Losing Loss

Fourth prompt of Writing101 is about loss but I am resistance for loss! I lost a lot of things in my life, until at one point when I lose something I will just forget it.

Let me put you through list of things that I often lose.

  1. Key

People do that right? People lost key! Forget where they put it, leave it in somewhat counters, put it in the pocket and the key falls. That easy.

  1. Glasses

What is another reason to buy new glasses other than you lose it? Nothing! I just change the glasses if I lose it, I even never recognize that my sight getting worse till I got new glasses and everything looks so HD. Breaking glasses is so normal. You need to lose your glasses.

  1. Phone

Lost it since junior high school either by forget where to put it or by break it. Let me have a moment of silence to remember all the phone that I have lost. Sorry for lose you out of my sight dear Samsung and Nokia, sorry for break you dear Motorola, Siemens, Sony and iPhone.  My lives are so devastated without you all. #sorrynotsorry

  1. Money

You lost them too, I guess. But that’s what money are for.

  1. Time

Let us all blame internet for this, shall we?

  1. Opportunity

I really hate myself for this. I think the worse of losing things is when you lose an opportunity and I lose a lot of it. Seriously, I mean it.

  1. Ideas

I used to piss at myself, because I got so many brilliant idea that I never made it true. But now, I am still piss off.

  1. Faith

Men lose faith – men gain hope, men lose faith again-miracle happen – men believe again. That’s circle of life.

Allright, enough for the sarcasm. When I say I become resistance for loss, I mean it and those list are true, but the thing is I learn from my loss. I began to value and un-value things in the same time. I appreciate what I have more than before but when I lose it, I don’t get crazy about it. My wake up call was recent, it was last year when I put my iPhone on the oven, then I lose it after the battery was totally broken.  From that experience I know I will never ever lose things again. Even though, months later I let a baby break my laptop but it is not counted somehow.

But I still can’t change my negligence on number 5-8. Time, Opportunity, Idea and Money are really hard to keep. I think like It has something to do on myself being forgetful and un-focus. So, I will challenge myself to be discipline and focus for next week! I am really tired of losing things, so I make this plan for myself to accomplish. Let’s see how things gonna turn out this week. Can i balance my study life while being a good wife and keep on blogging and making poetry?

bibi 670

Advertisements

Kata dan Rasa

Entah pada kau

Atau pada hati kata hati yang kau punya

Entah pada kau

Atau sembari senyum yang menyapa

 

Aku mengurat rasa

Berjelaga dalam jiwa

Berupaya menata dan membereskan suka

Berkeras menahan rasa cinta

 

Bisakah kamu padaku sampai revolusi bersandar

Bolehkah aku padanya saat dunia baru memutar

Akankah kamu menghela saat kita bersama

 

Sudahlah,

 

Untuk segala bincang

Kamu yang ternyaman

.

18 dan Saya juga Perubahan

Image

starting over 18

Hampir 6 bulan sudah saya berumur 18 tahun. Setelah membaca tulisan di blog ini rasanya saya bisa menyimpulkan kalau harapan saya tentang diri saya tidak (belum) terwujud. Dan sepertinya bulan ini adalah saat akhir untuk menyelesaikan masalah dan saat awal untuk kembali membangun semua mimpi yang sudah terinjak-injak selama enam bulan. Insha Allah. Hah, sedih rasanya saat kamu merasa mantap akan segalanya tapi nyatanya kamu gak tau apa apa. Sebelum berumur 18, saat itu semangat masih membara untuk memburu kebaikan, terbang menuju cita-cita, dan berlari ke arah kebenaran. Merasa yakin sekali untuk menikah muda, merasa mantap sekali untuk menjadi penulis bahkan sampai harus pindah jurusan, merasa senang sekali bahwa saya punya kecerdasan di atas yang lain, merasa bahasa inggris saya sudah lumayan bagus, merasa saya sudah cukup mengerti tentang Islam dan dakwah. I was overconfident, I think. Mungkin saat itu, saya berfikir saya sudah cukup banyak membaca sehingga cukup ilmu untuk merangkai ideologi dan visi diri. Tapi nyatanya tidak.

