Menjejak ASEAN di Vietnam part1

Setelah berhasil mendapatkan piala Sugondo Joyopuspito pada  28 Oktober 2013 untuk kategori organisasi kepemudaan terbaik nasional di Samarinda. YouthCare Indonesia membuktikan mampu melebarkan sayapnya ke tingkat regional ASEAN. Kamis, 7 November 2013 Kemenpora mengirimkan undangan untuk Youthcare mewakili Indonesia di ajang Asean Youth Day Meeting 2013 pada 11-15 Januari 2013 di Ha Noi, Vietnam. Sejalan dengan lomba Organisasi Kepemudaan Terbaik Nasional, maka Ridho Ulul Azmi lah yang terpilih untuk mewakili Indonesia sekaligus mempresentasikan Youthcare di ajang Ten Accomplished Youth Organization ke-10 yang juga merupakan bagian dari acara Asean Youth Day Meeting.

itu saya sama ka Andra di tengah :0 piala dan 30 juta Alhamdulillah

itu saya sama ka Andra di tengah :0 piala dan 30 juta Alhamdulillah

Para Muda Indonesia

Terik hangat Jakarta rush hour memaksa saya untuk tidak datang ke gedung Kemenpora di Senayan. Alih-alih berkumpul di sana, saya malah memutuskan mengulur waktu lalu membuat janji dengan taksi, dua jam sebelum pesawat berangkat. Setelah di taksi, saya baru sadar keputusan itu sangat salah. Mengingat saya tidak tahu kondisi airlines yang akan saya tumpangi dan saya tidak tahu dengan pasti orang-orang yang akan pergi dengan saya ke Vietnam nanti. Dan lagi, tiket saya  belum dicetak. Sementara, Vietnam Airlines adalah maskapai penerbangan terbaik Vietnam, who knows karna penerbangan terbaik menjadikan maskapai ini sangat disiplin, sampai-sampai mereka ngga mau nerima saya yang telat check-in. Untungnya saya salah, maskapai ini memang salah satu yang terbaik. Pelayanan di check-in counter sangat helpful dan ramah, meski saya datang kurang dari satu jam sebelum keberangkatan.

Di depan check-in counter tiba-tiba saya didatangi oleh seorang pemuda dengan ransel berselempangkan songket khas Pontianak. Ternyata, dialah salah seorang teman delegasi Indonesia yang akan bersama-sama berangkat ke Vietnam. Romzi namanya, perwakilan dari PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia) pusat. Tidak seperti saya dan Youthcare yang datang karna memenangkan lomba, PMII khusus di undang karna telah menjadi salah satu organisasi pemuda Indonesia yang bersiap untuk go international dengan menyelenggarakan acara Asean Youth Assembly yang di adakan di Jakarta, Agustus lalu.

Selain Romzi, di counter check-in juga lah saya bertemu delegasi Indonesia satu lagi. Bayu Kuntani, Pemuda Pelopor Indonesia 2013. Lelaki asal Bantul ini sepak terjangnya untuk menjadi salah satu pemuda terbaik di Indonesia, sudah diawali sejak umurnya masih 19 tahun. Ia mendirikan modeling agency  yang dinamakan Starlight Production, yang sudah menghasilkan model-model setaraf Miss Indonesia. Tidak hanya itu, Bayu dan Starlight Production-nya juga memberikan perhatian yang cukup besar untuk kebudayaan Indonesia terutama kebudayaan Jawa.

Tidak sulit bagi kami bertiga untuk mengenal satu sama lain karna kami punya perhatian yang sama di bidang pendidikan. Saya bercita-bercita menjadi pakar di Pendidikan Anak Usia Dini, Kang Romzi sudah punya pesantren di Melawi, Kalimantan Barat dan Bayu yang aktif berkontribusi di PAUD sekitar lingkungan desanya. Kami bertiga sama-sama percaya, Indonesia mampu bangkit jika pendidikannya terlebih dahulu bangkit. Kami bertiga yakin, harus adanya perhatian yang lebih besar lagi pada anak-anak Indonesia, pada pendidikan mereka, karna merekalah nantinya yang akan bersama-sama mengangkat berat masalah negri kita tercinta. Sayangnya pembicaraan penuh semangat di sela-sela antrian imigrasi dan scanning barang itu harus terhenti, karna pesawat sudah boarding dan sayangnya kami ada di tempat duduk yang berbeda-beda.

