Terkejar dengan Terbata

Satu saat
Aku kesal
Ambisi terlalu membakar
Cinta lalu jauh tertinggal
Lebur ditengah padang damar

Disatu yang lain
Khilaf aku bersalah
Menjunjung ragam lingkar besar atas rasa
Memaksa gravitasi menjatuhkan segala cita dengan tidak sengaja

Kini waktu mengejar
Dan sebelumnya sudah menampar
Merobek mata hati dalam gelapnya rimba yang terputar-putar
Renta ia berbisik “harusnya kamu lewat sini, nak!”

***

Satu nanti,
Ingin ku dapati
Daun warna-warni
Yang terlukis dalam exagrasi ledakan diri

Advertisements

Butir Afeksi

Selalunya…

Afeksi adalah paras mengagumkan dari sebuah emosi

Mozaik chemistry yang dihadirkannya

Menjadi relung bagi setiap hati

Menjejas tapak yang dalam

Dalam hegemoni rasa yang panjang

Adanya,

Cabang muara labuhan afeksi

Menyamarkan bahagia dalam redup ambiguitas

Ia terkadang menyakiti dan tersakiti

Tak peduli jutaan cinta pada setiap atensi

Tidak ada kata paksa disini

Sebab-akibat afeksi adalah gamang untuk dibakukan

Hanya ikhlas yang mengitari

Ikhlas yang membatasi

Antara nafsu egoisme diri

Atau memang benar-benar peduli

Atmosfer Kereta Petang Tadi

Di antara kereta laju

Dan toko-toko berkerlipan

Nada-nada sumbang nan damai

Berserakan tentang cinta

 

Entah, apakah langkah kaki

Ataukah deruman gontai lengan manusia

Rindu bergemerlap hingga

Kaki langit tersentak

 

Langitku, langitmu, langitnya

Ratapan kosong langit kereta

Tatapan sinis mentari sana

Gelap nanar bantal di atas muka

 

10 Menit dan lampu kota menyerlah

Aku melihat ujung bibirnya

Di ujung senja cahaya lampu

Aku rindu kalimat indah yang dia hadirkan

 

15 Menit dan lantai kereta masih dingin

Aku terpaku sekaligus membiru

Terbenam dalam salah

Akan rindu bahumu

 

Bisakah kamu dan dia menyatu

Dan temani dalam sepi keretaku?

Persoalan Waktu

Waktu hadapkan

Bahagia kan ada

Rindu kan ada

Perlu kan ada

 

Sejenak harapkan

Hadirnya dia

Temankan kamu

Menjeda luka

 

Rima hempaskan

Dia dalam bimbangku

Kamu dalam hegemoni hidupmu

Menggegas cerita baru

 

Alenia baru ini

Hempaskan dilema sadis

Kita – Kami

Aku, Kamu – Dia, Kami

 

Waktu tunjukkan

Bahagia kan ada, lalu sirna, lalu ada

Rindu kan ada, lalu sirna, lalu ada

Perlu kan ada, ada dan terus ada

How Can I Stop Loving You?

Tika katamu ketikkan syahdu rindu

Saat lengkung bibirmu berikan letupan merah jambu

Bahagiaku

Hanya ada dalam dekatku

 

Kala itu senja nanar sinarnya padamu

Menjedakan waktu

Memberikan jarak

Kamu – Aku

 

Tika resonansi nada suaramu perlahan terdengar

Bahagiaku

Dalam lentingan tak biasamu

Untuk nada tak berdasar olehmu

 

Kala itu rima kita tidak menyatu

Gerak lelahmu

Memberikan jarak

Kamu – Aku

 

Tika pelukku dan pelukmu

Terbaring dalam canda

Terbaring dalam balas

Aku pasrah pada angin yang menghempaskan baumu

 

Kala,

berucap sudah padaku

Kamu,

memberikan jarak

Aku,

tidak tahu bagaimana berhenti

Menyukai,

suara, kata dan baumu

Di Hadapan Langit Menara

Jika cerita adalah sajak

Maka rimanya membuncah semerbak

Jika tawa adalah udara

Maka simpulnya menebar kekal

 

Jika warna bercerita

Gradasinya adalah alunan nada

Tersirat, terteriakkan, terbantahkan

 

Jika, jika taman ini berusia

Maka dia fana

Lebur antara kerjapan mata

Antara gumam, marah dan lelah

 

Nyata,

Di hadapan langit menara

Sang taman hanya umpama

Lebur, saat yang berjalan, mendongak

Tsunami dan Tikus

 

Dear kamu,

Bisakah sekali ini kamu
Dengarkan arus peradaban
Kalau perlu lompat saja
Ikut arus
Toh kamu juga
Bagian dari situ

Rasakan pahitnya debu permukaan
Juga muaknya air kecoklatan
Ah, kamu
Tenggelamkan dirimu lebih dalam
Hirup sana bau lelah di belantara deras

Sudah, tak sanggup?
Aku baru saja ingin menarikmu lebih dasar.
Memandikanmu dalam lumpur duka
Kalau bisa menenggelamkan kamu disana.
Biar seluruh indra kau dengar
Semua gejolak dari dasar

Tapi kau kan gendut pengecut
Yang tersenyum ketakutan
Di pinggir tebing
Bersama Tikus-tikus gendut

Dear kamu,

Peradaban ini menunggu
Peradaban ini berusaha menghasilkan
Tsunami besar
Yang akan kacaukan kerajaanmu
Kerajaan para tikus

PS: ini lagi kesel soal BBM –.–

Be Fierce,

Azmi