Nyatanya, Saya ga akan bisa merangkai visi diri yang benar sebelum saya melihat dunia dan berbagi pengalaman dengannya. Saya dulu tinggal di ibukota provinsi yang tidak lebih maju dari kotamadya nya, memiliki orangtua yang lumayan konservatif, dan memilih teman yang homogen. Saat itu saya berfikir I’m great enough to do things. Dan memang I was great enough. Untuk zaman muda saya. Tapi saat Allah memilih Malaysia sebagai destinasi perkuliahan saya, kabut imajinasi di kaca hidup saya perlahan menghilang. Kenyataan tampak lebih jelas, merefleksikan nyata dunia beserta indah dan kejamnya. Dengan takdir jalur Malaysia, daftar mimpi-mimpi saya tercoret satu, dan tidak sampai situ jalur ini menjanjikan mimpi-mimpi lain untuk juga terwujud.

Proyeksi saya sampai pada paragraf akhir di halaman 7 buku For One More Day karya Mitch Albom, “All that happens when your dream comes true is a slow, melting realization that it wasn’t what you tought”. Kesannya sih seperti tidak bersyukur ya, mimpi sudah terwujud tapi masih saja merutuk. Karena sebenarnya pahitnya kenyataan setelah mengecap manisnya mimpi adalah karena kita terlalu mabuk berada di manisnya atmosfer mimpi. Saat itu, ada perasaan superior yang mucul, merasa cukup hebat dan cukup kuat hingga mimpi-mimpi lanjutan akan menyusul tanpa perlu bekerja sangat keras. Pahit sangat, itu yang saya rasakan sekarang. Susah memang bangun dari pelukan mimpi untuk memeluk mimpi yang lain.

Lima kali pindah tempat tinggal, empat lelaki yang berbeda, di tiga semester yang tak pernah sama, dengan dua jurusan yang berlainan, cukup bisa menjanjikan tidak akan ada lagi Ami yang sama. Bahkan untuk sebuah nama, Ami yang terdengar manja dan selalu ceria berganti menjadi Azmi. Siapa yang menyangka pertambahan satu huruf diantara nama saya, membuat saya lebih fierce untuk menanggapi kehidupan. Fierce, kata halus untuk ganas di otak saya. Keganasan yang menghidupkan, membuat saya lebih berani melakukan apa saja sebelum umur saya mencapai angka 2 di nominal puluhannya. Dan nantinya huruf Z ini juga yang akan membuat tegar hidup saya, menambah keprofesionalitasan saya, dan memanikan hidup, saya tentunya. Dewasa, dewaza. Masih soal nama yang berubah, another thing happen di nama belakang saya, walaupun belum terjadi dan masih ada kemungkinan tidak akan terjadi. Hoffmann, kata itu yang akan muncul di akhir nama saat saya menikahi lelaki German itu. Menambah semangat bagi diri saya, meyakinkan diri bahwa saya adalah hope-man (manusia yang di harapkan). Dan kembali sepertinya profesionalitas, persepsi, dan paradigm seorang saya di atas kertas akan lebih berubah. Itu perubahan terkecil di umur saya ini.

Penampilan adalah hal kedua dan mungkin terbesar yang terlihat di angka 18 ini. Tidak jauh berbeda sih, tapi tetap saja orang orang yang bersama saya di fase sebelumnya akan bertanya. Kenapa jilbab dan rok saya tidak selebar yang dulu? Kenapa sekarang pakai aksesoris dan ikat pinggang? Kenapa bibirnya terlihat basah dan ada garis dia atas mata, pipinya berwarna pink pulak, kenapa? Kenapa, Azmi? Haruskah saya menjawab. Mungkin tidak exactly menjawab pertanyaan itu, saya akaan menjawab begini. “I did fashion with faith, n now I do fashion with faith too, maybe you think my faith is changing, but for me it is developing, cause I am trying, and nothing wrong with this”.  Ah, mungkin pertanyaa barusan terlalu singkat, random dan tidak jelas, semoga saya bisa menjelaskannya suatu saat di post yang lain yaa.