Berangkat waktu dzuhur dan tiba di Ho Chi Minh saat matahari sudah terbenam, keadaan lapar sedikit menyiksa kami, karena makanan di pesawat yang tidak tasty. Bahkan ada beberapa kawan yang tidak makan karena pilihan menu ikan sudah habis, dan hanya pork saja yang tersedia. Keadaan lebih menyiksa, ketika tidak ada satu pun dari kami yang punya uang Dong ataupun uang Dollar. Meski begitu, tidak ada yang mau pergi ke money changer untuk menukar uang, dengan asumsi menukar uang di pasar Hanoi akan lebih murah. Untungnya tidak membutuhkan waktu lama, untuk boarding ke pesawat selanjutnya. Apalagi saat menunggu, kami diselingi dengan candaan beberapa nini-nini Sanggar Senam Osteoporosis dari Bogor, yang sibuk minta foto dan minta tolong untuk menonaktifkan smartphone mereka supaya ngga kena roaming.

Meski menggunakan maskapai yang sama, ternyata connecting flight saya menggunakan pesawat yang berbeda, dan kali ini lebih besar.  Tidak tahu pasti apa modelnya, tapi dalam satu baris saja ada 10 tempat duduk. Dan setiap kursinya dilengkapi dengan lcd tv 5 inchi yang menempel di bagian belakang setiap tempat duduk. TV itu menyediakan pantauan jarak penerbangan sampai tujuan, film film blockbuster, lagu top 40 dan klasik billboard, sampai games sederhana seperti Pacman dan Mario Bros. Yeah! Dua jam perjalanan betul betul tidak berasa.

inilah kami 5 delegasi Indonesia untuk AYDM 2013

inilah kami 5 delegasi Indonesia untuk AYDM 2013

Keluarga ASEAN

Sesampainya di Hanoi angin berhembus cukup dingin, padahal jam tidak menunjukkan perbedaan waktu dengan waktu Jakarta. Sesuai sih dengan yang saya baca di majalah pesawat, akhir tahun memang waktu musim dingin bagi Hanoi yang mempunyai empat musim.

Di bandara kami dijemput oleh Liasion Officer yang ramah, perempuan Vietnam ini mengenalkan dirinya sebagai Fish, karna memang agak susah nama aslinya untuk disebutkan. Selain itu kami juga bertemu mas Secretary of ASEAN Youth dari Jakarta. Perjalanan untuk sampai ke hotel cukup lama, tapi tidak terasa karna kami menghabiskan waktu untuk belajar bahasa Vietnam. Fish lalu menjelaskan cara berkenalan dan cara menawar di pasar dengan bahasa Vietnam.

akang, fish, dan azmi; all in blue; no we r not chelsea fans :3

akang, fish, dan azmi; all in blue; no we r not chelsea fans :3

Ini dia saya list beberapa kata yang mudah, bukan dalam tulisan vietnam, tapi saya tulis menggunakan cara bacanya ya…

  • sin cau = hello
  • kam eun = terimakasih
  • ca boi sang = selamat pagi
  • ca boi toi = selamat malam
  • ten toi la azmi = my name is azmi
  • zet voi dung gap ba = nice to meet you
  • dat kwa = too expensive

 

 

