Rumah ini pun didesain anti peluru dan bom, ditambah dengan akses terowongan yang langsung terhubung dengan bunker bawah tanah. Rumah yang didesain langsung oleh tentara ahli Vietnam pada tahun 1967 ini, punya ketebalan dinding 0.6 m loh!

Setelah selesai di bangun pada tahun 1969, Ho Chi Minh pindah ke bunker sederhana itu. Namun, hanya dua minggu beliau menggunakan rumah itu sebagai tempat rapat dan istirahat, Ho Chi Minh di temukan meninggal karna serangan jantung pada tanggal  2 September 1969. Tepat 24 tahun setelah ia berdiri di Ba Dinh Square untuk meneriakkan kemerdekaan bagi rakyat Vietnam.

“I haven’t finished my duty to the country” Ho Chi Minh last words.

Ho Chi Minh mati saat dia memperjuangkan visinya, visi membangun Vietnam. Dalam kesendirian, kesederhanaan dan dengan teguh hatinya. Cintanya, wujud ramah pribadinya melekat di rakyat. Hingga namanya diabadikan di sebuah kota, yang dia perjuangkan tapi tak pernah dikunjunginya.

Di Bunker yang sebenarnya tertutup untuk khalayak ramai itu, tersimpan abunya. Namun pada hati-hati manusia Vietnam hingga kini Ho Chi Minh lebih dari sekedar bakaran sisa tubuh. Ada gelora yang bersemayam, seolah setiap gerik buruk laku masa kini, Ho Chi Minh selalu mengawasi. Sebagian lain masih menggenggam visi sang Pecinta negri, Sebagian lain lupa. Sederhana yang di telan kekinian.

lanjut kemana lagi ya?

lanjut kemana lagi ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s