Saya lebih memilih semua ketidakbiasaan ini sebagai adaptasi. Adaptasi untuk menyeimbangkan fisik, hati dan akal pada diri. Pada angka 18 ini semuanya tumbuh, termasuk circumstances. Dan bukan kah ketika lingkungan berubah, adaptasi adalah cara bertahan paling ampuh yang ada. “Boleh membaur asal jangan melebur” itu quote paling sering saya dengar dari homogenitas di heterogen kehidupan saya yang dulu. Dan tetap saya pertahankan itu. Ami masih ada dalam Azmi. Walaupun, satu mendominasi yang lain. Sebenarnya ada penjelasan lain soal ketidakbiasaan diri saya ini. Perubahan saya. Azmi yang berumur 18 tahun ini terlalu ingin tahu semuanya, rasa ingin coba coba saya juga lah yang membuat saya melakukan berbagai experiment setelah meyakinkan diri saya hal itu cukup rasional untuk dilakukan.

Image

wahai…

Saya hentikan post curhatan berisi 800 kata ini di paragraf ini. Semoga post ini pembuka, untuk post-post lain. Saya tidak bisa menjanjikan kalian akan melihat post yang bermanfaat. Karena saya tidak mau menjadi naïf, berpura pura berusaha untuk menginspirasi tapi sebenarnya tidak sama sekali. Ini azmi yang baru sekarang, kenalin ya. Semoga siih, di post-post selanjutnya kalian akan banyak mendapat cerita, saya pengen banget nulis soal perjalanan saya, music yang baru saya dapat di you tube, drama tv saya, kehidupan cinta saya, buku baru saya, barang baru saya. Ah random lah. Semoga kalian masih disana dan membaca.

Lagu untuk yang masih ingin bermimpi. Saya dan mungkin kamu.

80’s song. Covered by Glee in 2012. Crowded House. Dont Dream It’s Over.

Be fierce,

 

Azmi

Hampir Lupa dan Sedikit Ingat

Hampir lupa saya punya masalah
Padahal banyak yang sudah mengantri separuh lelah
Masalah itu saya campakkan
Sampai waktu yang sudah ditentukan

Sedikit ingat dengan huruf dan kata
Padahal itu adalah glimpse of cita-cita
Entah bahasa mana yang sudah termuntahkan
Tetap saja …..

Ah puisi garing denga 4 baris setiap bait
Bagaimana mungkin bisa menari
Ini aku yang terlalu kaku
Atau memang sang penari bukan pasangan puisiku

Aku amnesia karna bahagia
Indah bukan
Setidaknya lebih indah daripada
Bahagia karena amnesia
Sakit kok senang, Gila

Tapi mana yang lebih gila
Sepertinya bahagia yang menyebabkan sakit itu tidak sehat
Lalu,
Apakah bahagia itu penyakit?
Dan amnesia adalah obatnya?

Cerpen Pertama

Cerpen ini sejarahnya dibuat karna tugas.. Baru saja, menyadari bahwa saya sangat sedikit menulis.. di notes pun tidak sampai banyak kali.. saya jarangg sekali menulis.. padahal katanya Om Tere Liye saja kalau mau belajar menulis, ga usah repot repot minta saran, minta komen, dan hal-hal ga penting lainnya.. cukup kamu dan tulisan kamu selama 6 bulan pertama, bisa tidak kamu menulis seribu kata satu hari tak berhenti dalam 6 bulan itu!!!!

*wah sekarang jadi saya bukan gua lagi heheheh itu tandanya ami jadi sedikit lebih manis dari sebelumnya..

Kembali ke sejarah cerpen ini, cerpen ini dibuat atas dasar penokohan yang sangat melekat, hmmm bahkan dulu sampai sampai saat menulisnya pun nama tokoh mencuat.. ckckckckckc parah.. Dan sekarang, kembali lagi ami mengepost-nya karna setelah membaca tulisan ini ami belajar akan kesederhanaan tema, tapi dengan bumbu yang pas, dan hati yang ikhlas akan jadi sebuah tulisan yang *kata orang loh ya* menggetarkan hati. Sekarang ami makin percaya, “Tak hanya ucapan, tulisan pun jika ditulis melalui hati Insha Allah akan tersampaikan ke hati pula”

Dan inilah cerpen pertama saya..