Pada pukul 10 malam baru lah kami sampai di Daewoo Hotel, hotel bintang lima ini menjadi pilihan pihak penyelenggara acara untuk menyambut para pemuda  seantero ASEAN. Sayangnya, kami tidak sempat mengikuti delegations briefing yang diadakan pukul 8.30pm malam itu. Setelah check-in, kami langsung menuju restoran terdekat untuk makan malam. Tidak ada yang khas, hanya nasi goreng dan pizza yang punya rasa yang sama, rasa seafood, sehingga agak sulit untuk membedakan mana pizza dan mana yang nasi goreng. :3

Saat makan malam, obrolan yang paling saya suka adalah cerita mas Jendra soal kiprahnya di dunia ASEAN. Setelah menjabat sebagai Secretary of ASEAN di bidang kepemudaan, mas yang merupakan lulusan UGM jogja ini menjelaskan soal posisinya yang “bukan” warga Indonesia lagi, tapi warga ASEAN. Sehingga ia harus terus bersikap netral saat membahas apapun soal Negara-negara ASEAN. Kami pun juga lanjut membahas soal kemungkinan asosiasi ASEAN untuk menjadi seperti European Union. Well, kesimpulannya ada pesimisme disana, kemungkinan perkembangan ASEAN yang tidak akan menjadi sebesar EU, dikarenakan perbedaan kondisi geografi dan latar belakang sosial budaya.  Overall, hari pertama pun di akhiri dengan pengetahuan saya yang bertambah soal ASEAN sekaligus meningkatnya kesadaran saya terhadap pentingnya Komunitas ASEAN 2015.

Pertemuan Serumpun

Hanoi pagi menggantungkan mataharinya di luar jendela kamar hotel saya, indah dipadu dengan danau besar yang melingkar tepat di luar jendela. Setelah bergegas memesan setrika dan alasnya, saya mengecek ulang presentasi saya. Berusaha tampil maksimal untuk memastikan saya bersama Youthcare Indonesia tidak hanya mampu menginspirasi di Indonesia, tapi juga mampu menginspirasi pemuda-pemuda terbaik ASEAN yang akan saya temui hari ini. Blazer hitam kesayangan sejak SMA saya pakai dengan harapan semangat, ketulusan, dan kesadaran yang sama akan di sebarkan hari ini, sama seperti semangat yang dulu saya berikan kepada adik-adik di SMA N 1 Samarinda. 😮

Para Muda 9 Negara ASEAN

Para Muda 9 Negara ASEAN

***

“Hardship is my most dedicated teacher”

Begitulah ungkapan penerima award Pemuda Terbaik ASEAN dari Malaysia saat menyampaikan presentasinya. Meski usianya sudah di akhir masa muda, namun beliau datang dengan segudang prestasi yang sudah di dapatkan sejak di bangku kuliah. Manndzri bin H. Nasib namanya, meski beliau berkerja sebagai pegawai pemerintah namun hal itu tidak mengurangi aktivitasnya berkontribusi bersama pemuda-pemuda Johor untuk mengoptimalisasi desa-desa disana.

“Never be afraid of doing anything good and never look past the small things” begitu kata Quinn menutup presentasinya dengan bersemangat.

“Never be afraid of doing anything good and never look past the small things” begitu kata Quinn menutup presentasinya dengan bersemangat.

Selain encik Manndzri ada 8 orang perwakilan negara-negara lain termasuk Bayu Kuntani, yang akan menerima award Pemuda Terbaik ASEAN. Jika encik Manndzri adalah penerima award yang paling tua, maka Thailand mengutus delegasi termudanya, Queenie Mavichak.  Meski umurnya masih 17 tahun, tapi seorang diri, ia mampu menggerakkan sekolah dan pemuda lainnya melalui Facebook untuk meningkatkan kepedulian mereka terhadap penjaga perbatasan Thailand, yang ternyata kondisinya sangat mengkhawatirkan. Queen bersama teman-temannya dan juga dengan dukung penuh olehsekolahnya, Ruamrudee International School, mereka memberikan sepatu boots, kaus kaki gratis, uang serta peralatan medis kepada polisi perbatasan di Thailand dan Kamboja.

Dari Filipina, ada Chris Tiu, atlet bola basket muda  sekaligus pengusaha sukses, idola semua anak muda disana. Juga ada Abang Ridwan, penggiat musik Melayu dari Singapura hingga kancah dunia. Dan masih banyak lagi, pemuda pemuda ASEAN yang berprestasi dan menginspirasi disana. Namun, sangat disayangkan pada kegiatan ASEAN Youth Day Meeting yang ke-9 kali ini Kamboja tidak bisa mengirimkan delegasinya tanpa alasan.

Sementara untuk kategori Ten Accomplished Youth Organization atau 10 Organisasi Terbaik ASEAN, hadir 9 organisasi dari banyak genre yang berbeda.  Ada organisasi yang bertujuan untuk memberantas buta mengaji di Brunei, ada persatuan pemadam kebakaran dari Myanmar, bahkan masuk nominasi juga Politeknik Singapura yang produksinya sudah membantu masyarakat di beberapa negara ASEAN.

me and kuya tobit :)

me and kuya tobit 🙂

Angat Kabataan lah yang menarik perhatian saya, sebagai organisasi yang benar-benar dari pemuda dan memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan sekitar dengan cara-cara inovativ. Meski memiliki anggota yang tidak banyak, Angat Kabataan mampu menggerakkan pemuda lain untuk turut serta dalam program-program mereka. Salah satu hal besar yang mereka lakukan adalah mengubah sungai kecil Maningning yang penuh limbah, menjadi sungai yang terus di jaga kebersihannya. Selain itu, saya juga terpesona (?) dengan salah satu pendiri Angat Kabataan, John Tobit Cruz. Bagaimana tidak, di usia mudanya, dia juga maju sebagai perwakilan House of Representatives atau DPRD di kota kecilnya. Dalam ucapan terimakasihnya di Facebook setelah memenangkan  pemilu, saya mengutip kalimat inspiratif ini:

“We proved that one need not to cheat, pay, produce thousands of tarps and epal materials, bribe or ding and dance stupidly just to win. We proved that prayers, platforms, sincerity and hard work can do the job”

 

 

Saat melihat para pemuda itu, hati saya berdesir kencang. Inilah impian Youthcare Indonesia, mencetak generasi terbaik dunia. Menghadirkan ratusan Quinn dan menempatkan ribuan Tobit di berbagai penjuru tanah air dan dunia. Membuat para muda, bisa menjadi yang terbaik bagi dirinya, terbaik untuk semua, dan terbaik bersama. Meningkatkan kepedulian para muda terhadap sekitarnya, dan ambil andil dalam pemerintahan negaranya. Untuk sebuah dunia yang seimbang dan sejahtera.

Lalau bagaimana dengan presentasi dari Indonesia? Well, saya dan Bayu mendapatkan giliran terakhir untuk presentasi. Dan kami berniat untuk mengakhiri presentasi di tengah hari itu dengan bermakna. Presentasi-presentasi sebelumnya dihadirkan dengan suasana yang sangat formal. So, saat coffee break saya dan Tobit saling memastikan untuk tidak memberikan presentasi yang formal dan tidak berdiri di balik mimbar.

meh!

meh!

bayu, vest, blankon, batik, and dance!

bayu, vest, blankon, batik, and dance!