“ Zi bangun sayang ada tamu !” kata Mama sambil menyentuh lembut dahinya.

Sentuhan lembut Mama membangunkan Zi dari tidur lelapnya. Semenjak tiga hari ini ia sakit. Demamnya tak kunujg sembuh setelah dia menghabiskan dua minggu penuh, untuk mempersiapkan aksi perdana organisasi barunya. Minggu malam setelah pulang dari aksi “ Ukhuwah Pelajar Muslim Samarinda”, suhu badan Zi naik drastis.

“ Siapa ma yang jengukin Zi? “ Tanya Zi keheranan. Seingatnya, semua teman – temannya mlai dari teman sekolah sampai teman dari berbagai organisasinya udah “nyetor muka” buat jenguk Zi.

“Bukan orang sini, akhwat*, sendirian lagi “ kata Mama dengan sok misterius

“ Hah ?? Masa’ sich ma? Siapa? Orang luar Kalimantan?? Masa’ temen Facebook Zu kesini ? Akhwat lagi? Siapa yach ? “

“ Namanya Ain katanya, liat aja sendiri !” kata Mama sambil tersenyum senyum lalu ngeloyor pergi.

“ Gag mungkin ah, Mama ni … “

Karena penasaran Zi lalu mempercepat langkahnya yang masih agak lemas, untuk mengenakan seragam lengkapnya, jilbab, baju, rok, dan kaus kaki. Yap, lengkap sudah. Tak lupa, HP NOKIA kesayangan dibawa serta. Kini, tinggal menemui seseorang misterius di luar sana.

***

“ Astaghfirullah !!!!!!!! “ anehnya hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Zi, ketika melihat sosok ikhwan itu.

“ Dek Azmi ??? “ ucap akhwat yang duduk di sebelah Eza, adik Zi

Zi tak bisa menahan air matanya, di depannya ada seseorang yang telah banyak mempengaruhi hidupnya beberapa bulan terakhir ini. Ainul Mardiyah, seorang yang sering memberikan taujihnya, yang sering bercerita tentang pengalamnnya, juga seorang teman Facebook dari Jakarta, yang kini sudah seperti kakak Zi sendiri, datang ke rumahnya!!

“ Kakak, kok bisa ? “ lagi lagi kata yang tak sewajarya terucap dari bibir Zi.

“ Bisa dong, kok nangis dek ? Kakak udah banyak plan yang mau di lakukan hari ini ! Tadi udah banyak cerita ama ibunya Zi, waktu Zi tidur. Jadi, kakak bakalan ngajak Zi sama Eza jalan hari ini. Kakak juga udah nyewa mobil buat jalan. Bisa kan dek? “ kata Kak Kusnan tanpa ragu.

“ Kok kakak nggak ada cerita sih ? “

“ Sudah cepetan siap – siap mau jalan yach dek… “ jawab Kak Kusnan dengan dengan senyuman

“ Na’am kakak !” kat Zi manyun, masih banyak pertanyyan dalam hatinya. Seolah tak mungkin, rasanya baru tadi malam dia mngirim SMS ke Kak ‘Ain yang ada di Jakarta, dan paginya … Masya Allah

***

Dengan memakai mobil sewaan yang disewa Kak ‘Ain, mereka bertiga berangkat. Di dalam mobil, Zi mencecar Kak ‘Ain dengan berbagai pertanyaan. Tetapi, Kak ‘Ain lebih banyak menjawab dengan senyuman. Hingga, Kak ‘Ain menanyakan arah untuk ke salah satu pasar besar di Samarinda. Zi memilih Pasar Pagi sebagai tempat untuk didatangi. Setelah itu, Kak ‘Ain lebih memilih berbicara dengan Eza.

Di Pasar Pagi, berbagai macam alat tulis, buku dan tas – tas sekolah di beli oleh Kak ‘Ain banyak makanan dipesannya, air mineral, dan kue – kue kering pun tak ketinggalan.

“ Kak, Zi tau kakak mau ngapain ?” kata Zi tiba-tiba saat mereka sedang memilih tas

“Oh y ? Bagus deh kalau gitu.. Berarti Zi pinter…. “ hanya itu Kak ‘Ain menjawabnya

Lalu, lagi – lagi senyuman teruntai di bibirnya, dan setelah itu Kak ‘Ain melanjutkan ceritanya bersama Eza. Sedikit rasa kesal di hati Zi, kenapa Kak ‘Ain bersikap seperti itu? Tapi, karena teralihkan oleh atmosfer sibuknya Pasar Pagi siang itu, Zi lupa tentang masalahnya.

***

Adzan Dzuhur berkumandang di tepan Sungai Mahakam, berbisik lembut di setiap telinga penduduk Samarinda untuk mengajak kepada satu pertemuaan indah bersama Rabb-Nya. Tak terkecuali bagi Zi dan yang lain. Beruntung barang – barang yang ada di AIN’s have to buy ( begitu Kak ‘Ain menyebut daftar belanjaannya) teah dibeli semua. Mereka bertiga lalu berjalan bersama ke Masjid Raya Darussalam yang terletak tak jauh dari Pasar Pagi.

Sisa – sisa cahaya barokah setelah sholat masih menempel di wajah lelah Kak ‘Ain yang datang menghampiri Zi. Lagi, tiba – tiba air mata mengalir di pipi Zi, meihat wajah Kak ‘Ain, seperti melihat seluruh hidup beliau yang lelah dan menyedihkan ditengah kekayaan. Kehilangan bundanya sejak masih kecil, beliau juga mengidap penyakit turunan yang kini sudah dalam tahap komplikasi menggerogoti tubuhnya. Tapi, melihat wajah Kak ‘Ain, juga mengingatkan Zi tentang kesabaran, kedermawanan, dan ketegaran. Senyuman tulusnya saat ia berbincang dengan Eza, persisi sperti senyuman di foto yang Zi lihat di Facebooknya; foto – foto Kak ‘Ain bersama anak anak asuhnya. Kak ‘Ain, kegigihan bisnisnya untuk amal dakwah, keuh kesahnya pada Zi akan sakitnya dan lelahnya ia. Astaghfirullahaladzhim….Tak henti istighfar di ucap Zi, semoga kekaguman ini tak berlebihan.

***
Kak ‘Ain mengajak Zi pergi ke lantai 2 Masjid Raya Darussalam. Subhanallah, disana sudah berbaris rapi kurang lebih 30 anak – anak kurang mampu, mungkin para anak jalanan. Entah bagaimana Kak ‘Ain bisa mengumpulkan mereka. Ketika melihat ke barisan depan adik Zi tersayang yang memimpin barisan. Dibantu 5 anggota IRMA Darussaam, acara sederahana itu berlangsung menyenangkan.

Acara diawali dengan makan bersama, games indoor, dan belajar bersama. Dalam hati Zi berdo’a, dia akan melakukan hal ini bersama teman –temannya lagi. Ada kebahagiaan tersembunyi yang anak – anak itu ajarkan. Entah mungkin tentang syukur ataupun qona’ah. Satu hal yang Zi tahu, sejak hari ini ia ingin terus menerus merasaakn kebahagiaan seperti itu lagi.
Hingga pada akhirnya azan Ashar berkumandang, seraya mengingatkan acara hari ini harus berakhir jua. Kak ‘Ain tersenyum dan menangis. Di sela isaknya satu kalmat yang paling Zi ingat adalah “… Terakhir, kk minta do’anya kepada adik – adik semua, besok umur kakak akan berkurang, kakak ulang tahun besok, jadi mohon do’a nya yang terbaik untuk kakak di hadapan Allah dan semoga kita berkumpul kembai surgaNYa. yah” lalu terdengar anak – anak memekik tulus penuh ikhlas

“ Amiiiieeen, Allahu Akbar !!!”