Presentasi delegasi Indonesia di buka oleh Bayu yang memberikan pemaparan bersama banyak dokumentasi tentang Starlight Production, anak-anak didiknya, hasil produksi UKM-UKM kecil desanya dan kebudayaan Jogjasecara keseluruhan. Diakhir presentasinya, Bayu memakai blangkon dan jarik khas Jogja, lalu menari tari Gambyong dengan sederhana. Tarian Bayu pun mampu memukau seluruh peserta delegasi. Saya melanjutkan presentasi delegasi Indonesia, dengan tujuan memaparkan Youthcare sebagai salah satu organisasi terbaik Indonesia versi Kemenpora. Namun sebelumnya, saya mengajak semua delegasi berdiri dan meneriakkan slogan “ASEAN Youth, We Care” untuk mengembalikan lagi semangat yang sudah ditelan perut yang lapar dan siang yang pengap. Setelah itu, saya juga memaparkan ide, soal aksi nyata yang baik dilakukan saat Asean Youth Day Meeting untuk saudara-saudara di Filipina yang terkena Thypoon Haynan. Namun sayang, karna padatnya jadwal dan kurang seriusnya saya membicarakan ide ini bersama panitia, ide ini jadi terabaikan.

Ha! Noi!!!!! Teeet Teeeet!!!

liatkan betapa gilanya... g ada arah nya booow!!!!!!!!!!!

liatkan betapa gilanya… g ada arah nya booow!!!!!!!!!!!

Setelah presentasi, waktu break beberapa jam sebelum Gala Dinner (sekaligus penyerahan Award untuk Pemuda dan Organisasi Berprestasi ASEAN) kami manfaatkan untuk pergi ke Royal City, underground mall terkenal di Hanoi. Di Mall yang dari luar nampak kecil tapi sebenarnya luas dan dalam sekali itu, saya hanya ingin membeli Crocs baru atau sandal jepit, karna Crocs pink kesayangan saya hilang di Samarinda sehari sebelum berangkat. Sementara akang, bayu dan bapak bapak Kemenpora berniat untuk mencari money changer, untuk menukarkan rupiah mereka kedalam mata uang Dong. Sayangnya, tidak ada satu pun bank dan money changer yang menerima penukaran mata uang rupiah. So, Vietnam 101: Tukerin dulu Rupiah lo ke Dollar, baru lo boleh pergi ke Vietnam. Akhirnya kami menyerah mencari money changer, dan hanya menarik uang di ATM, service charge nya ga banyak sih cuma 30ribu Dong atau sekitar 15ribu Rupiah.

Keliling mall dengan wedges ternyata cukup tidak menyenangkan bagi saya yang masih amatir dalam berpenampilan sebagai cewek ini. Jadilah saya bersama dua bodyguards menyerah untuk kembali ke Kappa store, toko yang pertama dimasuki, untuk akhirnya membeli sendal jepit disana. Menyerah karna ternyata Royal City itu mall yang tarafnya sama seperti Pavillion nya Bukit Bintang. Jadilah saya hampir membeli sendal cantik dari butik Prancis seharga 5juta Dong yang saya fikir cuma 500ribu Dong doang. Maklum, di Malaysia ga biasa liat angka 0 banyak. T,T. Karna, pencarian sendal saya yang terlalu lama itulah, akhirnya kami bertiga ga sempat makan es krim. Maaf ya Kuya, Akang. :3

itu air mancur dibawah tanah lohhhh!! #bodyguard1

itu air mancur dibawah tanah lohhhh!! #bodyguard1

dari belakang gw tamoak absurd... billabong+hijaab alila+hugoboss+batik jogja+carlo rino

dari belakang gw tamoak absurd… billabong+hijaab alila+hugoboss+batik jogja+carlo rino

#bodyguard2 +saya tampak kece

#bodyguard2 +saya tampak kece

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan pulang ke hotel, sangat buru-buru, apalagi kalau bukan karna bapak-bapak plus bayu nungguin kami bertiga yang sedang mencari sendal saya. karna sudah diburu waktu, harapannya sih, jalanan Hanoi akan ramah dan lancar jaya sampai hotel ya. Tapi ternyata tidak! Kita keluar Jakarta, ternyata ketemu Jakarta lagi di Hanoi, Jakarta versi  yang lebih parah sih. Arus lalu lintas padat, jalanan penuh motor dan kendaraan lain yang sangat ugal-ugalan banget! sangat ugal-ugalan banget maksud saya disini adalah, para pengendara yang berani melawan arus di jalanan besar saat rush hour pake motor dan helmet-nya ga SNI pula! Jadilah klakson saat jam pulang kantor itu hal yang biasa didengar. well, setiap lima menit kali ya, atau mungkin lebih sering. Kalau teman saya waktu itu pernah bilang ada orang Denmark yang kaget mendengar klakson di Jakarta, mungkin dia akan lebih kaget lagi kalau tinggal di Vietnam. Bandingkan saja di Denmark dia mendengarkan klakson 2 kali dalam satu bulan, di Vietnam dia mendengarnya hampir setiap saat.