***
Sebeum tiba di rumah, Kak ‘Ain memberhentikan mobilnya di tepi Masjid Daarunni’mah. Angin tepian sungai menembus dinding masjid, di bawah jembatan layang kami bertiga menyantap es Dawet kami.

“ Kak, kakak kok ulang taunnya besok? Bukannya tanggal 24 ya baru ulang tahun ? IIih kakak bo’ong nih sama adek – adek tadi ! “ kata Zi bermaksud memecah suasana.

“ Liat aja besok, udah yuk pulang!”

Sesampainya di rumah, Mama bersikeras menahan Kak ‘Ain untuk tetap tinggal, sampai besok pagi. Entah kenapa? Tapi, Kak ‘Ain memilih sholat Maghrib di Islamic Centre Samarinda sendirian, seraya berjanji akan datang untuk sholat Isya berjamaah di rumah Zi.

***

“ Bhin, kenapa sich Kak ‘Ain jutek baged ama mb ?” kata Zi kepada adiknya Eza, yang kalau di rumah dipanggil Bindonk.

“ Mana Eza tahu, tapi mb’ Kak ‘Ain aneh, sering nangis. “ kata Eza yang masih duduk di kelas 4 SD itu degan polosnya.

“ Iya kah Za ?” kata Mama tiba – tiba datng menimpali.

“ KAk ‘Ain itu Bhin, punya banyak penyakit, udah parah semua, udah komplikasi. beliau itu gag bisa capek, bisa langsung lemes. Lagipula, ibu beliau udah meninggal sejak beliau masih kecil, di tambah lagi, meskipun usia beliau baru 23 tahun, Kak ‘Ain punya beberapa yayasan yang cukup besar di Jakarta Selatan, Kak ‘Ain juga businesswoman, makanya beliau punya banyak amanah yang dipertanggung jwabkan sama Allah.” jelas Zi panjang lebar

“ Subhanallah “ ucap Mama

“ Yuk, kita masak makan malam yang paling enak malam ini “

***
Sholat Isya ini, tak henti air mata Zi mengalir. Setiap takbir yang diucapkan Kak Pintari, terdengar begitu khusyuk, syahdu, dan memiliki kekuatan dahsyat. Do’a setelah sholat pun terasa begiru indah. Setelah menunggu Bapak dan Eza pulang dari masjid, kami tilawah* bersama.

Saat saling bermaafan, mbak ‘Ain memeluk Zi erat.

“Zi, adikku sayang karena Allah. Maafkan atas segala khilaf yah adikku , hari ini ku ingin membuatmu belajar tak kan ada ‘Ain lagi di inbox HPmu, facebookmu, tak kan ada ‘Ain lagi di duniamu, kini saatnya ‘Ain bertemu RabbMu,.Tapi, ‘Ain ingin mengajarkanmu tentang kebahagiaaan yang ‘Ain rasakan di dunia ini. Kebahagiaan yang akan melawan segala keburukan –keburukan dari syaithan. Zi, saudariku, semoga banyak pelajaran untukmu hari ini. Uhibbuki Fillah. Wassaamualikum Warohmatulah Wabarokatuh. Sampai bertemu di jannahNya, Insya Allah”

***

Belum sempat Zi berkata, bahkan belum sempat ia mengangkat kepalanya dari pundak Kak ‘Ain. Pelukan itu hilang, kini tak lagi ia di ruang tamu rumahnya, tapi walupun begitu Zi masih memakai mukena berenda yang sama, dia mendadak terbangaun dalam kamar pink-nya pukul 02.47 WITA.

“ Alhamdulillah, Cuma mimpi “ gumamnya dalam hati
“ Mimpi yang begitu nyata “

Dum, dum, dum, dum
“ Masya Alah, HP, HP dimana Hp ?”