Alhamdulillah banget sih, supir supir di Vietnam pada sabar sabar. Kalau di Jakarta mah, jalanan semacet itu akan dibarengi oleh macetnya kata-kata binatang di udara. Jika supirnya tenang, tidak untuk penumpang yang duduk paling depan di samping supir. Bayangin aja ya, lagi anteng-anteng ini taxi jalan. Tiba-tiba wuuuuuushhh ada motor sepeda (yes, sepeda elektrik) yang motong jalan di depan dari arah yang berbeda. Ih wow banget kan? Dan itu sering terjadi. Naik taksi di Vietnam aja udah kaya naik Kora-Kora di Dufan. Ga kebayang kalau harus mengendarai kendaraan sendiri. Well, apalagi di Vietnam ini mereka pake setir kiri loh!! Oia, jangan ditanya soal gimana caranya nyebrang di traffic gila itu. Saya sih, cuma mau nyebrang kalau ada temannya. :3 Alhamdulillah, hari itu kami sampai hotel dengan selamat dan saya masih bisa pakai kebaya dengan cantiknya. Kerudung saya di sponsori sama Hijaab Alila, trus make-up nya dari Wardah loh. #salahpokus.

itu baju mba MC itu yang kuning saya mau bangettt!!!

itu baju mba MC itu yang kuning saya mau bangettt!!!

Well, Gala Dinner berlangsung rapi dengan diakhiri pembagian cinderamata bagi para delegasi. Cindramatanya berat banget boww, lukisan keramik cantik. Setelah itu kami lalu pindah ke ruangan lain untuk bergabung bersama para volunteer acara dan peserta lain. Acara pemberian award ini berlangsung sangat formal dan disajikan dengan dua bahasa, Bahasa Inggris dan Bahasa Vietnam. Kami juga menerima kata sambutan dari Ketua National Youth Committee Vietnam, sebagai tuan rumah dan Ketua National Youth Committee Brunei Darussalam sebagai tuan rumah ASEAN Youth Day Meeting 2014. Tarian dan lagu-lagu khas Vietnam juga disuguhkan disela-sela pemberian award.

lesehan di panggung! with pinoy and laos girl :)

lesehan di panggung! with pinoy and laos girl 🙂

YouthCare Indonesia di Mata ASEAN

yeah!!!!!!!!!!!!

yeah!!!!!!!!!!!!

Tidak sedikit yang kagum dengan kiprah dan idealisme Youthcare yang baru berdiri dua tahun. Banyak yang menanyakan status independensi Youthcare terutama soal pendanaan mandiri yang Youthcare miliki. Banyak juga yang mengapreasiasi dan memberikan kepercayaan tentang visi YouthCare yang mendunia. Konsep Youth Care atau pemuda peduli juga banyak di amini oleh rekan-rekan di negara lain. Singapura bahkan sudah menjalankan program Youths Care dengan cuci mobil gratis  dengan seluruh uang di donasikan sepenuhnya untuk penderita disabilitas. Hal senada juga ada di Malaysia dan Filipina dengan konsep yang berbeda.

Karna itu, ketika saya meminta kerjasama untuk Youthcare menginspirasi ASEAN 2015, mereka menerimanya dengan tangan terbuka. Bismillah, Komunitas ASEAN 2015 insha Allah, Youthcare siap menginspirasi ASEAN 2015.

:)

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s