Ada SMS,,,,,,

Assalamuaikum Warohmatullah,

Innalillahi wa innailaihi raji’un telah meninggal saudari kita tercinta Ainul Mardiyahi pukul 01.00 WIB pagi ini

Moga amal ibadahnya diterima di sisiNya,

From : Mb Puspa
Time : 02.55

“ KAK ‘Ain, I LOVE YOU TOO COZ ALLAH ”

#20 Februari 2010 sekitaran pukul 01.00 WITA#

Semoga manfaatImage 

 

Surat Cinta untuk MasaLalu

Karna ini surat cinta, aku awali dengan kata Dear ya…

Dear my past, Ini aku bagianmu yang mungkin sudah banyak berubah. Aku sudah banyak melangkah, coba lihat berat badanku yang bertambahhhhh. *Please, jangan ketawa *_*. Etapi, senyumku masih sama loh bibir atas dilipat kedalam, lalu bibir bawahnya melebar. Jadinya ya ak masih lumayan manislah, tapi jujur kamu masih lebih manis daripada aku yg sekarang. Nahkan, aku g pede lagi. :P. Gpp lah, namanya juga remaja, biar aja labil. Hehehehhehe.

Dear my brilliant past, Jangan sedih ya kalau kamu lihat aku sekarang. Mungkin aku belum banyak belajar. Tapi percaya deh, aku akan berubah menjadi lebih baikkkk. Karna aku terus berusahhhaaa sekuatttth yang aku bisa. Jangan marah kalau mimpi-mimpi kita belum banyak yang bisa terwujud, eh tapi sekarang Aku udah kuliah d luar negri, INI MIMPI KITA LOH! Aku juga udah bikin blog yang postingannya lebih dari lima :):) Aku g seburuk yang dulu kita pikirkan untuk seburuk buruknya masa depan kok 🙂 Hehehehehe ….

Dear my amazing past, Apa yang kamu lakukan disana? Aku kangen kita yang duluuu. Tapi kenapa kamu memaksa aku melihat kedepan, padahal lebih nikmat rasanya hidup sama kamu! Kenapa kamu harus suruh aku move on, padahal kan bermain dan bermimpi sama kamu lebih nyaman daripada harus berusaha seperti sekarang. UH! Itu pasti kamu kan yang selalu ngingetin aku, untuk g boleh berlamalama menghirup masa lalu. Itu pasti kamu! Yang berdenting setiap aku ingin mengulangi kesalahan yang sama! J

Dear my outstanding past

Makasih ya, karena keberadaanmu aku masih ada. Bertahan dan Belajar.

Makasih karena masih ada bersamaku, walau bukan seperti dulu

Makasih jangan pergi ya masalaluku.

 

Ini surat cinta buat kamu. Isinya singkat padat dan kurangjelas seperti kamu. ({}) .

Surat ini buatkamu yang paling sangat mengerti aku

make a blog = force my self to write more

MENULIS!!!!!

sesuatu yang aku sudah bisa sejak dulu

but, i want more, bukan sekedar status facebook, bukan cuma 140 kata dalam twiiter, dan bahkan -setelah berfikir keras- i prefer use a blog-site than a tumblr. itu karna aku ingin sekali meningkatkan kemampuan penulisanku. setelah menelaah diri beberapa bulan terakhir ini, aku menemukan diriku cemburu sekaligus jatuh hati dengan sekitarku yang bisa merangkai kata dengan baik.

Entah cerita, puisi, atau apa, yang jelas i just have feeling they do so damn well in writing. And i cant. But then, i think nobody cant do anything, and i just have to force my self to keep writing.!!!

MENULIS!!!!!!!

sesuatu yang sangat bermanfaat

kenapa bisa sangat jatuh cinta sama menulis???? – i always ask that to my self-

karna menulis adalah hal yang paling mudah untuk menjadi seseorang yang bermanfaat -my answer to my self-

contohnya -again i ask, even i already know the answer-

R.A Kartini vs Keumalahayati ; dua nama yg bikin mendesir -setelah ingat dua nama itu aku cukup tau tntg diriku-

 

MENULIS!!!!!!!!!!!!!!!!

ga mau tau tulisannya jelek atau bagus tapi niatku, tekadku adalah memberi manfaat dalam tulisanku.

Bismillahirrahmirrahim

i make my blog-semoga istiqomah ya Allah-untuk memaksa diriku menulis sesuatu -semoga manfaat